<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>News &amp; Update - Periklindo</title>
	<atom:link href="https://periklindo.com/category/news-update/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://periklindo.com</link>
	<description>Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Feb 2026 08:26:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://sgp1.digitaloceanspaces.com/periklindo/2021/11/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>News &amp; Update - Periklindo</title>
	<link>https://periklindo.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>RAMADAN DAN KENDARAAN LISTRIK, KETIKA SPIRITUALITAS BERTEMU EFISIENSI</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 04:42:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11551</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sekilas, Ramadan dan kendaraan listrik terasa seperti dua dunia yang tidak punya hubungan. Satu berbicara tentang iman, refleksi, dan pengendalian diri. Yang lain tentang teknologi, baterai, dan efisiensi energi.  Tapi kalau ditarik lebih dalam, keduanya justru bertemu di titik yang sama, yaitu kesadaran terhadap energi, bagaimana kita menggunakannya, dan bagaimana kita belajar menahan diri di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/">RAMADAN DAN KENDARAAN LISTRIK, KETIKA SPIRITUALITAS BERTEMU EFISIENSI</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Sekilas, Ramadan dan kendaraan listrik terasa seperti dua dunia yang tidak punya hubungan. Satu berbicara tentang iman, refleksi, dan pengendalian diri. Yang lain tentang teknologi, baterai, dan efisiensi energi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi kalau ditarik lebih dalam, keduanya justru bertemu di titik yang sama, yaitu kesadaran terhadap energi, bagaimana kita menggunakannya, dan bagaimana kita belajar menahan diri di tengah dunia yang selalu mendorong kita untuk lebih cepat, lebih keras, dan lebih konsumtif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ramadan membawa perubahan ritme yang terasa nyata di Indonesia. Suasana menjadi sedikit lebih tenang, emosi lebih dijaga, dan orang-orang mencoba menurunkan tempo hidupnya. Ada latihan kolektif untuk tidak reaktif. Tidak semua dorongan harus diikuti. Tidak semua keinginan harus dipenuhi sekarang juga. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di situ puasa selain ritual fisik, ibadah ini mengajarkan proses pembentukan karakter. Dan menariknya, filosofi ini punya kemiripan dengan karakter kendaraan listrik yang tenang, efisien, dan tidak bergantung pada kebisingan untuk menunjukkan kekuatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam perspektif agama Abrahamik, kita melihat ada nuansa yang sangat familiar dalam praktik puasa ini. Tradisi puasa dalam setiap agama tidak selalu seragam dan sering kali bergantung pada bagaimana seseorang menjalani iman secara pribadi. Ada yang ketat, ada yang santai, ada yang lebih reflektif. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun esensinya tetap sama. Melatih pengendalian diri, merapikan hati, dan belajar menggunakan energi hidup secara bijak. Dari perspektif ini, Ramadan menjadi inspirasi lintas iman tentang bagaimana manusia membangun karakter melalui disiplin yang hening.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik, dalam cara yang unik, merepresentasikan filosofi yang serupa. Ia tidak meraung-raung seperti mesin konvensional, tidak menuntut perhatian lewat suara keras, tetapi bekerja dengan efisiensi yang diam-diam kuat. Mengemudi EV terasa lebih mindful. Akselerasi bersih, pergerakan halus, dan energi digunakan dengan perhitungan. Bahkan konsep regenerative braking seolah menjadi metafora kehidupan. Metafora ketika kita melambat, energi tidak hilang begitu saja, melainkan dikumpulkan kembali untuk perjalanan berikutnya. Dalam dunia yang terbiasa memuja agresivitas, EV menawarkan cara baru yang lebih tenang namun tetap efektif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ramadan mengajak manusia menahan diri dari konsumsi berlebihan. EV juga lahir dari kesadaran bahwa energi planet tidak bisa terus dipakai tanpa refleksi. Ada kesamaan spirit di sana. Puasa menjadi eco-mode bagi jiwa manusia. Kendaraan listrik menjadi eco-mode bagi mobilitas modern. Keduanya mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu identik dengan kebisingan atau kecepatan tanpa arah. Kadang justru ketenangan, konsistensi, dan kesadaran yang membuat perjalanan menjadi lebih bermakna.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Indonesia, di mana keberagaman iman hidup berdampingan setiap hari, momen Ramadan bisa menjadi pengingat bahwa spiritualitas dan kemajuan teknologi tidak harus berjalan terpisah. Justru keduanya bisa saling memperkaya cara kita memahami dunia. Melihat saudara-saudara Muslim menjalani ibadah puasa, ada inspirasi yang kuat tentang disiplin dan kedamaian. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan ketika filosofi itu disandingkan dengan karakter kendaraan listrik yang tenang dan efisien, muncul gambaran menarik tentang masa depan. Manusia yang bergerak maju, tetapi dengan hati yang lebih hening dan energi yang digunakan dengan lebih bijak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Periklindo mengucapkan selamat memasuki bulan Ramadan bagi saudara-saudara Muslim di Indonesia. Semoga perjalanan menahan diri ini membawa kedamaian, kejernihan hati, dan kekuatan baru hingga tiba hari kemenangan di Idul Fitri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/">RAMADAN DAN KENDARAAN LISTRIK, KETIKA SPIRITUALITAS BERTEMU EFISIENSI</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BEV sebagai Strategi Governance</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 04:36:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11548</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengelola Risiko Logistik di Era Transisi Energi Diskusi mengenai kendaraan listrik sering berfokus pada teknologi atau isu lingkungan. Dalam praktik tata kelola perusahaan, terutama pada sektor logistik, perubahan menuju BEV memiliki makna yang lebih luas. Migrasi armada menjadi bagian dari strategi governance yang berkaitan dengan pengelolaan risiko operasional dan kesiapan menghadapi perubahan regulasi. Istilah governance [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/">BEV sebagai Strategi Governance</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><i>Mengelola Risiko Logistik di Era Transisi Energi</i></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diskusi mengenai <strong>kendaraan</strong> listrik sering berfokus pada <strong>teknologi</strong> atau isu lingkungan. Dalam praktik tata kelola perusahaan, terutama pada sektor logistik, perubahan menuju BEV memiliki makna yang lebih luas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Migrasi armada menjadi bagian dari strategi governance yang berkaitan dengan pengelolaan risiko operasional dan kesiapan menghadapi perubahan regulasi. Istilah governance dalam konteks ESG merujuk pada bagaimana perusahaan mengambil keputusan secara transparan, terukur, dan mampu menjaga keberlanjutan bisnis melalui manajemen risiko yang baik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Indonesia, integrasi aspek ESG dalam tata kelola juga semakin didorong oleh regulator, termasuk melalui Peraturan OJK terkait penerapan keuangan berkelanjutan yang mendorong perusahaan menyusun laporan keberlanjutan dan transparansi risiko lingkungan serta sosial.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kebijakan energi global bergerak menuju pengurangan emisi secara bertahap. Indonesia juga mendorong transisi energi melalui berbagai program kendaraan listrik serta pengembangan infrastruktur pendukung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% secara mandiri pada tahun 2030 sesuai Enhanced NDC (Nationally Determined Contribution), dengan sektor energi dan transportasi menjadi kontributor utama dalam upaya tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Transisi energi berarti pergeseran dari penggunaan energi berbasis bahan bakar fosil menuju sumber energi yang lebih efisien dan rendah emisi, termasuk elektrifikasi transportasi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perusahaan logistik yang mulai beradaptasi lebih awal memiliki ruang lebih luas untuk merencanakan investasi jangka panjang dan menghindari tekanan biaya akibat perubahan kebijakan di masa depan. Kementerian Keuangan telah mulai menerapkan mekanisme harga karbon di Indonesia, termasuk pajak karbon yang dirancang sebagai instrumen ekonomi untuk mendorong pengurangan emisi secara bertahap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Struktur biaya kendaraan listrik memberikan karakteristik berbeda dibanding kendaraan berbahan bakar fosil. Komponen mekanis lebih sederhana sehingga kebutuhan perawatan cenderung lebih rendah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai gambaran, kendaraan listrik tidak memiliki banyak komponen seperti sistem pembakaran, transmisi kompleks, atau sistem pembuangan, sehingga potensi perawatan rutin menjadi lebih ringan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Analisis International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa biaya perawatan kendaraan listrik dapat lebih rendah hingga sekitar 20–40% dibanding kendaraan mesin pembakaran internal karena jumlah komponen bergerak yang lebih sedikit. Hal ini membantu perusahaan membangun proyeksi biaya operasional yang lebih stabil.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Stabilitas ini menjadi faktor penting dalam tata kelola karena memudahkan perencanaan anggaran dan manajemen risiko finansial.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Digitalisasi juga memainkan peran besar dalam integrasi ESG. Kendaraan listrik memungkinkan pencatatan data penggunaan energi secara real-time melalui sistem telematika.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Telematika adalah sistem digital yang menggabungkan sensor kendaraan, konektivitas internet, dan software monitoring untuk mencatat performa kendaraan, konsumsi energi, serta pola operasional secara otomatis. Kemampuan monitoring digital ini mendukung kebutuhan pelaporan ESG berbasis data, yang semakin menjadi standar global bagi investor institusional dan lembaga pembiayaan internasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Data tersebut dapat langsung diintegrasikan ke dalam laporan keberlanjutan yang semakin dibutuhkan oleh investor dan regulator. Transparansi berbasis data menjadi indikator penting dalam penilaian governance modern.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain faktor internal, tekanan juga datang dari rantai pasok global. Banyak perusahaan internasional mulai memilih mitra logistik yang mampu menunjukkan standar keberlanjutan yang jelas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">World Bank dan IEA mencatat bahwa standar ESG semakin menjadi bagian dari persyaratan rantai pasok global, termasuk pelaporan emisi dan efisiensi energi sebagai indikator keberlanjutan operasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Standar ini biasanya terkait dengan laporan emisi, efisiensi energi, serta komitmen terhadap target ESG yang menjadi bagian dari persyaratan kerja sama internasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Armada listrik menjadi indikator kesiapan dalam mengikuti perubahan tersebut. Perusahaan yang mampu beradaptasi menunjukkan kemampuan manajemen dalam membaca arah industri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam konteks governance, migrasi menuju BEV dapat dilihat sebagai langkah preventif. Transformasi armada membantu perusahaan menjaga fleksibilitas operasional ketika regulasi berubah, sekaligus memperkuat reputasi di mata publik dan investor.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perubahan ini menunjukkan bahwa governance bukan sekadar kepatuhan administratif melainkan berkaitan dengan kemampuan perusahaan melihat tren energi dan menyesuaikan operasional sebelum tekanan eksternal menjadi bantuan yang terlambat.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Sumber Referensi Resmi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.ojk.go.id/id/regulasi/Pages/POJK-51-POJK.03-2017.aspx</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://unfccc.int/sites/default/files/NDC/2022-09/Indonesia%20Enhanced%20NDC.pdf</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://fiskal.kemenkeu.go.id/kajian/2021/10/28/172203196121811-kebijakan-harga-karbon-di-indonesia</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.iea.org/reports/global-ev-outlook</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.worldbank.org/en/topic/climatechange</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/">BEV sebagai Strategi Governance</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BEV dalam Transformasi Logistik</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 04:27:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11545</guid>

					<description><![CDATA[<p>ESG sebagai Keputusan Operasional yang Rasional Perubahan menuju kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) mulai terlihat sebagai bagian dari strategi operasional di sektor logistik. Diskusi tentang ESG sering dianggap abstrak, padahal dampaknya langsung terasa pada keputusan teknis sehari-hari, terutama pada jenis armada yang digunakan.  ESG sendiri merujuk pada tiga aspek utama dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/">BEV dalam Transformasi Logistik</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b><i>ESG sebagai Keputusan Operasional yang Rasional</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perubahan menuju kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) mulai terlihat sebagai bagian dari strategi operasional di sektor logistik. Diskusi tentang ESG sering dianggap abstrak, padahal dampaknya langsung terasa pada keputusan teknis sehari-hari, terutama pada jenis armada yang digunakan.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">ESG sendiri merujuk pada tiga aspek utama dalam menilai keberlanjutan perusahaan, yaitu Environmental (dampak lingkungan), Social (dampak sosial terhadap manusia), dan Governance (tata kelola perusahaan yang transparan dan bertanggung jawab).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tekanan terhadap pengurangan emisi semakin nyata. Pemerintah Indonesia telah memasukkan target </span><i><span style="font-weight: 400;">net zero emission </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam agenda pembangunan nasional, sehingga sektor transportasi menjadi salah satu fokus utama dalam transisi energi. </span></p>
<p><b>Indonesia menargetkan Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat, sebagaimana disampaikan dalam dokumen perencanaan nasional dan strategi jangka panjang pembangunan rendah karbon.</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Net zero emission</span></i><span style="font-weight: 400;"> berarti kondisi di mana jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan seimbang dengan jumlah emisi yang dikurangi atau diserap kembali, sehingga total dampak terhadap iklim mendekati nol.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aktivitas logistik memiliki kontribusi signifikan terhadap penggunaan energi karena melibatkan distribusi barang secara terus menerus dengan armada dalam jumlah besar. </span></p>
<p><b>Menurut International Energy Agency (IEA), sektor transportasi menyumbang sekitar 24% emisi CO₂ dari pembakaran energi secara global, dan kendaraan berat logistik menjadi salah satu kontributor utama dalam kategori tersebut.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap perubahan pada kendaraan operasional memberikan dampak langsung terhadap jejak karbon perusahaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik menghadirkan pendekatan yang lebih sederhana dalam memahami efisiensi energi. Motor listrik mampu mengubah sebagian besar energi menjadi gerakan kendaraan. </span></p>
<p><b>Efisiensi motor listrik dapat mencapai sekitar 85–90%, sementara mesin pembakaran internal umumnya berada pada kisaran 20–30% karena sebagian besar energi hilang sebagai panas.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini membuat penggunaan energi menjadi lebih efisien dibanding sistem pembakaran konvensional yang menghasilkan banyak energi panas. Dalam konteks logistik, efisiensi ini memengaruhi biaya operasional serta intensitas emisi per kilometer perjalanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain efisiensi energi, dampak lokal juga menjadi faktor penting. Armada distribusi sering melewati kawasan padat penduduk, termasuk jalur perkotaan dan area permukiman. Kendaraan listrik beroperasi dengan tingkat kebisingan lebih rendah dan tanpa emisi knalpot langsung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Polusi udara dari transportasi jalan raya diketahui berkontribusi terhadap emisi NOx dan partikulat yang memengaruhi kualitas udara perkotaan, sehingga elektrifikasi armada menjadi salah satu strategi mitigasi yang didorong banyak pemerintah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari perspektif ESG, pilar environmental berarti fokus pada bagaimana aktivitas perusahaan mempengaruhi lingkungan, termasuk penggunaan energi, emisi karbon, dan pengelolaan sumber daya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintah Indonesia juga mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik melalui kebijakan pengembangan ekosistem industri dan infrastruktur pengisian daya. </span><b>Pemerintah menargetkan jutaan unit kendaraan listrik beroperasi pada tahun 2030 sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi dan penguatan industri kendaraan listrik nasional.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Model bisnis terkait baterai juga berkembang seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik. Pendekatan seperti </span><i><span style="font-weight: 400;">battery-as-a-service</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan aset, sekaligus membuka peluang pemanfaatan baterai pada tahap kedua seperti penyimpanan energi statis. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konsep ini memungkinkan perusahaan menggunakan baterai tanpa harus memilikinya secara penuh, sementara penyedia layanan bertanggung jawab atas perawatan, penggantian, dan siklus daur ulang. Hal ini mendukung konsep ekonomi sirkular yang semakin relevan dalam standar ESG.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain aspek lingkungan, perubahan menuju BEV juga memengaruhi hubungan perusahaan dengan publik. Konsumen semakin memperhatikan proses distribusi yang digunakan oleh layanan logistik. Armada listrik memberikan sinyal yang mudah terlihat bahwa perusahaan melakukan transformasi nyata dalam operasionalnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Transisi menuju kendaraan listrik menunjukkan bahwa ESG semakin dekat dengan realitas operasional. Perusahaan logistik yang memahami perubahan ini dapat mengintegrasikan efisiensi energi, tanggung jawab lingkungan, dan strategi bisnis dalam satu keputusan teknis.</span></p>
<p><b>Sumber Referensi Resmi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.esdm.go.d/id/media-center/arsip-berita/strategi-percepatan-pemanfaatan-kendaraan-listrik-di-indonesia-</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://esdm.go.id/en/media-center/news-archives/ini-target-pemerintah-untuk-populasi-kendaraan-listrik-di-tahun-2030</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pengembangan-ekosistem-kblbb-dorong-masuknya-investasi-kendaraan-listrik</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.bappenas.go.id/berita/bappenas-pertamina-dukung-komitmen-net-zero-emission-sejalan-dengan-visi-indonesia-emas-2045-OFEtp</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/">BEV dalam Transformasi Logistik</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Paradigm Shift Kendaraan Listrik dan Pola Pikir Revolusi Industri</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2026 04:33:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11518</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap kali EV dibahas, percakapan hampir selalu kusut di perdebatan yang sama. Charging lama, colokan terbatas, jarak tempuh terasa kurang alias range anxiety. Diskusi berputar pada aspek teknis, seolah inti persoalan berada pada mesin dan baterai.  Padahal perubahan terbesar yang sedang terjadi justru berada pada cara manusia memahami energi dan mobilitas. EV ini berkembang sangat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/">Paradigm Shift Kendaraan Listrik dan Pola Pikir Revolusi Industri</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Setiap kali EV dibahas, percakapan hampir selalu kusut di perdebatan yang sama. Charging lama, colokan terbatas, jarak tempuh terasa kurang alias range anxiety. Diskusi berputar pada aspek teknis, seolah inti persoalan berada pada mesin dan baterai. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal perubahan terbesar yang sedang terjadi justru berada pada cara manusia memahami energi dan mobilitas. EV ini berkembang sangat pesat baru di abad 20, meski secara fun fact, sudah sempat diperkenalkan di tahun 1830-an loh di Eropa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terlepas dari itu, fakta sejarah menunjukkan bahwa kendaraan mesin berbahan bakar minyak, memang merajai pasar sampai akhir tahun 2020, mulai bergeser ke EV. Saat ini, banyak orang masih membawa pola pikir lama yang terbentuk dari pengalaman panjang dengan kendaraan berbahan bakar minyak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">paradigm shift</span></i><span style="font-weight: 400;"> berasal dari pemikiran Thomas Kuhn, seorang filsuf sains asal Amerika yang memperkenalkan gagasan ini melalui bukunya The Structure of Scientific Revolutions. Kuhn mengatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak berjalan linear sesuai kaidah sebab-akibat. Pengetahuan seseorang berubah melalui fase perubahan besar ketika cara lama memahami dunia tidak lagi mampu menjawab realitas baru. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Paradigma lama biasanya bertahan lama karena terasa stabil dan familiar, hingga suatu titik ketika anomali semakin banyak muncul dan memaksa perubahan kerangka berpikir. Pergeseran ini sering menimbulkan penolakan, baik secara halus maupun secara kasar, karena manusia cenderung mempertahankan status quo dari pemikiran dan kebiasaan budaya mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konsep tersebut terasa relevan ketika melihat bagaimana kendaraan listrik diterima hari ini. Selama puluhan tahun, kendaraan identik dengan refill fuel. Energi dituang saat hampir habis, prosesnya cepat, lalu perjalanan dilanjutkan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Fully fueled.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kebiasaan ini membentuk ekspektasi yang kuat tentang bagaimana kendaraan seharusnya bekerja. Ketika kendaraan listrik datang dengan konsep recharge, muncul benturan yang sebenarnya bersifat psikologis. </span><i><span style="font-weight: 400;">Charging </span></i><span style="font-weight: 400;">terasa lambat karena dibandingkan dengan pengalaman yang bekerja dengan logika berbeda sejak awal. </span><i><span style="font-weight: 400;">Fully recharged.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Paradigma baru melihat energi sebagai sesuatu yang dikelola secara berkelanjutan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Charging </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak lagi menjadi aktivitas darurat yang dilakukan ketika indikator menyala merah. Ia menjadi bagian dari ritme harian yang menyatu dengan aktivitas lain. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">EV mengajak pengguna mengubah kebiasaan, dari menunggu energi habis menuju menjaga energi tetap stabil sepanjang waktu. Pergeseran ini terlihat sederhana, namun mengubah cara merasakan perjalanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak pengguna baru mencoba mencari pengalaman yang identik dengan pom bensin. Mereka datang ke </span><i><span style="font-weight: 400;">charging station</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan harapan datang, isi, lalu pergi secepat mungkin. Ketika prosesnya membutuhkan waktu lebih lama seperti pengisian minimal 1 jam, antrean dan lain sebagainya, kesan pertama yang muncul adalah bahwa teknologi ini merepotkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">EV punya paradigma yang berbeda. </span><i><span style="font-weight: 400;">Slow charging </span></i><span style="font-weight: 400;">di rumah atau saat parkir lama menjadi pembentuk pengalaman, sementara </span><i><span style="font-weight: 400;">fast charging </span></i><span style="font-weight: 400;">berperan sebagai pelengkap perjalanan. </span><span style="font-weight: 400;">Perubahan paradigma juga menyentuh cara memahami produktivitas. Selama ini, efisiensi sering diasosiasikan dengan kecepatan. Ada jeda yang muncul secara alami, dan jeda ini membuka kesempatan untuk aktivitas lain tanpa mengganggu perjalanan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak pengguna mulai melihat waktu dengan cara berbeda, lebih terencana dan yang penting, lebih sadar terhadap energi yang digunakan. Karena dengan mengisi minyak, sering kali kita </span><i><span style="font-weight: 400;">take it for granted</span></i><span style="font-weight: 400;"> terhadap energi yang diperoleh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Narasi tentang listrik nasional juga sering terjebak dalam paradigma lama. Kekhawatiran bahwa EV akan menguras pasokan listrik muncul berulang kali, seolah setiap kendaraan tambahan menjadi ancaman bagi sistem energi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Realitasnya lebih kompleks. Indonesia memiliki kapasitas produksi listrik yang besar dengan kondisi surplus di banyak periode. Tantangan utama berada pada manajemen penggunaan dan distribusi, bukan pada asumsi bahwa energi akan segera habis. Pergeseran paradigma diperlukan agar listrik dipahami sebagai sistem dinamis yang dapat dioptimalkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal menarik lain dari EV adalah meningkatnya kesadaran terhadap energi. Pengguna mulai memperhatikan konsumsi kWh, gaya berkendara (eco, normal, sport), serta efisiensi perjalanan secara lebih detail. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Energi yang sebelumnya terasa abstrak kini menjadi sesuatu yang nyata dan terukur dalam kehidupan sehari-hari. Mobilitas berubah dari sekadar menggerakkan kendaraan menjadi pengalaman memahami bagaimana energi bekerja.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Paradigm shift</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak terjadi dalam satu malam. Jalannya tidak gegabah, bahkan sering kali tanpa disadari. EV saat ini berada pada fase di mana teknologi sudah melangkah maju, sementara cara berpikir publik masih berusaha mengejar. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diskusi yang terus berputar pada kekurangan teknis sering kali hanya menjadi refleksi dari paradigma lama yang belum sepenuhnya bergeser. Ketika cara berpikir berubah, pengalaman terhadap kendaraan listrik ikut berubah, dan mobilitas memasuki fase baru yang lebih sadar energi dan lebih terencana.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Periklindo hadir untuk mendampingi dan mengedukasi masyarakat agar bisa memahami perkembangan kendaraan listrik di Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/">Paradigm Shift Kendaraan Listrik dan Pola Pikir Revolusi Industri</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masa Depan EV Dimulai dari Home Charging</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 05:20:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11511</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jalanan Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya mulai ramai dengan deretan mobil listrik yang dulu hanya mimpi. Dari sedan mewah sampai city car yang harganya kini semakin bersahabat dengan kantong kelas menengah. Tapi di balik euforia ini, ada satu masalah klasik yang selalu menghantui industri baru: infrastruktur yang tertinggal jauh dari penjualan. Bayangkan saja, hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/">Masa Depan EV Dimulai dari Home Charging</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Jalanan Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya mulai ramai dengan deretan mobil listrik yang dulu hanya mimpi. Dari sedan mewah sampai city car yang harganya kini semakin bersahabat dengan kantong kelas menengah. Tapi di balik euforia ini, ada satu masalah klasik yang selalu menghantui industri baru: infrastruktur yang tertinggal jauh dari penjualan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bayangkan saja, hingga Agustus 2025, mobil listrik murni (BEV) sudah terjual sekitar 51.000 unit secara wholesales. Pangsa pasarnya bahkan sudah menembus 10 persen dari total penjualan mobil nasional. Angka ini adalah angka yang beberapa tahun lalu terdengar mustahil. Namun realitanya, ketika Anda butuh mengisi daya, pilihan masih sangat terbatas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di seluruh Indonesia, SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) baru tersedia sekitar 4.186 unit di 2.789 lokasi. Bandingkan dengan target PLN yang menetapkan rasio 1:17 antara SPKLU dan kendaraan listrik, dengan kebutuhan 6.278 unit SPKLU di tahun 2025. Artinya, kita masih kekurangan lebih dari 2.000 unit lagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini baru membandingkan dengan rasio PLN, yang menurut kebanyakan orang masih kurang ideal. Sedangkan ideal menurut konsumen, ada di angka 1:5.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemilik EV pasti familiar dengan drama ini: sampai di SPKLU sudah penuh, harus antre sampai berjam-jam karena pengecasan butuh waktu. Fast charging pun butuh 1-2 jam. Atau ketika butuh cas darurat, ternyata SPKLU terdekat jaraknya jauh. Belum lagi distribusinya yang timpang. Mayoritas terkonsentrasi di Jawa, sementara daerah lain masih gelap gulita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memang ada sekitar 1.902 unit fasilitas penukaran baterai (</span><i><span style="font-weight: 400;">swap battery</span></i><span style="font-weight: 400;">), tapi layanan ini belum universal. Motor listrik tertentu bisa, tapi mobil? Belum ada yang mendukung secara massal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah keterbatasan ini, </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> muncul sebagai penyelamat. Bayangkan bisa mengisi daya mobil di garasi sendiri setiap malam, bangun pagi langsung siap pakai tanpa drama antre atau jalan jauh ke SPKLU. Rasanya seperti punya “pom bensin” pribadi di rumah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Investasinya memang tidak main-main. Banyak rumah kelas menengah masih pakai daya 2.200–4.400 VA, padahal untuk cas EV yang stabil butuh minimal 7.700 VA. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untungnya, PLN sudah menyediakan program khusus untuk pemilik mobil listrik yang ingin menaikkan daya dengan biaya ringan bahkan diskon besar di periode tertentu. Program ini memungkinkan konsumen melakukan instalasi </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> sesuai standar keamanan tanpa terbebani biaya besar. </span><i><span style="font-weight: 400;">Stay tuned!</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena kalau dihitung jangka panjang, </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> jauh lebih masuk akal. Tidak perlu buang waktu antre, tidak perlu khawatir kehabisan daya di tengah jalan, dan yang paling penting: kenyamanan yang tidak ternilai harganya. Biaya pun relatif lebih murah dibandingkan SPKLU.</span></p>
<p><b>Peran Periklindo sebagai Jembatan Solusi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Langkah menghadirkan ekosistem </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging </span></i><span style="font-weight: 400;">sebenarnya sudah dimulai. Hyundai sejak 2022 telah menyediakan paket pembelian mobil listrik lengkap dengan instalasi </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk konsumennya. Namun, alangkah lebih baik jika program ini bisa diikuti oleh seluruh APM kendaraan listrik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sinilah Periklindo sebagai asosiasi punya peran strategis. Periklindo bisa menjadi penghubung antara PLN, produsen mobil listrik, dan pemerintah untuk memastikan program seperti ini tidak hanya inisiatif satu-dua merek, melainkan menjadi standar pelayanan purna jualnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bayangkan kalau beli mobil listrik langsung dapat paket instalasi </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan harga </span><i><span style="font-weight: 400;">bundling</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dimana PLN sudah memberikan tarif listrik khusus untuk pemilik EV yang cas di malam hari, </span><i><span style="font-weight: 400;">win-win solution</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena beban puncak listrik bisa terdistribusi di waktu-waktu luar beban puncak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang tidak kalah penting adalah standarisasi instalasi. Jangan sampai semangat pasang </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> malah berujung korsleting atau kebakaran karena instalasi asal-asalan. Periklindo bisa memastikan ada sertifikasi teknisi dan standar pemasangan yang aman. Kerjasama dengan PLN bisa menjadi kunci. Jadi tidak membiarkan konsumen mencari sendiri dan akhirnya yang terpasang adalah instalasi yang tidak standar.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Home charging </span></i><span style="font-weight: 400;">bukan sekadar solusi teknis, tapi simbol kesiapan Indonesia memasuki era transportasi listrik. Tanpa kenyamanan bagi pemilik, adopsi EV bisa mandek jadi tren sesaat seperti gadget yang cepat dilupakan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan regulasi yang tepat, insentif yang menarik, dan Periklindo sebagai jembatan komunikasi, Indonesia punya kesempatan memastikan transisi ke transportasi listrik berlangsung mulus. Bukan hanya untuk yang tinggal di Jakarta atau Surabaya, tapi untuk seluruh Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintah dalam hal ini ESDM atau PLN bisa juga memanfaatkan home charging yang sudah terpasang di rumah pelanggan PLN untuk dapat berfungsi sebagai SPKLU.  Dengan demikian, jumlah keberadaan SPKLU bisa meningkat dengan pesat. Namun ada catatan penting yang perlu kita perhatikan atau antisipasi bahwa ini harus atas dasar persetujuan pihak pemilik rumah agar privasi tetap terjaga. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Indonesia menuju era listrik, dan</span><i><span style="font-weight: 400;"> home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah pintu gerbangnya.</span></p>
<p>Oleh : Periklindo</p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/">Masa Depan EV Dimulai dari Home Charging</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia Harus Berkelanjutan</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/06/ekosistem-kendaraan-listrik-indonesia-harus-berkelanjutan/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/06/ekosistem-kendaraan-listrik-indonesia-harus-berkelanjutan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 05:12:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11508</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mobil listrik tidak lagi sekadar jargon masa depan. Masa depan itu sudah tiba dan sedang dinikmati. Jalanan di kota-kota di Indonesia kini mulai dipenuhi model-model kendaraan listrik baru yang hadir dengan harga semakin bersaing.  Dari harga, konsumen jelas diuntungkan karena mereka bisa memilih kendaraan yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Tetapi di balik euforia itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/ekosistem-kendaraan-listrik-indonesia-harus-berkelanjutan/">Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia Harus Berkelanjutan</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Mobil listrik tidak lagi sekadar jargon masa depan. Masa depan itu sudah tiba dan sedang dinikmati. Jalanan di kota-kota di Indonesia kini mulai dipenuhi model-model kendaraan listrik baru yang hadir dengan harga semakin bersaing. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari harga, konsumen jelas diuntungkan karena mereka bisa memilih kendaraan yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Tetapi di balik euforia itu, produsen dan jaringan penjualan harus menghadapi kenyataan dimana persaingan makin keras, margin keuntungan makin menipis, biaya impor tinggi, dan regulasi yang menuntut kepastian kualitas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena kalau bicara soal ekosistem, kita harus bicara seluruh elemennya. Baik dari produsen, konsumen, infrastruktur, </span><i><span style="font-weight: 400;">green energy </span></i><span style="font-weight: 400;">dan keseluruhan sistem yang kesemuanya harus terpenuhi dengan baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Persaingan harga memang menggoda, tetapi tanpa kendali dan ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan, hal ini bisa menjadi pisau bermata dua.</span></p>
<p><b>Dari Persaingan Harga ke Industri Berkelanjutan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Harga mobil listrik di Indonesia, dengan spesifikasi yang sama, masih lebih tinggi dibandingkan di Tiongkok. Mini EV di Tiongkok bisa didapat dengan enam puluh juta rupiah, di Indonesia harus melonjak tiga kali lipat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu kita harus memahami bahwa ada ongkos kirim, pajak impor, dan distribusi yang membuat perbedaan itu muncul. Namun hal yang tidak boleh dilupakan adalah segi kualitas maupun keamanan. Sebagai orang yang berlatar belakang teknik industri, kita tentu perlu memahami salah satu aspek dalam pengendalian kualitas, yakni six sigma. Six Sigma bukan sekadar teori, namun ini adalah implementasi menuju tingkat error yang sangat rendah dalam sektor industri baik jasa maupun pengadaan barang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik boleh murah, tetapi harus aman, tahan lama, dan dilengkapi layanan service after sales yang jelas. Pemerintah memegang peran vital di sini, memastikan standar baterai, sistem pendingin, hingga mekanisme daur ulang limbah benar-benar dipatuhi secara protokoler.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Percepatan pembangunan pabrik dalam negeri adalah jawabannya. Saat ini, beberapa perusahaan produsen kendaraan listrik sudah mulai bergerak dan ekspansi ke Indonesia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">BYD sedang menyiapkan pabrik di Subang dengan investasi sekitar satu miliar dolar Amerika. Kapasitas awalnya 150.000 unit per tahun, dengan potensi berkembang dua kali lipat. Proyek ini diperkirakan menyerap lebih dari tiga belas ribu tenaga kerja dan menghidupkan </span><i><span style="font-weight: 400;">local supply chain, </span></i><span style="font-weight: 400;">dari komponen hingga logistik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">VinFast asal Vietnam pun tak mau ketinggalan. Mereka menggelontorkan investasi sekitar 3T rupiah untuk pabrik di Jawa Barat dengan kapasitas 50.000 unit per tahun, serta menargetkan 100.000 infrastruktur pengisian baterai di seluruh Indonesia. Dampaknya bukan hanya kendaraan yang lebih murah, tetapi juga belasan ribu lapangan kerja baru di sektor energi dan manufaktur.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wuling lebih dulu memberi contoh konkret. Pabrik mereka di Cikarang melahirkan Air EV, Binguo EV, hingga Cloud EV. Penjualan 2024 menembus tiga belas ribu unit, dengan Cloud EV yang baru setahun diluncurkan langsung mencatat ribuan pemesanan. Pabrik ini mempekerjakan ribuan pekerja lokal dan melibatkan puluhan pemasok dalam negeri. Bukti nyata bahwa produksi lokal bukan hanya retorika, melainkan cara paling efektif menekan harga sekaligus menjaga kualitas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Angka penjualan pun menunjukkan momentum yang kuat. Sepanjang 2024, mobil listrik jenis BEV terjual lebih dari 43.000 unit. Hanya dalam 7 bulan pertama 2025, penjualan sudah menembus 42.000 unit. BYD mendominasi dengan hampir 19.000 unit atau sepertiga dari pasar. Wuling menguasai sekitar 14%, Denza 13%, Chery 11%, dan Aion 8%. Model seperti BYD Sealion 7, BYD M6, dan Wuling Air EV selalu berada di puncak daftar penjualan bulanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Momentum ini jelas tidak boleh disia-siakan. Indonesia tidak boleh hanya puas menjadi pasar yang ramai, melainkan harus bergerak menjadi pusat produksi dan inovasi. Regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) harus ditegakkan, insentif fiskal perlu konsisten, dan infrastruktur pengisian harus diperluas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sinilah Periklindo memiliki peran strategis untuk mendampingi masyarakat, memberi edukasi, dan menjadi mitra pemerintah agar transisi ini bukan sekadar tren sesaat seperti ombak yang datang dengan deburan kencang, namun hilang bersama buihnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mobil listrik adalah fondasi baru bagi transportasi nasional. Ia lebih dari sekadar kendaraan hemat dan bersih, tetapi simbol arah baru ekonomi dan teknologi Indonesia. Jika semua pihak berjalan seirama, Indonesia akan masuk ke peta dunia bukan hanya sebagai konsumen, tetapi sebagai produsen utama kendaraan listrik. Masa depan itu tidak lagi jauh di depan, ia sudah ada hari ini.</span></p>
<p>Oleh : Periklindo</p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/ekosistem-kendaraan-listrik-indonesia-harus-berkelanjutan/">Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia Harus Berkelanjutan</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/06/ekosistem-kendaraan-listrik-indonesia-harus-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>EV, SPKLU, DAN FILOSOFI MENUNGGU</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/06/ev-spklu-dan-filosofi-menunggu/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/06/ev-spklu-dan-filosofi-menunggu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 05:07:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11505</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Ngapain buang-buang waktu ngecas kendaraan listrik? Mana harus nunggu lagi? Isi minyak 3 sampai 5 menit selesai. Itu baru produktif.” Kalimat seperti ini sering muncul saat kendaraan listrik dibicarakan, dibahas dan digoreng. Entah apa yang dimaksud dengan produktif, namun kelihatannya definisi “produktif” dipersempit menjadi cepat, selesai, lalu jalan lagi. Waktu yang menunggu langsung diberi label [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/ev-spklu-dan-filosofi-menunggu/">EV, SPKLU, DAN FILOSOFI MENUNGGU</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ngapain buang-buang waktu ngecas kendaraan listrik? Mana harus nunggu lagi? Isi minyak 3 sampai 5 menit selesai. Itu baru produktif.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalimat seperti ini sering muncul saat kendaraan listrik dibicarakan, dibahas dan digoreng. Entah apa yang dimaksud dengan produktif, namun kelihatannya definisi “produktif” dipersempit menjadi cepat, selesai, lalu jalan lagi. Waktu yang menunggu langsung diberi label pemborosan. Dalam dunia modern, hal ini memang kerap kali menjadi standar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cara berpikir ini lahir dari kebiasaan lama yang menilai nilai waktu hanya dari kecepatan. Semakin singkat berhenti, semakin dianggap efisien. Kendaraan listrik menghadirkan pengalaman berbeda karena pengisian daya memang mengajak berhenti lebih lama. Di titik ini, pemahaman tentang produktivitas mesti diuji ulang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam keseharian, menunggu sering dianggap pasif, buang-buang waktu. Bahkan banyak istri yang ketika melihat suaminya bengong, langsung dicap pemalas. Padahal menunggu bahkan dalam kasus tertentu, bengong, ya itu adalah kondisi ketika manusia hadir penuh tanpa tuntutan reaksi cepat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat gerak berkurang, kesadaran meningkat. Pikiran bekerja lebih tenang dan tidak sekadar bereaksi terhadap rangsangan luar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengalaman di SPKLU menunjukkan hal tersebut. Kendaraan diam, suara hening, dan perhatian tidak terpecah ke banyak hal. Banyak orang mulai menulis, menyusun ide kerja, atau menata ulang rencana. Gagasan muncul perlahan karena kepala tidak lagi dipacu oleh kecepatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengalaman personal bahkan menunjukkan perubahan cara mengelola waktu secara nyata. Pada masa menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak, rutinitas mingguan hampir selalu sama, mampir ke SPBU sebelum berangkat kerja. Dari mulai berbelok masuk area SPBU, antre, mengisi, hingga kembali keluar ke jalan raya, rata-rata memakan sekitar 15 menit. Setelah beralih ke kendaraan listrik, pola ini berubah total. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengisian energi dilakukan di rumah saat malam hari, biasanya ketika pemilik kendaraan bersiap tidur. Artinya tidak ada lagi kewajiban berhenti khusus setiap minggu. Jika dalam satu tahun terdapat 52 minggu, maka waktu yang sebelumnya habis untuk kunjungan rutin ke SPBU mencapai 52 dikali 15 menit, setara 780 menit atau sekitar 13 jam. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Angka ini memperlihatkan bahwa pengalaman EV tidak hanya soal menunggu di SPKLU, tetapi juga tentang menghilangkan banyak jeda kecil yang sebelumnya dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara filosofis, ketenangan selalu menjadi prasyarat lahirnya pemahaman. Pikiran yang terus dikejar waktu cenderung dangkal dan reaktif. Pikiran yang diberi jeda menjadi reflektif dan terarah. Menunggu saat pengisian daya menghadirkan kondisi ini secara alami. Bahkan sejarah mencatat seorang ilmuwan bernama Erwin Schrodinger, menemukan sifat gelombang dalam atom, ketika ia sedang bercinta.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Produktif dalam pengertian yang lebih kompleks, tidak diukur dari seberapa cepat seseorang bergerak. Produktif diukur dari apa yang dihasilkan selama waktu berjalan. Menunggu sambil berpikir, menulis, dan merapikan gagasan memberi hasil yang nyata. Waktu tetap bekerja, hanya arahnya berbeda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hidup modern jarang memberi kesempatan untuk beristirahat dengan sadar. Hari dipenuhi notifikasi, suara, dan tuntutan respons cepat. Pengisian daya kendaraan listrik, bisa dilihat sebagai salah satu bentuk memutus pola tersebut untuk sementara. Waktu tidak mendesak dan perhatian dapat kembali terpusat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam filsafat waktu, jeda bukan kekosongan. Jeda adalah tahap persiapan sebelum gerak berikutnya. Pengisian daya EV berjalan dengan logika yang sama. Energi dikumpulkan perlahan agar perjalanan selanjutnya stabil dan terukur.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">EV dan SPKLU, dalam sisi ini, menawarkan cara baru memandang produktivitas. Bergerak terus tidak selalu menghasilkan kejelasan. Berhenti sejenak sering membantu arah menjadi lebih jelas. Saat pengisian selesai, kendaraan siap melaju dan pikiran telah lebih tertata.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menunggu di SPKLU akhirnya menjadi pelajaran sederhana. Produktif tidak selalu berarti cepat selesai. Produktif berarti sadar menggunakan waktu. Dalam ketenangan itu, daya kendaraan terisi dan ide manusia menemukan bentuknya sebelum perjalanan dilanjutkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/ev-spklu-dan-filosofi-menunggu/">EV, SPKLU, DAN FILOSOFI MENUNGGU</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/06/ev-spklu-dan-filosofi-menunggu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DARI JOK MOTOR KE COLOKAN LISTRIK</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/06/dari-jok-motor-ke-colokan-listrik/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/06/dari-jok-motor-ke-colokan-listrik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 04:59:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11502</guid>

					<description><![CDATA[<p>Catatan kecil penulis tentang pindah arah hidup Oleh: Kontributor Periklindo Sejak saya berkuliah di tahun 2007, motor adalah kendaraan yang menemani saya untuk datang ke kampus, mengerjakan tugas panggilan sebagai anak yang mesti berbakti kepada orang tua. Orang tua saya bukan orang yang berada saat itu. Biasa-biasa saja. Ada usaha, kembang kempis. Namun dalam pandangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/dari-jok-motor-ke-colokan-listrik/">DARI JOK MOTOR KE COLOKAN LISTRIK</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><i><span style="font-weight: 400;">Catatan kecil penulis tentang pindah arah hidup</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Kontributor Periklindo</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sejak saya berkuliah di tahun 2007, motor adalah kendaraan yang menemani saya untuk datang ke kampus, mengerjakan tugas panggilan sebagai anak yang mesti berbakti kepada orang tua. Orang tua saya bukan orang yang berada saat itu. Biasa-biasa saja. Ada usaha, kembang kempis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun dalam pandangan keluarga kami, mau susah atau gampang, mau kaya atau miskin, sarjana adalah hal yang patut diperjuangkan. Orang tua saya waktu itu membelikan saya motor untuk mempermudah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Biaya kuliah juga ditanggung saudara. Sambil menanggung beban ekspektasi saudara, orang tua saya meminta saya untuk kuliah yang benar. Baik-baik kuliah, agar bisa buka peluang pekerjaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Motor jadi saksi hidup saya selama belasan tahun. Joknya menjadi saksi hidup atas segala perjuangan yang dikerjakan baik secara santai, kadang bolos, kadang gak sempat pulang karena mengerjakan skripsi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Helm menjadi telinga yang tidak bisa merespons setiap suka maupun duka yang saya rasakan. Mesinnya teman setia yang berisik. Panas, hujan, dan macet menyatu di perjalanan harian. Banyak ide-ide bagus yang justru lahir saat lampu merah menyala.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya menjalani hari dengan motor bensin. Pagi, siang, malam, roda terus berputar. Isi bensin secara konsisten, menggerus juga ya kalau dipikir-pikir. Kepala panas, napas pendek, ritme hidup terasa datar. Dari kuliah tahun 2007 sampai 2025. 18 tahun, bermotor. Meski motornya berbeda, rasanya sama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu datang satu momen yang sebenarnya sudah menumpuk. Saya pengidap asma sejak kecil. Terakhir asma, seingat saya adalah waktu di akhir kuliah ketika kelelahan menyelesaikan skripsi S1.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang kali ini juga mulai mirip. Asap yang bukan asap kendaraan, tetap asap yang mengepul di kepala. Pikiran berputar tanpa arah. Di situ muncul satu kalimat sederhana yang membisik pelan.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Kamu terlalu lelah. Sudah… Sudah waktunya istirahat…”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ritme inilah yang menjadi eskalasi saya sehingga mengidap asma lagi setelah belasan tahun asma itu hilang. Kini ia datang lagi. Inilah yang memberikan dampak buruk bagi kesehatan saya. Napas jadi separuh-separuh, sulit konsentrasi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak seperti dulu, asma bukan lagi penyakit yang harus saya tanggung sendiri. Sekarang sudah ada 2 anak dan 1 istri. Dulu asmaku ya asmaku. Namun sekarang, dampak asmaku dirasakan sesak oleh mereka. Sesak dalam melihat ayah dan suami yang sakit-sakitan, sesak pendapatan, sesak dalam keuangan karena berobat dan sesak dalam waktu untuk tetap produktif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wah, saya baru ngeh saat itu. 2025 akhir. Saya dipaksa untuk menggeser pola hidup. Arah perlu ditata ulang. Ada dorongan untuk melangkah maju. Dan dorongan itu terasa mendesak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya mulai melirik motor listrik. Ragu hadir. Di usia yang sudah mau menginjak kepala orang ini… Mungkin motor listrik bisa dibilang lebih irit dari motor bensin, namun tidak menyelesaikan masalah tubuh yang sudah berumur ini, yang tidak boleh terlalu lama terkena angin dan hujan. Apalagi vonis dokter sudah berkata demikian…</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya akhirnya mencoba membeli mobil listrik dengan banyak sekali pertimbangan yang muncul. Apakah reliable? Sustainable? Ah, sudah lah… Kubuang semua pemikiran overthinking itu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena asma tidak bisa menunggu terlalu lama. Bagaimana nasib keluargaku kelak jika harus mengurus suami yang sakit-sakitan?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Awal-awal menggunakan mobil listrik, rasanya canggung. Canggung karena tidak ada biaya bensin, adanya biaya listrik yang jauh lebih murah. Hitungnya bukan kilometer per liter, namun kWh per 100 km, atau km per kwh. Tidak ada ritual lama. Malam terasa lebih produktif karena mengecas di rumah. Saya kaget, hidup mendadak terasa sederhana.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sejak hari itu ritme saya berubah. Pagi terasa siap, malam terasa cukup. Biaya harian menipis tanpa drama. Ruang di kepala melebar pelan-pelan. Asap yang mengepul, mendadak jadi sambaran-sambaran elektron di otak yang membuat lebih produktif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertanyaan tentang lingkungan sering datang. Bagi saya itu hadiah yang menyenangkan. Intinya ada pada kendali. Waktu, energi, dan arah kini lebih dekat di genggaman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari mobil listrik, langkah berlanjut ke masa depan. Perpindahan terasa wajar karena fondasi sudah kokoh. Saya melihat EV sebagai sistem hidup yang tertata. Setiap hari berjalan lebih terencana.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perdebatan teori dan angka terus bergulir. Saya memilih berdiri di pengalaman. Dari panas menuju senyap, dari riuh menuju fokus. Wah, saya baru ngeh, teknologi ini menyentuh batin dan kesehatan mental saya dan keluarga saya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kini setiap kali charger menempel pada kendaraan, saya melihat simbol perjalanan yang naik kelas. Bukan saya saja yang naik kelas, tapi lingkunganku jadi naik kelas. Sebuah tanda bahwa hidup bergerak maju. Dari pergeseran teknologi kendaraan, saya belajar bagaimana hidup itu lebih terarah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Kontributor Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/dari-jok-motor-ke-colokan-listrik/">DARI JOK MOTOR KE COLOKAN LISTRIK</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/06/dari-jok-motor-ke-colokan-listrik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hidrogen vs Baterai, Sejarah dan Teknologi 2 Jenis Kendaraan Nol Emisi</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/06/hidrogen-vs-baterai-sejarah-dan-teknologi-2-jenis-kendaraan-nol-emisi/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/06/hidrogen-vs-baterai-sejarah-dan-teknologi-2-jenis-kendaraan-nol-emisi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 04:00:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11499</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jepang dan China yang saat ini menjadi representasi dua kekuatan otomotif Asia, pernah bersaing menentukan masa depan kendaraan bebas emisi. Dua kekuatan ini mengejawantahkan perkembangan teknologi baterai atau sel bahan bakar hidrogen. Di Jepang, produsen besar seperti Toyota, Honda, dan Mazda kini memperkuat pengembangan kendaraan hidrogen.  Sebaliknya, China gencar mendorong kendaraan listrik bertenaga baterai. Misalnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/hidrogen-vs-baterai-sejarah-dan-teknologi-2-jenis-kendaraan-nol-emisi/">Hidrogen vs Baterai, Sejarah dan Teknologi 2 Jenis Kendaraan Nol Emisi</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Jepang dan China yang saat ini menjadi representasi dua kekuatan otomotif Asia, pernah bersaing menentukan masa depan kendaraan bebas emisi. Dua kekuatan ini mengejawantahkan perkembangan teknologi baterai atau sel bahan bakar hidrogen. Di Jepang, produsen besar seperti Toyota, Honda, dan Mazda kini memperkuat pengembangan kendaraan hidrogen. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebaliknya, China gencar mendorong kendaraan listrik bertenaga baterai. Misalnya produsen EV China BYD telah menyalip Tesla sebagai penjual mobil listrik terbesar di dunia, menandai pergeseran kekuatan industri mobil listrik global ke China. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua jalur ini tumbuh dalam konteks dukungan pemerintah masing-masing: Jepang menargetkan masyarakat hidrogen (“Hydrogen Society”) sejak 2014, sedangkan China mengeluarkan insentif besar untuk EV agar industri otomotifnya cepat berkembang.</span></p>
<p><b><i>Jika dilihat dari perbedaan kedua teknologi ini, perbedaannya ada di “penggunaan langsung dari listrik” VS “pemanfaatan listrik yang disimpan ulang dalam bentuk hidrogen cair.”</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada era Toyota Prius (hybrid) dulu Toyota mempelopori, kini Toyota dan Honda sudah memperkenalkan sedan hidrogen (Mirai, Clarity) berturut-turut. Toyota telah menjual kendaraan dengan sel bahan bakar hidrogen pada Desember 2014 dengan kemunculan Toyota Mirai disusul oleh Honda pada kuartal akhir tahun 2015 dan Nissan pada kuartal pertama tahun 2017. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sisi lain, China dari 2010-an mulai fokus pada EV. Data menunjukkan BYD menjual 2,26 juta EV, melampaui Tesla. Perkembangan ini menunjukkan kecenderungan strategi bahwa Jepang tidak tinggal diam. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alih-alih fokus pada kendaraan listrik berbasis baterai penuh, pabrikan besar seperti Toyota, Honda, dan Mazda memperkuat pengembangan teknologi hidrogen, sedangkan China melihat EV baterai sebagai jalan utama mengurangi ketergantungan minyak. Presiden Xi Jinping sendiri menekankan bahwa kendaraan energi baru adalah kunci daya saing industri otomotif Tiongkok di masa depan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara teknis, kendaraan hidrogen dan baterai sama-sama nol emisi. Namun, keduanya memiliki karakteristik berbeda. Kendaraan hidrogen (FCEV/</span><i><span style="font-weight: 400;">Fuel Cell Electric Vehicle</span></i><span style="font-weight: 400;">) menggunakan sel bahan bakar yang mengubah hidrogen menjadi listrik, sedangkan BEV menyimpan listrik di baterai. Dari sisi efisiensi, BEV lebih tinggi (sekitar 70–90%) dibanding FCEV (sekitar 50–60%). </span></p>
<p><b><i>Dalam sistem ini, selisih efisiensi ini terjadi karena adanya produksi hidrogen terlebih dahulu menggunakan metode yang ada. Metode ekstraksi hidrogen dapat dilakukan dengan beberapa langkah di antaranya adalah elektrolisis air maupun pemecahan polimer gas alam (hidrokarbon/ CxHy).</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun FCEV unggul dalam hal waktu isi ulang dan jangkauan. Toyota Mirai dan Hyundai Nexo dapat menempuh lebih dari 600 km dengan sekali isi dan mengisi ulang dalam waktu hanya 3–5 menit, menyerupai pengalaman mengisi bensin bukan?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebaliknya, kebanyakan EV saat ini berkisar 300–500 km dan perlu pengisian 30 menit hingga beberapa jam tergantung jenis charger. Keuntungan lain FCEV adalah berat tangki hidrogen lebih ringan daripada baterai besar, dan bahan bakar hidrogen hanya menghasilkan air murni.</span></p>
<p><b>Stoikiometri dasar dan konsep energi kimia</b></p>
<p><b><i>Hidrogen adalah molekul kimia yang ketika diolah, membutuhkan energi, baru kemudian akan digunakan untuk menghasilkan energi gerak. Energi secara konseptual, tidak bisa diciptakan maupun dihilangkan. Yang ada hanyalah konversi. </i></b></p>
<p><b><i>Data menunjukkan bahwa untuk menghasilkan 1 kg hidrogen dari air, dibutuhkan 9 kg air. Karena perbandingan massa hidrogen dan massa air dalam 1 molekul air adalah 1:9. Dalam 1 molekul air, terdapat 2 molekul hidrogen. </i></b></p>
<p><b><i>Dalam konsep stoikiometri kimia khususnya dalam bagian konsep mol, terhitung 1 molekul air memiliki massa 18 gram/mol dan 2 atom hidrogen massanya 2 x 1 gram/mol.</i></b></p>
<p><b><i>Kemudian dari sisi energi listrik, untuk menghasilkan 1 kg hidrogen dari air, juga dibutuhkan sekitar 50-55 kWh listrik. Sementara energi yang tersimpan dalam hidrogen hanya sekitar 33 kWh.</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di lain pihak, EV baterai sudah mulai memiliki infrastruktur memadai (seperti stasiun charger publik) dan biaya operasinya rendah. Sementara FCEV masih mahal dan infrastruktur masih sangat terbatas. Di Indonesia, adopsi teknologi ini masih dalam tahap awal. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan untuk mendorong kendaraan rendah emisi terutama BEV, namun dukungan khusus untuk FCEV belum setara. Sejauh ini infrastruktur hidrogen sangat minim. Hingga 2024 hanya ada satu stasiun pengisian hidrogen operasional di Indonesia, yakni di kawasan Senayan. PLN baru meresmikan HRS (</span><i><span style="font-weight: 400;">Hydrogen Refueling Station</span></i><span style="font-weight: 400;">) pertama tersebut pada Februari 2024.</span></p>
<p><b><i>Dari data yang diambil di aplikasi PLN Mobile pada tanggal 2 Februari 2026, ada 1193 kabinet penukaran baterai motor listrik, 4704 charger kendaraan roda 4 listrik, 9601 unit soket untuk pengecasan dengan kabel dan juga 593 charger kendaraan roda 2. Ini menunjukkan bahwa secara ekosistem, kendaraan listrik di Indonesia sudah sangat komprehensif. </i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meski demikian, Indonesia kaya sumber energi terbarukan seperti panas bumi, surya, biomassa yang sebetulnya potensial untuk memproduksi hidrogen hijau. Pemerintah menargetkan netral karbon pada 2060. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM menyatakan bahwa hidrogen diharapkan menjadi salah satu kontributor transisi energi. Bahkan pemerintah merencanakan seluruh kendaraan di ibu kota negara (IKN) akan menggunakan hidrogen setelah 2040, dengan target 50% pada 2035.</span></p>
<p><b><i>Hidrogen hijau mesti dipandang sebagai opsi jangka panjang, terutama untuk sektor dan daerah yang sulit mendapatkan elektrifikasi langsung. Target hidrogenasi adalah masa depan, yang bukan solusi instan hari ini.</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, teknologi hidrogen menuntut infrastruktur yang lebih kompleks. Hidrogen harus disimpan dalam tangki bertekanan tinggi, dan molekulnya sangat kecil sehingga perlu reservoir yang berteknologi tinggi.</span></p>
<p><b><i>Pada kendaraan penumpang, tekanan tangki hidrogen dapat mencapai 700 bar, sedangkan pada bus dan truk sekitar 350 bar, yang memerlukan standar keselamatan berlapis dan material khusus.</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tantangan besar lainnya adalah penyimpanan dan transportasi hidrogen yang aman. Infrastruktur untuk memindahkan dan menyimpan elemen ini pada skala besar masih dalam proses pengembangan di negara ini. Tekanan tinggi dalam “tangki hidrogen” masih menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang tinggal di iklim tropis, dengan kelembaban yang cukup “menyiksa” tabung metal penyimpanan hidrogen, dimana setiap tambahan ini, </span><b><i>menandakan ada energi yang hilang sebelum kendaraan benar-benar bergerak.</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan minimnya stasiun pengisian bahan bakar juga menjadi hambatan besar. Sebaliknya, mengembangkan jaringan pengisian baterai saat ini relatif lebih murah dan cepat, seperti instalasi charger di rumah atau fasilitas publik. Namun EV pun menghadapi tantangan seperti pengisian lambat untuk perjalanan jauh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua teknologi ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hidrogen menawarkan pengisian cepat dan jangkauan panjang yang cocok untuk armada komersial, sementara EV baterai lebih hemat energi, infrastruktur mulai meluas, dan biaya terus menurun. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Indonesia perlu menyeimbangkan keduanya, yakni memperkuat pengembangan EV sambil menyiapkan infrastruktur hidrogen sebagai opsi jangka panjang. Sebagaimana Toyota mencatat, teknologi hidrogen akan menjadi tulang punggung mobilitas netral karbon yang dapat memanfaatkan jaringan logistik global yang ada. </span><b><i>Namun keseimbangan itu harus berangkat dari realitas efisiensi dan kesiapan infrastruktur nasional.</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, realisasi itu memerlukan investasi dan riset besar. Kesimpulannya, tidak ada pilihan tunggal. Indonesia perlu mempersiapkan infrastruktur canggih untuk hidrogen sambil terus mendukung listrik-baterai, agar kedua jalur bersih ini dapat berjalan seimbang demi masa depan transportasi yang hijau.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hanya saja apa yang ada di depan mata dan yang sudah terealisasikan yakni kendaraan listrik baterai, mesti digencarkan. Periklindo hadir untuk memfasilitasi hal tersebut.</span></p>
<p><b><i>Karena transisi energi juga harus mempertimbangkan teknologi yang paling siap memberi dampak hari ini untuk masyarakat luas. </i></b></p>
<p><b><i>Akhir kata, tujuan dari artikel ini ditulis bukan untuk mencari mana yang terbaik antara baterai ataupun hidrogen, melainkan memaparkan secara sederhana agar bisa memberikan gambaran besar mengenai kesiapan infrastruktur dan juga manfaat langsung yang bisa diperoleh untuk masyarakat Indonesia.</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Daftar Sumber:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Reuters – </span><i><span style="font-weight: 400;">Auto power play: Japan’s hydrogen car vs China’s battery drive</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2021</span><span style="font-weight: 400;"><br />
</span><span style="font-weight: 400;"> https://www.reuters.com/business/autos-transportation/auto-power-play-japans-hydrogen-car-vs-chinas-battery-drive-2021-03-09/</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Kumparan – </span><i><span style="font-weight: 400;">BYD Salip Tesla, Jadi Raja EV Dunia</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2024</span><span style="font-weight: 400;"><br />
</span><span style="font-weight: 400;"> https://kumparan.com/kumparantech/byd-salip-tesla-jadi-produsen-mobil-listrik-terbesar-di-dunia-21bVuNE2RPg/full</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">PLN – </span><i><span style="font-weight: 400;">PLN Resmikan SPBKLU Hidrogen Pertama di Indonesia</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2024</span><span style="font-weight: 400;"><br />
</span><span style="font-weight: 400;"> https://web.pln.co.id/media/press-release/pln-resmikan-hydrogen-refueling-station-pertama-di-senayan</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Kementerian ESDM – </span><i><span style="font-weight: 400;">Hidrogen sebagai Energi Masa Depan</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2023</span><span style="font-weight: 400;"><br />
</span><span style="font-weight: 400;"> https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/siap-beralih-ke-hidrogen-kunci-transisi-energi-nasional</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Thomasnet – </span><i><span style="font-weight: 400;">Hydrogen Infrastructure Challenges</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2023</span><span style="font-weight: 400;"><br />
</span><span style="font-weight: 400;"> https://www.thomasnet.com/insights/why-hydrogen-cars-failed-and-what-s-being-done-about-it/</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">EU-OpenSci (Jurnal Terbuka Eropa) – </span><i><span style="font-weight: 400;">Perbandingan Efisiensi BEV dan FCEV</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2024</span><span style="font-weight: 400;"><br />
</span><span style="font-weight: 400;"> https://op.europa.eu/en/publication-detail/-/publication/4d1dd9c8-9011-11ec-8c40-01aa75ed71a1/language-e</span></li>
</ol>
<p><b>Oleh: Periklindo</b></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/hidrogen-vs-baterai-sejarah-dan-teknologi-2-jenis-kendaraan-nol-emisi/">Hidrogen vs Baterai, Sejarah dan Teknologi 2 Jenis Kendaraan Nol Emisi</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/06/hidrogen-vs-baterai-sejarah-dan-teknologi-2-jenis-kendaraan-nol-emisi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kendaraan Listrik, Hutan Virtual dan Blue Print Arsitektur Energi (Bagian 2)</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/06/kendaraan-listrik-hutan-virtual-dan-blue-print-arsitektur-energi-bagian-2/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/06/kendaraan-listrik-hutan-virtual-dan-blue-print-arsitektur-energi-bagian-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 03:44:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11497</guid>

					<description><![CDATA[<p>_Dari Dampak Kolektif ke Arsitektur Sistem Energi Nasional_ Sebagai sambungan dari artikel sebelumnya, pembacaan kendaraan listrik tidak lagi berhenti pada perbedaan teknologi mesin atau jenis bahan bakar. Diskusi ini harus ditarik ke skala sistemik, ke level kolektif, di mana perubahan kecil di level kendaraan membentuk dampak besar di level nasional.  Di titik ini, EV tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/kendaraan-listrik-hutan-virtual-dan-blue-print-arsitektur-energi-bagian-2/">Kendaraan Listrik, Hutan Virtual dan Blue Print Arsitektur Energi (Bagian 2)</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><i><span style="font-weight: 400;">_Dari Dampak Kolektif ke Arsitektur Sistem Energi Nasional_</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai sambungan dari artikel sebelumnya, pembacaan kendaraan listrik tidak lagi berhenti pada perbedaan teknologi mesin atau jenis bahan bakar. Diskusi ini harus ditarik ke skala sistemik, ke level kolektif, di mana perubahan kecil di level kendaraan membentuk dampak besar di level nasional. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di titik ini, EV tidak lagi bisa dibaca sebagai produk, tetapi sebagai bagian dari restrukturisasi sistem energi, sistem emisi, dan sistem konsumsi nasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sinilah transisi energi mulai berbicara dalam bahasa data, struktur, dan dampak kolektif, bukan sekadar narasi simbolik atau klaim moral. Karena perubahan sistem tidak pernah bekerja di level individu saja, tetapi selalu bekerja melalui akumulasi.</span></p>
<p><b>*Ekstensi Sistemik Skala Nasional (Dampak Kolektif EV Indonesia)*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Populasi kendaraan listrik roda empat Indonesia (akhir 2025): ± 174.497 unit (akumulatif 2022–2025)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Asumsi jarak tempuh konservatif: 12.000 km per kendaraan per tahun</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Total jarak tempuh nasional: ± 2,09 miliar km per tahun</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut data yang disadur dari berbagai sumber rilis resmi, didapatkan selisih emisi rata-rata: ± 0,125 – 0,13 kg CO₂ per km antara ICE dan EV. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam skala nasional, reduksi emisi tahunan mencapai: ± 272.215 ton CO₂ per tahun (posisi akhir 2025)</span></p>
<p><b>*Konsep “Hutan Virtual”*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Serapan rata-rata satu pohon dewasa: ± 22 kg CO₂ per tahun. Perhitungan ekuivalensi biologis: 272.215.000 kg CO₂ ÷ 22 kg/pohon = ± 12.373.409 pohon per tahun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah yang disebut sebagai hutan virtual. Representasi dampak kolektif kendaraan listrik terhadap pengurangan karbon, setara dengan kerja biologis jutaan pohon hidup setiap tahun. Bukan pohon beneran. Ya kali pohon beneran…</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari konsep ini, EV yang beroperasi di Indonesia saat ini menciptakan efek lingkungan setara dengan lebih dari 12,3 juta pohon aktif menyerap karbon setiap tahun.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>*Dampak Kumulatif Nasional 2022–2025*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akumulasi pencegahan emisi: ± 441.116 ton CO₂</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ekuivalensi biologis: ± 20.050.727 pohon dalam kapasitas serapan karbon kolektif</span></p>
<p><b>*Dimensi Energi dan Ekonomi*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* BBM yang dihindari secara nasional: ± 209,4 juta liter per tahun (posisi akhir 2025)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Akumulatif 2022–2025: ± 339,3 juta liter</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Nilai ekonomi energi: Harga BBM RON 92 rata-rata: ± Rp13.000 per liter</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Nilai belanja energi yang dialihkan: ± Rp4,4 triliun (nilai konsumsi energi di tingkat pengguna)</span></p>
<p><b>*Estimasi konsumsi energi listrik nasional EV:*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Total jarak tempuh nasional: ± 2,09 miliar km per tahun</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Asumsi konsumsi rata-rata EV: ± 0,15 kWh per km</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Total konsumsi listrik EV nasional: ± 313,5 juta kWh per tahun</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Tarif SPKLU nasional: ± Rp2.466 – Rp2.475 per kWh (belum termasuk PPN)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Nilai belanja listrik EV nasional: ± Rp773 miliar – Rp776 miliar per tahun</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* PPN 11% dari konsumsi listrik EV: ± Rp85 miliar per tahun</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Total belanja energi EV (listrik + PPN): ± Rp858 miliar – Rp861 miliar per tahun</span></p>
<p><b>Selisih belanja energi pengguna: ± Rp4,4 triliun – ± Rp0,86 triliun = ± Rp3,54 triliun per tahun.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Angka ini membentuk “ruang ekonomi baru” bagi konsumen EV, berupa dana yang tidak lagi habis untuk energi fosil, tetapi dapat dialihkan untuk tabungan, konsumsi produktif, pendidikan, investasi, dan sektor ekonomi lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini merepresentasikan pergeseran konsumsi energi dari bensin impor menuju listrik domestik, sekaligus potensi pengurangan ketergantungan struktural terhadap impor energi berbasis minyak.</span></p>
<p><b>Makna Arsitektur Energi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Skema fisika energi:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jalur EV: Energi fosil (pembangkit listrik) → energi listrik → energi gerak</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jalur ICE: Energi fosil (kilang minyak dan pengolahan) → bensin → pembakaran → energi gerak</span></p>
<p><b>*Efisiensi energi*</b></p>
<p><b>Efisiensi ICE ke roda:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Efisiensi termal mesin: ± 20–30% (mobil bensin rata-rata)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Rugi transmisi dan drivetrain: ± 10–15%</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Efisiensi total BBM → roda: ± 20–25%</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, dari 100% energi BBM, hanya sekitar 20–25% yang benar-benar menjadi gerak roda.</span></p>
<p><b>Efisiensi sistem EV</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Charging dan battery efficiency: 90–95%</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Inverter dan motor listrik: 90–95%</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Drivetrain EV: 95–98%</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Efisiensi total listrik → roda: ± 80–90%</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, dari 100% energi listrik, sekitar 80–90% menjadi gerak roda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sinilah perbedaan strukturalnya: Emisi yang tersebar sulit dikelola. Emisi yang terpusat bisa direkayasa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Teknologi penangkapan karbon hanya masuk akal di sumber emisi besar dan terpusat seperti pembangkit listrik dan industri. Carbon capture tidak mungkin diterapkan pada jutaan kendaraan individual. Maka elektrifikasi membangun sistem yang bisa dikendalikan, sementara sistem pembakaran membangun emisi yang tersebar.</span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-weight: 400;">Secara angka, mobil listrik menghasilkan emisi lebih rendah dibanding mobil bensin, meskipun grid Indonesia masih dominan fosil. Secara sistem, mobil listrik membangun struktur energi yang adaptif, karena emisi berada di hulu, bukan di mobil yang adalah end-product nya. Sedangkan mobil ICE, emisinya tersebar di hulu sampai ke end-product.</span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-weight: 400;">Hutan virtual berbicara soal arsitektur ekologis baru yang tumbuh dari restrukturisasi sistem energi, teknologi, dan perubahan perilaku konsumsi.</span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-weight: 400;">Hutan virtual tidak menggantikan hutan fisik, apalagi dijadikan solusi tunggal krisis iklim yang terjadi saat ini. Hutan virtual membangun struktur dekarbonisasi yang bisa dikendalikan, diukur, dan diperbaiki secara kolektif.</span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-weight: 400;">Dan di titik ini, transisi energi bicara soal arsitektur sistem, energi dan emisi. Karena masa depan dekarbonisasi akan menjadi blueprint arsitektur energi.</span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-weight: 400;">Referensi:</span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-weight: 400;">https://oto.detik.com/mobil-listrik/d-8305042/laris-manis-penjualan-mobil-listrik-di-indonesia-tahun-2025-meroket\</span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-weight: 400;">https://web.pln.co.id/media/siaran-pers/2023/02/kendaraan-listrik-jadi-upaya-penurunan-emisi-karbon-begini-perhitungan-emisinya-menurut-pln</span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-weight: 400;">https://www.kehutanan.go.id/news/article-43</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/kendaraan-listrik-hutan-virtual-dan-blue-print-arsitektur-energi-bagian-2/">Kendaraan Listrik, Hutan Virtual dan Blue Print Arsitektur Energi (Bagian 2)</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/06/kendaraan-listrik-hutan-virtual-dan-blue-print-arsitektur-energi-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
