<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>News &amp; Update - Periklindo</title>
	<atom:link href="https://periklindo.com/category/news-update/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://periklindo.com</link>
	<description>Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 May 2026 04:21:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://sgp1.digitaloceanspaces.com/periklindo/2021/11/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>News &amp; Update - Periklindo</title>
	<link>https://periklindo.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>PANDUAN AMAN MENGGUNAKAN KENDARAAN LISTRIK</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/05/05/panduan-aman-menggunakan-kendaraan-listrik/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/05/05/panduan-aman-menggunakan-kendaraan-listrik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2026 04:21:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11703</guid>

					<description><![CDATA[<p>Teknologi berubah, kendaraan berubah. Agak sayang jika cara berkendara para pengemudi masih belum berubah, masih terpaku dengan cara menyetir kendaraan konvensional. Masuk ke kendaraan listrik itu tidak sekadar pindah mesin, tapi pindah cara berkendara. Ini yang sering luput, yakni adaptasi kognitif. Apa itu adaptasi kognitif? Adaptasi kognitif menuntut pengendara harus belajar ulang/relearn tentang kendaraan, pengambilan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/05/05/panduan-aman-menggunakan-kendaraan-listrik/">PANDUAN AMAN MENGGUNAKAN KENDARAAN LISTRIK</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Teknologi berubah, kendaraan berubah. Agak sayang jika cara berkendara para pengemudi masih belum berubah, masih terpaku dengan cara menyetir kendaraan konvensional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masuk ke kendaraan listrik itu tidak sekadar pindah mesin, tapi pindah cara berkendara. Ini yang sering luput, yakni adaptasi kognitif. Apa itu adaptasi kognitif?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adaptasi kognitif menuntut pengendara harus belajar ulang/relearn tentang kendaraan, pengambilan keputusan, dan risiko berkendara yang berbeda antara listrik dengan kendaraan konvensional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanpa adaptasi ini, pengemudi akan selalu tertinggal. Dan di EV, setengah detik itu penting sekali. Label “pengendara EV agresif” yang muncul belakangan ini sebenarnya berangkat dari 2 fakta.  </span><span style="font-weight: 400;">Fakta pertama adalah bias observasi seolah-olah sebagian kecil yang terjadi, mewakili seluruh hal yang ada. Namun fakta kedua yang dirasa lebih penting dari sekadar pembelaan diri dari bias observasi, adalah fakta masih banyak pengemudi EV yang tidak beradaptasi. Technological illiterate.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita harus mengakui kekurangan tersebut terlebih dahulu, agar bisa melakukan perbaikan dan maju ke depan mengikuti arah perkembangan teknologi yang ada. </span><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik sudah mulai dominan di jalanan Indonesia, sehingga setiap kejadian mudah terekam, lalu berulang di media sosial. Dari situ terbentuk persepsi yang terasa menyeluruh. Padahal yang terjadi lebih kompleks. Integrasi antara teknologi baru dan manusia yang masih belajar mengimbanginya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tidak perlu membela diri. Hal yang diperlukan adalah pemahaman teknis dan kondisi fisik pengendara yang akan menjadi inti dari pembahasan di dalam artikel ini.</span></p>
<p><b>*Pemahaman Teknis*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik itu sangat responsif. Bahkan terlalu responsif kalau diperlakukan seperti mobil biasa. Maka pemahaman teknis menjadi krusial di sini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Torsi instan. Pedal diinjak, tenaga langsung keluar. Tidak ada fase tunggu. Ini keunggulan, sekaligus potensi bahaya kalau tidak dikendalikan dengan halus. Akselerasi yang tiba-tiba bisa membuat mobil melonjak lebih cepat dari perkiraan pengemudi sendiri. Dalam kondisi padat, ini bisa langsung mempersempit jarak aman tanpa disadari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengemudi perlu meningkatkan sensitivitas kaki. Istilah kata, “feeling kaki”. Jadi alih-alih hanya menekan pedal, pengendara harus bisa mengontrol tekanan secara bertahap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Regenerative braking. Kendaraan EV otomatis melambat saat pedal dilepas. Ini mengubah kebiasaan dasar berkendara, karena perlambatan tidak selalu diikuti sinyal yang cukup jelas bagi pengendara belakang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam banyak kasus, mobil di belakang baru menyadari perlambatan saat jarak sudah terlalu dekat. Ini dapat memicu rem mendadak atau bahkan tabrakan beruntun. Solusinya, pengemudi harus memahami mode-mode berkendara (Eco, Sport, Normal), karena setiap mode, mengubah level regenerative braking di kendaraannya. Sehingga jika dirasa perlu, pengemudi bisa memberi sinyal rem agar lebih aman bagi mobil di belakangnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Metode 3 detik. Lupakan hitungan meter yang sulit diterapkan di kemacetan. Otak manusia lebih mudah membaca waktu dibanding jarak dalam kondisi dinamis. Dengan metode ini, pengemudi cukup melihat objek di depan dan memastikan ada jeda minimal 3detik sebelum mobil melewati titik yang sama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cara ini jauh lebih adaptif terhadap kecepatan yang berubah-ubah, sehingga jarak aman tetap terjaga tanpa harus menghitung secara kasar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Situational awareness. EV menuntut pengemudi membaca situasi lebih cepat karena respons kendaraan juga lebih cepat. Keterlambatan membaca kondisi bisa langsung berujung pada manuver yang tidak terkendali.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengemudi harus aktif memindai kondisi depan, samping, dan spion secara konsisten. Ini bukan kebiasaan tambahan, tapi bagian dari sistem pengambilan keputusan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap detik adalah kalkulasi. Pengemudi harus tahu kapan menahan, kapan maju, kapan berpindah. Ketepatan membaca situasi akan menentukan kualitas berkendara secara keseluruhan.</span></p>
<p><b>*Kondisi Fisik*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Teknologi sudah naik level. Pengemudi harus ikut naik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Fokus penuh. Respons kendaraan yang cepat membuat ruang kesalahan semakin kecil. Gangguan kecil seperti melihat ponsel atau kehilangan fokus sesaat bisa langsung berdampak besar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbeda dengan kendaraan konvensional yang masih memberi jeda respons, EV mengeksekusi perintah hampir seketika. </span><span style="font-weight: 400;">Artinya, perhatian pengemudi harus konsisten dari awal hingga akhir perjalanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Kontrol emosi. Jalan raya adalah ruang interaksi dengan banyak karakter. Tanpa kontrol emosi, keputusan berkendara akan dipengaruhi impuls, bukan pertimbangan. Pada kendaraan dengan akselerasi instan, emosi yang tidak terkendali bisa langsung diterjemahkan menjadi gerakan agresif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengemudi perlu menjaga ritme dan kesabaran, karena stabilitas emosi berbanding lurus dengan keselamatan di jalan. </span><span style="font-weight: 400;">Ini berlaku untuk semua kendaraan. Bedanya, di EV efeknya lebih cepat, lebih tajam, dan lebih terlihat.</span></p>
<p><b>*Komitmen Periklindo*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Periklindo mendorong kendaraan listrik terus berkembang. Tapi arahannya jelas, yakni perkembangan teknologi harus diikuti peningkatan kualitas pengemudi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Edukasi tidak berhenti di cara pakai. Harus masuk ke mindset. Adaptasi kognitif, pemahaman karakter kendaraan, dan disiplin berkendara harus jadi satu paket.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Operator transportasi perlu memastikan pelatihan berjalan serius dan konsisten. Program pelatihan harus membentuk kebiasaan, bukan sekadar formalitas administratif. Pengguna pribadi juga memegang peran besar. Mengendarai EV berarti siap belajar ulang, memperbaiki kebiasaan lama, dan membangun standar baru dalam berkendara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik cepat, responsif, dan efisien. Mesin sudah berubah, tapi cara berpikir sering masih lama. Kalau adaptasi ini selesai, kendaraan listrik terasa presisi. Kalau tidak, potensi masalah akan terus berulang.</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/05/05/panduan-aman-menggunakan-kendaraan-listrik/">PANDUAN AMAN MENGGUNAKAN KENDARAAN LISTRIK</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/05/05/panduan-aman-menggunakan-kendaraan-listrik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>EV DI INDONESIA, DARI FLEXING KE KEBUTUHAN</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/05/05/ev-di-indonesia-dari-flexing-ke-kebutuhan/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/05/05/ev-di-indonesia-dari-flexing-ke-kebutuhan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2026 03:50:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11700</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu kendaraan listrik sering dianggap sekadar eksperimen. Dipakai oleh segelintir orang yang penasaran, dilihat sebagai sesuatu yang “menarik”, tapi belum jadi pilihan utama. Bahkan beberapa membeli kendaraan listrik hanya untuk hook alias bait calon nasabah untuk masuk ke bisnis mereka. Namun hari ini ceritanya sudah berbeda. Di jalanan kota besar, kendaraan listrik mulai terlihat sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/05/05/ev-di-indonesia-dari-flexing-ke-kebutuhan/">EV DI INDONESIA, DARI FLEXING KE KEBUTUHAN</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Dulu kendaraan listrik sering dianggap sekadar eksperimen. Dipakai oleh segelintir orang yang penasaran, dilihat sebagai sesuatu yang “menarik”, tapi belum jadi pilihan utama. Bahkan beberapa membeli kendaraan listrik hanya untuk hook alias bait calon nasabah untuk masuk ke bisnis mereka. Namun hari ini ceritanya sudah berbeda. Di jalanan kota besar, kendaraan listrik mulai terlihat sebagai bagian dari keseharian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian orang tidak menunggu sampai semuanya sempurna. Mereka mulai lebih dulu. Mereka yang merasakan duluan bagaimana rasanya berkendara tanpa suara mesin, tanpa getaran berlebih, dengan respons yang langsung terasa sejak pedal ditekan. Perubahan itu sudah jadi bagian dari pengalaman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penggunaan EV baik di mobil maupun motor juga tidak berhenti di kendaraan pribadi. Masuk ke transportasi umum, layanan komersial, sampai kebutuhan operasional bisnis. Artinya, perubahan ini tidak terjadi di satu sisi saja. Ini sudah mulai menyentuh banyak lapisan kehidupan sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di balik itu, ada proses besar yang sedang berjalan. Infrastruktur terus dibangun, akses charging station makin berkembang, dan ekosistem mulai terbentuk. Memang belum sempurna, tapi justru di fase ini arah perubahan mulai terlihat jelas. Orang yang masuk lebih awal tidak sekadar mengikuti, mereka beradaptasi lebih cepat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sisi konsumen, manfaatnya mulai terasa nyata. Biaya operasional jauh lebih ringan, perawatan lebih sederhana, dan fleksibilitas penggunaan yang semakin relevan dengan kebutuhan harian. Bagi banyak orang, ini soal efisiensi dan kenyamanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Indonesia juga punya karakter unik dalam perkembangan ini. Dengan jumlah pengguna yang besar dan aktivitas yang terus bergerak, adopsi kendaraan listrik berkembang karena kebutuhan yang nyata di lapangan. Dari mobilitas harian sampai kebutuhan usaha, semuanya mulai terkoneksi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Akan tetapi preferensi pengguna yang masih berkembang, pilihan kendaraan semakin beragam, cara orang melihat mobil juga mulai berubah dari sekadar alat transportasi, menjadi bagian dari gaya hidup dan keputusan praktis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kondisi seperti ini, sering muncul keraguan. Apakah ini sudah waktu yang tepat? Apakah infrastrukturnya cukup? Pertanyaan itu wajar. Tapi di setiap perubahan besar, selalu ada fase awal di mana belum semua jawaban tersedia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Justru di fase ini, terlihat siapa yang memilih untuk mulai lebih dulu. Mereka yang mencoba, belajar, dan menyesuaikan diri lebih awal biasanya punya pemahaman yang lebih kuat ketika perubahan itu menjadi arus utama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Periklindo melihat bahwa perubahan ini tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan koneksi antar pelaku, sinkronisasi arah, dan dukungan ekosistem yang terintegrasi. Tujuannya sederhana, memastikan bahwa perkembangan kendaraan listrik di Indonesia tidak berjalan parsial, tapi bergerak sebagai satu kesatuan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada akhirnya, selain industri dan teknologi, perubahan ini adalah tentang bagaimana masyarakat mulai bergerak ke arah baru. Dan seperti banyak perubahan sebelumnya, yang bergerak lebih dulu biasanya yang paling siap ketika semuanya menjadi standar.</span></p>
<p><b>Oleh: Periklindo</b></p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/05/05/ev-di-indonesia-dari-flexing-ke-kebutuhan/">EV DI INDONESIA, DARI FLEXING KE KEBUTUHAN</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/05/05/ev-di-indonesia-dari-flexing-ke-kebutuhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KENDARAAN LISTRIK UBAH LIFESTYLE DAN WATAK KOTA</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/04/30/kendaraan-listrik-ubah-lifestyle-dan-watak-kota/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/04/30/kendaraan-listrik-ubah-lifestyle-dan-watak-kota/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 08:19:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11691</guid>

					<description><![CDATA[<p>Coba bayangkan satu momen sederhana. Di lampu merah persimpangan kota megapolitan, kendaraan berhenti berderet, tetapi suasananya tidak lagi riuh seperti dulu. Tidak ada deru mesin yang saling bertabrakan. Pengendara iseng yang bosan sambil menginjak pedal gas yang membuat asap knalpot ngebul. . Yang terdengar justru lebih tipis, ban bergesekan pelan dengan jalanan, percakapan samar dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/04/30/kendaraan-listrik-ubah-lifestyle-dan-watak-kota/">KENDARAAN LISTRIK UBAH LIFESTYLE DAN WATAK KOTA</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Coba bayangkan satu momen sederhana. Di lampu merah persimpangan kota megapolitan, kendaraan berhenti berderet, tetapi suasananya tidak lagi riuh seperti dulu. Tidak ada deru mesin yang saling bertabrakan. Pengendara iseng yang bosan sambil menginjak pedal gas yang membuat asap knalpot ngebul.<br />
.<br />
Yang terdengar justru lebih tipis, ban bergesekan pelan dengan jalanan, percakapan samar dari trotoar, dan kota yang tetap hidup dengan cara yang berbeda. Karena ketika mode P, mau diinjak sekeras apapun pedal gas kendaraan listrik, tidak akan ada respons apapun.</p>
<p>Kendaraan listrik menghadirkan pengalaman yang terasa langsung sejak awal digunakan. Tanpa raungan mesin dan knalpot, perjalanan menjadi lebih halus. Pada kecepatan rendah, kehadirannya bahkan hampir tidak terasa. Ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan perubahan rasa saat berada di jalan.</p>
<p>Dampaknya bisa melebar ke hal yang selama ini jarang diperhatikan, yakni polusi suara. Kota-kota besar terbiasa dengan kebisingan sebagai latar belakang kehidupan. Padahal, tingkat kebisingan yang tinggi berhubungan erat dengan tingkat stres, kesehatan mental, kualitas istirahat dan berbagai dampak medis lainnya.</p>
<p>Ketika kendaraan listrik mulai mengisi jalan, kota perlahan mendapatkan kembali lapisan ketenangan yang lama hilang.</p>
<p>Ketenangan ini datang dengan penyesuaian baru. Berkendara dengan EV mendorong perencanaan yang lebih rapi. Mulai dari memikirkan jarak tempuh, antrean titik pengisian daya, hingga kebiasaan mengisi baterai menjadi bagian dari rutinitas.</p>
<p>Perjalanan harus lebih terukur. Ada disiplin yang terbentuk tanpa perlu dipaksakan. Ini adalah pembiasaan yang perlu dikerjakan.</p>
<p>Menariknya, perubahan ini berdampak ke cara berpikir juga gaya hidup alias lifestyle. Setiap perjalanan membawa pertimbangan, setiap keputusan memiliki hitungan. Lifestyle yang terbentuk menjadi lebih terorganisir. Dalam hal ini, kendaraan listrik telah melampaui fungsinya sebagai alat transportasi.</p>
<p>Di sisi lain, sistem pendukung masih terus berproses. Infrastruktur pengisian daya berkembang. Beberapa tempat belum merata. Di beberapa lokasi, akses terasa mudah. Di lokasi lain masih sulit. Teknologi bergerak cepat, sistem menyusul dengan ritme yang berbeda.</p>
<p>Kota yang lebih senyap menghadirkan wajah baru dari kemajuan. Modernitas selama ini identik dengan kebisingan dan intensitas tinggi. Seolah makin berisik, makin produktif. Padahal yang terjadi, malah menyebabkan banyak gejala medis lain.</p>
<p>Kendaraan listrik menawarkan versi lain. Perubahan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya akan terasa dalam jangka panjang.</p>
<p>Dari sini, peranan Periklindo (Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia) menjadi relevan. Transisi menuju kendaraan listrik memerlukan lebih dari sekadar produk yang siap pakai.</p>
<p>Dibutuhkan arah, pengawalan, serta dorongan agar ekosistem tumbuh seimbang. Dari industri, infrastruktur, kenyamanan pengguna dan segala detail yang akan muncul dalam dinamika adaptasi ini.</p>
<p>Ketika semua elemen bergerak dalam satu irama, kota yang lebih senyap tadi tidak sekadar menjadi gambaran, tetapi perlahan menjadi kenyataan yang bisa dirasakan bersama.</p>
<p>Macet tetaplah macet. Hanya saja, yang berisik bukan lagi mesin dan asap, melainkan klakson dan mindset pengendara… Untuk ini, bukan tugas Periklindo untuk selesaikan akhlak.</p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/04/30/kendaraan-listrik-ubah-lifestyle-dan-watak-kota/">KENDARAAN LISTRIK UBAH LIFESTYLE DAN WATAK KOTA</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/04/30/kendaraan-listrik-ubah-lifestyle-dan-watak-kota/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>RAMADAN DAN KENDARAAN LISTRIK, KETIKA SPIRITUALITAS BERTEMU EFISIENSI</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 04:42:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11551</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sekilas, Ramadan dan kendaraan listrik terasa seperti dua dunia yang tidak punya hubungan. Satu berbicara tentang iman, refleksi, dan pengendalian diri. Yang lain tentang teknologi, baterai, dan efisiensi energi.  Tapi kalau ditarik lebih dalam, keduanya justru bertemu di titik yang sama, yaitu kesadaran terhadap energi, bagaimana kita menggunakannya, dan bagaimana kita belajar menahan diri di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/">RAMADAN DAN KENDARAAN LISTRIK, KETIKA SPIRITUALITAS BERTEMU EFISIENSI</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Sekilas, Ramadan dan kendaraan listrik terasa seperti dua dunia yang tidak punya hubungan. Satu berbicara tentang iman, refleksi, dan pengendalian diri. Yang lain tentang teknologi, baterai, dan efisiensi energi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi kalau ditarik lebih dalam, keduanya justru bertemu di titik yang sama, yaitu kesadaran terhadap energi, bagaimana kita menggunakannya, dan bagaimana kita belajar menahan diri di tengah dunia yang selalu mendorong kita untuk lebih cepat, lebih keras, dan lebih konsumtif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ramadan membawa perubahan ritme yang terasa nyata di Indonesia. Suasana menjadi sedikit lebih tenang, emosi lebih dijaga, dan orang-orang mencoba menurunkan tempo hidupnya. Ada latihan kolektif untuk tidak reaktif. Tidak semua dorongan harus diikuti. Tidak semua keinginan harus dipenuhi sekarang juga. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di situ puasa selain ritual fisik, ibadah ini mengajarkan proses pembentukan karakter. Dan menariknya, filosofi ini punya kemiripan dengan karakter kendaraan listrik yang tenang, efisien, dan tidak bergantung pada kebisingan untuk menunjukkan kekuatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam perspektif agama Abrahamik, kita melihat ada nuansa yang sangat familiar dalam praktik puasa ini. Tradisi puasa dalam setiap agama tidak selalu seragam dan sering kali bergantung pada bagaimana seseorang menjalani iman secara pribadi. Ada yang ketat, ada yang santai, ada yang lebih reflektif. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun esensinya tetap sama. Melatih pengendalian diri, merapikan hati, dan belajar menggunakan energi hidup secara bijak. Dari perspektif ini, Ramadan menjadi inspirasi lintas iman tentang bagaimana manusia membangun karakter melalui disiplin yang hening.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik, dalam cara yang unik, merepresentasikan filosofi yang serupa. Ia tidak meraung-raung seperti mesin konvensional, tidak menuntut perhatian lewat suara keras, tetapi bekerja dengan efisiensi yang diam-diam kuat. Mengemudi EV terasa lebih mindful. Akselerasi bersih, pergerakan halus, dan energi digunakan dengan perhitungan. Bahkan konsep regenerative braking seolah menjadi metafora kehidupan. Metafora ketika kita melambat, energi tidak hilang begitu saja, melainkan dikumpulkan kembali untuk perjalanan berikutnya. Dalam dunia yang terbiasa memuja agresivitas, EV menawarkan cara baru yang lebih tenang namun tetap efektif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ramadan mengajak manusia menahan diri dari konsumsi berlebihan. EV juga lahir dari kesadaran bahwa energi planet tidak bisa terus dipakai tanpa refleksi. Ada kesamaan spirit di sana. Puasa menjadi eco-mode bagi jiwa manusia. Kendaraan listrik menjadi eco-mode bagi mobilitas modern. Keduanya mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu identik dengan kebisingan atau kecepatan tanpa arah. Kadang justru ketenangan, konsistensi, dan kesadaran yang membuat perjalanan menjadi lebih bermakna.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Indonesia, di mana keberagaman iman hidup berdampingan setiap hari, momen Ramadan bisa menjadi pengingat bahwa spiritualitas dan kemajuan teknologi tidak harus berjalan terpisah. Justru keduanya bisa saling memperkaya cara kita memahami dunia. Melihat saudara-saudara Muslim menjalani ibadah puasa, ada inspirasi yang kuat tentang disiplin dan kedamaian. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan ketika filosofi itu disandingkan dengan karakter kendaraan listrik yang tenang dan efisien, muncul gambaran menarik tentang masa depan. Manusia yang bergerak maju, tetapi dengan hati yang lebih hening dan energi yang digunakan dengan lebih bijak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Periklindo mengucapkan selamat memasuki bulan Ramadan bagi saudara-saudara Muslim di Indonesia. Semoga perjalanan menahan diri ini membawa kedamaian, kejernihan hati, dan kekuatan baru hingga tiba hari kemenangan di Idul Fitri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/">RAMADAN DAN KENDARAAN LISTRIK, KETIKA SPIRITUALITAS BERTEMU EFISIENSI</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BEV sebagai Strategi Governance</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 04:36:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11548</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengelola Risiko Logistik di Era Transisi Energi Diskusi mengenai kendaraan listrik sering berfokus pada teknologi atau isu lingkungan. Dalam praktik tata kelola perusahaan, terutama pada sektor logistik, perubahan menuju BEV memiliki makna yang lebih luas. Migrasi armada menjadi bagian dari strategi governance yang berkaitan dengan pengelolaan risiko operasional dan kesiapan menghadapi perubahan regulasi. Istilah governance [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/">BEV sebagai Strategi Governance</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><i>Mengelola Risiko Logistik di Era Transisi Energi</i></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diskusi mengenai <strong>kendaraan</strong> listrik sering berfokus pada <strong>teknologi</strong> atau isu lingkungan. Dalam praktik tata kelola perusahaan, terutama pada sektor logistik, perubahan menuju BEV memiliki makna yang lebih luas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Migrasi armada menjadi bagian dari strategi governance yang berkaitan dengan pengelolaan risiko operasional dan kesiapan menghadapi perubahan regulasi. Istilah governance dalam konteks ESG merujuk pada bagaimana perusahaan mengambil keputusan secara transparan, terukur, dan mampu menjaga keberlanjutan bisnis melalui manajemen risiko yang baik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Indonesia, integrasi aspek ESG dalam tata kelola juga semakin didorong oleh regulator, termasuk melalui Peraturan OJK terkait penerapan keuangan berkelanjutan yang mendorong perusahaan menyusun laporan keberlanjutan dan transparansi risiko lingkungan serta sosial.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kebijakan energi global bergerak menuju pengurangan emisi secara bertahap. Indonesia juga mendorong transisi energi melalui berbagai program kendaraan listrik serta pengembangan infrastruktur pendukung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% secara mandiri pada tahun 2030 sesuai Enhanced NDC (Nationally Determined Contribution), dengan sektor energi dan transportasi menjadi kontributor utama dalam upaya tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Transisi energi berarti pergeseran dari penggunaan energi berbasis bahan bakar fosil menuju sumber energi yang lebih efisien dan rendah emisi, termasuk elektrifikasi transportasi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perusahaan logistik yang mulai beradaptasi lebih awal memiliki ruang lebih luas untuk merencanakan investasi jangka panjang dan menghindari tekanan biaya akibat perubahan kebijakan di masa depan. Kementerian Keuangan telah mulai menerapkan mekanisme harga karbon di Indonesia, termasuk pajak karbon yang dirancang sebagai instrumen ekonomi untuk mendorong pengurangan emisi secara bertahap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Struktur biaya kendaraan listrik memberikan karakteristik berbeda dibanding kendaraan berbahan bakar fosil. Komponen mekanis lebih sederhana sehingga kebutuhan perawatan cenderung lebih rendah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai gambaran, kendaraan listrik tidak memiliki banyak komponen seperti sistem pembakaran, transmisi kompleks, atau sistem pembuangan, sehingga potensi perawatan rutin menjadi lebih ringan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Analisis International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa biaya perawatan kendaraan listrik dapat lebih rendah hingga sekitar 20–40% dibanding kendaraan mesin pembakaran internal karena jumlah komponen bergerak yang lebih sedikit. Hal ini membantu perusahaan membangun proyeksi biaya operasional yang lebih stabil.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Stabilitas ini menjadi faktor penting dalam tata kelola karena memudahkan perencanaan anggaran dan manajemen risiko finansial.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Digitalisasi juga memainkan peran besar dalam integrasi ESG. Kendaraan listrik memungkinkan pencatatan data penggunaan energi secara real-time melalui sistem telematika.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Telematika adalah sistem digital yang menggabungkan sensor kendaraan, konektivitas internet, dan software monitoring untuk mencatat performa kendaraan, konsumsi energi, serta pola operasional secara otomatis. Kemampuan monitoring digital ini mendukung kebutuhan pelaporan ESG berbasis data, yang semakin menjadi standar global bagi investor institusional dan lembaga pembiayaan internasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Data tersebut dapat langsung diintegrasikan ke dalam laporan keberlanjutan yang semakin dibutuhkan oleh investor dan regulator. Transparansi berbasis data menjadi indikator penting dalam penilaian governance modern.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain faktor internal, tekanan juga datang dari rantai pasok global. Banyak perusahaan internasional mulai memilih mitra logistik yang mampu menunjukkan standar keberlanjutan yang jelas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">World Bank dan IEA mencatat bahwa standar ESG semakin menjadi bagian dari persyaratan rantai pasok global, termasuk pelaporan emisi dan efisiensi energi sebagai indikator keberlanjutan operasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Standar ini biasanya terkait dengan laporan emisi, efisiensi energi, serta komitmen terhadap target ESG yang menjadi bagian dari persyaratan kerja sama internasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Armada listrik menjadi indikator kesiapan dalam mengikuti perubahan tersebut. Perusahaan yang mampu beradaptasi menunjukkan kemampuan manajemen dalam membaca arah industri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam konteks governance, migrasi menuju BEV dapat dilihat sebagai langkah preventif. Transformasi armada membantu perusahaan menjaga fleksibilitas operasional ketika regulasi berubah, sekaligus memperkuat reputasi di mata publik dan investor.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perubahan ini menunjukkan bahwa governance bukan sekadar kepatuhan administratif melainkan berkaitan dengan kemampuan perusahaan melihat tren energi dan menyesuaikan operasional sebelum tekanan eksternal menjadi bantuan yang terlambat.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Sumber Referensi Resmi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.ojk.go.id/id/regulasi/Pages/POJK-51-POJK.03-2017.aspx</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://unfccc.int/sites/default/files/NDC/2022-09/Indonesia%20Enhanced%20NDC.pdf</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://fiskal.kemenkeu.go.id/kajian/2021/10/28/172203196121811-kebijakan-harga-karbon-di-indonesia</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.iea.org/reports/global-ev-outlook</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.worldbank.org/en/topic/climatechange</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/">BEV sebagai Strategi Governance</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BEV dalam Transformasi Logistik</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 04:27:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11545</guid>

					<description><![CDATA[<p>ESG sebagai Keputusan Operasional yang Rasional Perubahan menuju kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) mulai terlihat sebagai bagian dari strategi operasional di sektor logistik. Diskusi tentang ESG sering dianggap abstrak, padahal dampaknya langsung terasa pada keputusan teknis sehari-hari, terutama pada jenis armada yang digunakan.  ESG sendiri merujuk pada tiga aspek utama dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/">BEV dalam Transformasi Logistik</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b><i>ESG sebagai Keputusan Operasional yang Rasional</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perubahan menuju kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) mulai terlihat sebagai bagian dari strategi operasional di sektor logistik. Diskusi tentang ESG sering dianggap abstrak, padahal dampaknya langsung terasa pada keputusan teknis sehari-hari, terutama pada jenis armada yang digunakan.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">ESG sendiri merujuk pada tiga aspek utama dalam menilai keberlanjutan perusahaan, yaitu Environmental (dampak lingkungan), Social (dampak sosial terhadap manusia), dan Governance (tata kelola perusahaan yang transparan dan bertanggung jawab).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tekanan terhadap pengurangan emisi semakin nyata. Pemerintah Indonesia telah memasukkan target </span><i><span style="font-weight: 400;">net zero emission </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam agenda pembangunan nasional, sehingga sektor transportasi menjadi salah satu fokus utama dalam transisi energi. </span></p>
<p><b>Indonesia menargetkan Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat, sebagaimana disampaikan dalam dokumen perencanaan nasional dan strategi jangka panjang pembangunan rendah karbon.</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Net zero emission</span></i><span style="font-weight: 400;"> berarti kondisi di mana jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan seimbang dengan jumlah emisi yang dikurangi atau diserap kembali, sehingga total dampak terhadap iklim mendekati nol.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aktivitas logistik memiliki kontribusi signifikan terhadap penggunaan energi karena melibatkan distribusi barang secara terus menerus dengan armada dalam jumlah besar. </span></p>
<p><b>Menurut International Energy Agency (IEA), sektor transportasi menyumbang sekitar 24% emisi CO₂ dari pembakaran energi secara global, dan kendaraan berat logistik menjadi salah satu kontributor utama dalam kategori tersebut.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap perubahan pada kendaraan operasional memberikan dampak langsung terhadap jejak karbon perusahaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik menghadirkan pendekatan yang lebih sederhana dalam memahami efisiensi energi. Motor listrik mampu mengubah sebagian besar energi menjadi gerakan kendaraan. </span></p>
<p><b>Efisiensi motor listrik dapat mencapai sekitar 85–90%, sementara mesin pembakaran internal umumnya berada pada kisaran 20–30% karena sebagian besar energi hilang sebagai panas.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini membuat penggunaan energi menjadi lebih efisien dibanding sistem pembakaran konvensional yang menghasilkan banyak energi panas. Dalam konteks logistik, efisiensi ini memengaruhi biaya operasional serta intensitas emisi per kilometer perjalanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain efisiensi energi, dampak lokal juga menjadi faktor penting. Armada distribusi sering melewati kawasan padat penduduk, termasuk jalur perkotaan dan area permukiman. Kendaraan listrik beroperasi dengan tingkat kebisingan lebih rendah dan tanpa emisi knalpot langsung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Polusi udara dari transportasi jalan raya diketahui berkontribusi terhadap emisi NOx dan partikulat yang memengaruhi kualitas udara perkotaan, sehingga elektrifikasi armada menjadi salah satu strategi mitigasi yang didorong banyak pemerintah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari perspektif ESG, pilar environmental berarti fokus pada bagaimana aktivitas perusahaan mempengaruhi lingkungan, termasuk penggunaan energi, emisi karbon, dan pengelolaan sumber daya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintah Indonesia juga mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik melalui kebijakan pengembangan ekosistem industri dan infrastruktur pengisian daya. </span><b>Pemerintah menargetkan jutaan unit kendaraan listrik beroperasi pada tahun 2030 sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi dan penguatan industri kendaraan listrik nasional.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Model bisnis terkait baterai juga berkembang seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik. Pendekatan seperti </span><i><span style="font-weight: 400;">battery-as-a-service</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan aset, sekaligus membuka peluang pemanfaatan baterai pada tahap kedua seperti penyimpanan energi statis. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konsep ini memungkinkan perusahaan menggunakan baterai tanpa harus memilikinya secara penuh, sementara penyedia layanan bertanggung jawab atas perawatan, penggantian, dan siklus daur ulang. Hal ini mendukung konsep ekonomi sirkular yang semakin relevan dalam standar ESG.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain aspek lingkungan, perubahan menuju BEV juga memengaruhi hubungan perusahaan dengan publik. Konsumen semakin memperhatikan proses distribusi yang digunakan oleh layanan logistik. Armada listrik memberikan sinyal yang mudah terlihat bahwa perusahaan melakukan transformasi nyata dalam operasionalnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Transisi menuju kendaraan listrik menunjukkan bahwa ESG semakin dekat dengan realitas operasional. Perusahaan logistik yang memahami perubahan ini dapat mengintegrasikan efisiensi energi, tanggung jawab lingkungan, dan strategi bisnis dalam satu keputusan teknis.</span></p>
<p><b>Sumber Referensi Resmi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.esdm.go.d/id/media-center/arsip-berita/strategi-percepatan-pemanfaatan-kendaraan-listrik-di-indonesia-</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://esdm.go.id/en/media-center/news-archives/ini-target-pemerintah-untuk-populasi-kendaraan-listrik-di-tahun-2030</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pengembangan-ekosistem-kblbb-dorong-masuknya-investasi-kendaraan-listrik</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.bappenas.go.id/berita/bappenas-pertamina-dukung-komitmen-net-zero-emission-sejalan-dengan-visi-indonesia-emas-2045-OFEtp</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/">BEV dalam Transformasi Logistik</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Paradigm Shift Kendaraan Listrik dan Pola Pikir Revolusi Industri</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2026 04:33:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11518</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap kali EV dibahas, percakapan hampir selalu kusut di perdebatan yang sama. Charging lama, colokan terbatas, jarak tempuh terasa kurang alias range anxiety. Diskusi berputar pada aspek teknis, seolah inti persoalan berada pada mesin dan baterai.  Padahal perubahan terbesar yang sedang terjadi justru berada pada cara manusia memahami energi dan mobilitas. EV ini berkembang sangat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/">Paradigm Shift Kendaraan Listrik dan Pola Pikir Revolusi Industri</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Setiap kali EV dibahas, percakapan hampir selalu kusut di perdebatan yang sama. Charging lama, colokan terbatas, jarak tempuh terasa kurang alias range anxiety. Diskusi berputar pada aspek teknis, seolah inti persoalan berada pada mesin dan baterai. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal perubahan terbesar yang sedang terjadi justru berada pada cara manusia memahami energi dan mobilitas. EV ini berkembang sangat pesat baru di abad 20, meski secara fun fact, sudah sempat diperkenalkan di tahun 1830-an loh di Eropa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terlepas dari itu, fakta sejarah menunjukkan bahwa kendaraan mesin berbahan bakar minyak, memang merajai pasar sampai akhir tahun 2020, mulai bergeser ke EV. Saat ini, banyak orang masih membawa pola pikir lama yang terbentuk dari pengalaman panjang dengan kendaraan berbahan bakar minyak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">paradigm shift</span></i><span style="font-weight: 400;"> berasal dari pemikiran Thomas Kuhn, seorang filsuf sains asal Amerika yang memperkenalkan gagasan ini melalui bukunya The Structure of Scientific Revolutions. Kuhn mengatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak berjalan linear sesuai kaidah sebab-akibat. Pengetahuan seseorang berubah melalui fase perubahan besar ketika cara lama memahami dunia tidak lagi mampu menjawab realitas baru. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Paradigma lama biasanya bertahan lama karena terasa stabil dan familiar, hingga suatu titik ketika anomali semakin banyak muncul dan memaksa perubahan kerangka berpikir. Pergeseran ini sering menimbulkan penolakan, baik secara halus maupun secara kasar, karena manusia cenderung mempertahankan status quo dari pemikiran dan kebiasaan budaya mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konsep tersebut terasa relevan ketika melihat bagaimana kendaraan listrik diterima hari ini. Selama puluhan tahun, kendaraan identik dengan refill fuel. Energi dituang saat hampir habis, prosesnya cepat, lalu perjalanan dilanjutkan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Fully fueled.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kebiasaan ini membentuk ekspektasi yang kuat tentang bagaimana kendaraan seharusnya bekerja. Ketika kendaraan listrik datang dengan konsep recharge, muncul benturan yang sebenarnya bersifat psikologis. </span><i><span style="font-weight: 400;">Charging </span></i><span style="font-weight: 400;">terasa lambat karena dibandingkan dengan pengalaman yang bekerja dengan logika berbeda sejak awal. </span><i><span style="font-weight: 400;">Fully recharged.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Paradigma baru melihat energi sebagai sesuatu yang dikelola secara berkelanjutan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Charging </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak lagi menjadi aktivitas darurat yang dilakukan ketika indikator menyala merah. Ia menjadi bagian dari ritme harian yang menyatu dengan aktivitas lain. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">EV mengajak pengguna mengubah kebiasaan, dari menunggu energi habis menuju menjaga energi tetap stabil sepanjang waktu. Pergeseran ini terlihat sederhana, namun mengubah cara merasakan perjalanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak pengguna baru mencoba mencari pengalaman yang identik dengan pom bensin. Mereka datang ke </span><i><span style="font-weight: 400;">charging station</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan harapan datang, isi, lalu pergi secepat mungkin. Ketika prosesnya membutuhkan waktu lebih lama seperti pengisian minimal 1 jam, antrean dan lain sebagainya, kesan pertama yang muncul adalah bahwa teknologi ini merepotkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">EV punya paradigma yang berbeda. </span><i><span style="font-weight: 400;">Slow charging </span></i><span style="font-weight: 400;">di rumah atau saat parkir lama menjadi pembentuk pengalaman, sementara </span><i><span style="font-weight: 400;">fast charging </span></i><span style="font-weight: 400;">berperan sebagai pelengkap perjalanan. </span><span style="font-weight: 400;">Perubahan paradigma juga menyentuh cara memahami produktivitas. Selama ini, efisiensi sering diasosiasikan dengan kecepatan. Ada jeda yang muncul secara alami, dan jeda ini membuka kesempatan untuk aktivitas lain tanpa mengganggu perjalanan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak pengguna mulai melihat waktu dengan cara berbeda, lebih terencana dan yang penting, lebih sadar terhadap energi yang digunakan. Karena dengan mengisi minyak, sering kali kita </span><i><span style="font-weight: 400;">take it for granted</span></i><span style="font-weight: 400;"> terhadap energi yang diperoleh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Narasi tentang listrik nasional juga sering terjebak dalam paradigma lama. Kekhawatiran bahwa EV akan menguras pasokan listrik muncul berulang kali, seolah setiap kendaraan tambahan menjadi ancaman bagi sistem energi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Realitasnya lebih kompleks. Indonesia memiliki kapasitas produksi listrik yang besar dengan kondisi surplus di banyak periode. Tantangan utama berada pada manajemen penggunaan dan distribusi, bukan pada asumsi bahwa energi akan segera habis. Pergeseran paradigma diperlukan agar listrik dipahami sebagai sistem dinamis yang dapat dioptimalkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal menarik lain dari EV adalah meningkatnya kesadaran terhadap energi. Pengguna mulai memperhatikan konsumsi kWh, gaya berkendara (eco, normal, sport), serta efisiensi perjalanan secara lebih detail. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Energi yang sebelumnya terasa abstrak kini menjadi sesuatu yang nyata dan terukur dalam kehidupan sehari-hari. Mobilitas berubah dari sekadar menggerakkan kendaraan menjadi pengalaman memahami bagaimana energi bekerja.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Paradigm shift</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak terjadi dalam satu malam. Jalannya tidak gegabah, bahkan sering kali tanpa disadari. EV saat ini berada pada fase di mana teknologi sudah melangkah maju, sementara cara berpikir publik masih berusaha mengejar. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diskusi yang terus berputar pada kekurangan teknis sering kali hanya menjadi refleksi dari paradigma lama yang belum sepenuhnya bergeser. Ketika cara berpikir berubah, pengalaman terhadap kendaraan listrik ikut berubah, dan mobilitas memasuki fase baru yang lebih sadar energi dan lebih terencana.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Periklindo hadir untuk mendampingi dan mengedukasi masyarakat agar bisa memahami perkembangan kendaraan listrik di Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/">Paradigm Shift Kendaraan Listrik dan Pola Pikir Revolusi Industri</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masa Depan EV Dimulai dari Home Charging</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 05:20:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11511</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jalanan Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya mulai ramai dengan deretan mobil listrik yang dulu hanya mimpi. Dari sedan mewah sampai city car yang harganya kini semakin bersahabat dengan kantong kelas menengah. Tapi di balik euforia ini, ada satu masalah klasik yang selalu menghantui industri baru: infrastruktur yang tertinggal jauh dari penjualan. Bayangkan saja, hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/">Masa Depan EV Dimulai dari Home Charging</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Jalanan Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya mulai ramai dengan deretan mobil listrik yang dulu hanya mimpi. Dari sedan mewah sampai city car yang harganya kini semakin bersahabat dengan kantong kelas menengah. Tapi di balik euforia ini, ada satu masalah klasik yang selalu menghantui industri baru: infrastruktur yang tertinggal jauh dari penjualan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bayangkan saja, hingga Agustus 2025, mobil listrik murni (BEV) sudah terjual sekitar 51.000 unit secara wholesales. Pangsa pasarnya bahkan sudah menembus 10 persen dari total penjualan mobil nasional. Angka ini adalah angka yang beberapa tahun lalu terdengar mustahil. Namun realitanya, ketika Anda butuh mengisi daya, pilihan masih sangat terbatas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di seluruh Indonesia, SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) baru tersedia sekitar 4.186 unit di 2.789 lokasi. Bandingkan dengan target PLN yang menetapkan rasio 1:17 antara SPKLU dan kendaraan listrik, dengan kebutuhan 6.278 unit SPKLU di tahun 2025. Artinya, kita masih kekurangan lebih dari 2.000 unit lagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini baru membandingkan dengan rasio PLN, yang menurut kebanyakan orang masih kurang ideal. Sedangkan ideal menurut konsumen, ada di angka 1:5.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemilik EV pasti familiar dengan drama ini: sampai di SPKLU sudah penuh, harus antre sampai berjam-jam karena pengecasan butuh waktu. Fast charging pun butuh 1-2 jam. Atau ketika butuh cas darurat, ternyata SPKLU terdekat jaraknya jauh. Belum lagi distribusinya yang timpang. Mayoritas terkonsentrasi di Jawa, sementara daerah lain masih gelap gulita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memang ada sekitar 1.902 unit fasilitas penukaran baterai (</span><i><span style="font-weight: 400;">swap battery</span></i><span style="font-weight: 400;">), tapi layanan ini belum universal. Motor listrik tertentu bisa, tapi mobil? Belum ada yang mendukung secara massal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah keterbatasan ini, </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> muncul sebagai penyelamat. Bayangkan bisa mengisi daya mobil di garasi sendiri setiap malam, bangun pagi langsung siap pakai tanpa drama antre atau jalan jauh ke SPKLU. Rasanya seperti punya “pom bensin” pribadi di rumah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Investasinya memang tidak main-main. Banyak rumah kelas menengah masih pakai daya 2.200–4.400 VA, padahal untuk cas EV yang stabil butuh minimal 7.700 VA. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untungnya, PLN sudah menyediakan program khusus untuk pemilik mobil listrik yang ingin menaikkan daya dengan biaya ringan bahkan diskon besar di periode tertentu. Program ini memungkinkan konsumen melakukan instalasi </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> sesuai standar keamanan tanpa terbebani biaya besar. </span><i><span style="font-weight: 400;">Stay tuned!</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena kalau dihitung jangka panjang, </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> jauh lebih masuk akal. Tidak perlu buang waktu antre, tidak perlu khawatir kehabisan daya di tengah jalan, dan yang paling penting: kenyamanan yang tidak ternilai harganya. Biaya pun relatif lebih murah dibandingkan SPKLU.</span></p>
<p><b>Peran Periklindo sebagai Jembatan Solusi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Langkah menghadirkan ekosistem </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging </span></i><span style="font-weight: 400;">sebenarnya sudah dimulai. Hyundai sejak 2022 telah menyediakan paket pembelian mobil listrik lengkap dengan instalasi </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk konsumennya. Namun, alangkah lebih baik jika program ini bisa diikuti oleh seluruh APM kendaraan listrik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sinilah Periklindo sebagai asosiasi punya peran strategis. Periklindo bisa menjadi penghubung antara PLN, produsen mobil listrik, dan pemerintah untuk memastikan program seperti ini tidak hanya inisiatif satu-dua merek, melainkan menjadi standar pelayanan purna jualnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bayangkan kalau beli mobil listrik langsung dapat paket instalasi </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan harga </span><i><span style="font-weight: 400;">bundling</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dimana PLN sudah memberikan tarif listrik khusus untuk pemilik EV yang cas di malam hari, </span><i><span style="font-weight: 400;">win-win solution</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena beban puncak listrik bisa terdistribusi di waktu-waktu luar beban puncak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang tidak kalah penting adalah standarisasi instalasi. Jangan sampai semangat pasang </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> malah berujung korsleting atau kebakaran karena instalasi asal-asalan. Periklindo bisa memastikan ada sertifikasi teknisi dan standar pemasangan yang aman. Kerjasama dengan PLN bisa menjadi kunci. Jadi tidak membiarkan konsumen mencari sendiri dan akhirnya yang terpasang adalah instalasi yang tidak standar.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Home charging </span></i><span style="font-weight: 400;">bukan sekadar solusi teknis, tapi simbol kesiapan Indonesia memasuki era transportasi listrik. Tanpa kenyamanan bagi pemilik, adopsi EV bisa mandek jadi tren sesaat seperti gadget yang cepat dilupakan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan regulasi yang tepat, insentif yang menarik, dan Periklindo sebagai jembatan komunikasi, Indonesia punya kesempatan memastikan transisi ke transportasi listrik berlangsung mulus. Bukan hanya untuk yang tinggal di Jakarta atau Surabaya, tapi untuk seluruh Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintah dalam hal ini ESDM atau PLN bisa juga memanfaatkan home charging yang sudah terpasang di rumah pelanggan PLN untuk dapat berfungsi sebagai SPKLU.  Dengan demikian, jumlah keberadaan SPKLU bisa meningkat dengan pesat. Namun ada catatan penting yang perlu kita perhatikan atau antisipasi bahwa ini harus atas dasar persetujuan pihak pemilik rumah agar privasi tetap terjaga. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Indonesia menuju era listrik, dan</span><i><span style="font-weight: 400;"> home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah pintu gerbangnya.</span></p>
<p>Oleh : Periklindo</p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/">Masa Depan EV Dimulai dari Home Charging</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia Harus Berkelanjutan</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/06/ekosistem-kendaraan-listrik-indonesia-harus-berkelanjutan/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/06/ekosistem-kendaraan-listrik-indonesia-harus-berkelanjutan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 05:12:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11508</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mobil listrik tidak lagi sekadar jargon masa depan. Masa depan itu sudah tiba dan sedang dinikmati. Jalanan di kota-kota di Indonesia kini mulai dipenuhi model-model kendaraan listrik baru yang hadir dengan harga semakin bersaing.  Dari harga, konsumen jelas diuntungkan karena mereka bisa memilih kendaraan yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Tetapi di balik euforia itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/ekosistem-kendaraan-listrik-indonesia-harus-berkelanjutan/">Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia Harus Berkelanjutan</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Mobil listrik tidak lagi sekadar jargon masa depan. Masa depan itu sudah tiba dan sedang dinikmati. Jalanan di kota-kota di Indonesia kini mulai dipenuhi model-model kendaraan listrik baru yang hadir dengan harga semakin bersaing. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari harga, konsumen jelas diuntungkan karena mereka bisa memilih kendaraan yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Tetapi di balik euforia itu, produsen dan jaringan penjualan harus menghadapi kenyataan dimana persaingan makin keras, margin keuntungan makin menipis, biaya impor tinggi, dan regulasi yang menuntut kepastian kualitas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena kalau bicara soal ekosistem, kita harus bicara seluruh elemennya. Baik dari produsen, konsumen, infrastruktur, </span><i><span style="font-weight: 400;">green energy </span></i><span style="font-weight: 400;">dan keseluruhan sistem yang kesemuanya harus terpenuhi dengan baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Persaingan harga memang menggoda, tetapi tanpa kendali dan ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan, hal ini bisa menjadi pisau bermata dua.</span></p>
<p><b>Dari Persaingan Harga ke Industri Berkelanjutan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Harga mobil listrik di Indonesia, dengan spesifikasi yang sama, masih lebih tinggi dibandingkan di Tiongkok. Mini EV di Tiongkok bisa didapat dengan enam puluh juta rupiah, di Indonesia harus melonjak tiga kali lipat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu kita harus memahami bahwa ada ongkos kirim, pajak impor, dan distribusi yang membuat perbedaan itu muncul. Namun hal yang tidak boleh dilupakan adalah segi kualitas maupun keamanan. Sebagai orang yang berlatar belakang teknik industri, kita tentu perlu memahami salah satu aspek dalam pengendalian kualitas, yakni six sigma. Six Sigma bukan sekadar teori, namun ini adalah implementasi menuju tingkat error yang sangat rendah dalam sektor industri baik jasa maupun pengadaan barang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik boleh murah, tetapi harus aman, tahan lama, dan dilengkapi layanan service after sales yang jelas. Pemerintah memegang peran vital di sini, memastikan standar baterai, sistem pendingin, hingga mekanisme daur ulang limbah benar-benar dipatuhi secara protokoler.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Percepatan pembangunan pabrik dalam negeri adalah jawabannya. Saat ini, beberapa perusahaan produsen kendaraan listrik sudah mulai bergerak dan ekspansi ke Indonesia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">BYD sedang menyiapkan pabrik di Subang dengan investasi sekitar satu miliar dolar Amerika. Kapasitas awalnya 150.000 unit per tahun, dengan potensi berkembang dua kali lipat. Proyek ini diperkirakan menyerap lebih dari tiga belas ribu tenaga kerja dan menghidupkan </span><i><span style="font-weight: 400;">local supply chain, </span></i><span style="font-weight: 400;">dari komponen hingga logistik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">VinFast asal Vietnam pun tak mau ketinggalan. Mereka menggelontorkan investasi sekitar 3T rupiah untuk pabrik di Jawa Barat dengan kapasitas 50.000 unit per tahun, serta menargetkan 100.000 infrastruktur pengisian baterai di seluruh Indonesia. Dampaknya bukan hanya kendaraan yang lebih murah, tetapi juga belasan ribu lapangan kerja baru di sektor energi dan manufaktur.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wuling lebih dulu memberi contoh konkret. Pabrik mereka di Cikarang melahirkan Air EV, Binguo EV, hingga Cloud EV. Penjualan 2024 menembus tiga belas ribu unit, dengan Cloud EV yang baru setahun diluncurkan langsung mencatat ribuan pemesanan. Pabrik ini mempekerjakan ribuan pekerja lokal dan melibatkan puluhan pemasok dalam negeri. Bukti nyata bahwa produksi lokal bukan hanya retorika, melainkan cara paling efektif menekan harga sekaligus menjaga kualitas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Angka penjualan pun menunjukkan momentum yang kuat. Sepanjang 2024, mobil listrik jenis BEV terjual lebih dari 43.000 unit. Hanya dalam 7 bulan pertama 2025, penjualan sudah menembus 42.000 unit. BYD mendominasi dengan hampir 19.000 unit atau sepertiga dari pasar. Wuling menguasai sekitar 14%, Denza 13%, Chery 11%, dan Aion 8%. Model seperti BYD Sealion 7, BYD M6, dan Wuling Air EV selalu berada di puncak daftar penjualan bulanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Momentum ini jelas tidak boleh disia-siakan. Indonesia tidak boleh hanya puas menjadi pasar yang ramai, melainkan harus bergerak menjadi pusat produksi dan inovasi. Regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) harus ditegakkan, insentif fiskal perlu konsisten, dan infrastruktur pengisian harus diperluas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sinilah Periklindo memiliki peran strategis untuk mendampingi masyarakat, memberi edukasi, dan menjadi mitra pemerintah agar transisi ini bukan sekadar tren sesaat seperti ombak yang datang dengan deburan kencang, namun hilang bersama buihnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mobil listrik adalah fondasi baru bagi transportasi nasional. Ia lebih dari sekadar kendaraan hemat dan bersih, tetapi simbol arah baru ekonomi dan teknologi Indonesia. Jika semua pihak berjalan seirama, Indonesia akan masuk ke peta dunia bukan hanya sebagai konsumen, tetapi sebagai produsen utama kendaraan listrik. Masa depan itu tidak lagi jauh di depan, ia sudah ada hari ini.</span></p>
<p>Oleh : Periklindo</p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/ekosistem-kendaraan-listrik-indonesia-harus-berkelanjutan/">Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia Harus Berkelanjutan</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/06/ekosistem-kendaraan-listrik-indonesia-harus-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>EV, SPKLU, DAN FILOSOFI MENUNGGU</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/06/ev-spklu-dan-filosofi-menunggu/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/06/ev-spklu-dan-filosofi-menunggu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 05:07:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11505</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Ngapain buang-buang waktu ngecas kendaraan listrik? Mana harus nunggu lagi? Isi minyak 3 sampai 5 menit selesai. Itu baru produktif.” Kalimat seperti ini sering muncul saat kendaraan listrik dibicarakan, dibahas dan digoreng. Entah apa yang dimaksud dengan produktif, namun kelihatannya definisi “produktif” dipersempit menjadi cepat, selesai, lalu jalan lagi. Waktu yang menunggu langsung diberi label [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/ev-spklu-dan-filosofi-menunggu/">EV, SPKLU, DAN FILOSOFI MENUNGGU</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ngapain buang-buang waktu ngecas kendaraan listrik? Mana harus nunggu lagi? Isi minyak 3 sampai 5 menit selesai. Itu baru produktif.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalimat seperti ini sering muncul saat kendaraan listrik dibicarakan, dibahas dan digoreng. Entah apa yang dimaksud dengan produktif, namun kelihatannya definisi “produktif” dipersempit menjadi cepat, selesai, lalu jalan lagi. Waktu yang menunggu langsung diberi label pemborosan. Dalam dunia modern, hal ini memang kerap kali menjadi standar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cara berpikir ini lahir dari kebiasaan lama yang menilai nilai waktu hanya dari kecepatan. Semakin singkat berhenti, semakin dianggap efisien. Kendaraan listrik menghadirkan pengalaman berbeda karena pengisian daya memang mengajak berhenti lebih lama. Di titik ini, pemahaman tentang produktivitas mesti diuji ulang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam keseharian, menunggu sering dianggap pasif, buang-buang waktu. Bahkan banyak istri yang ketika melihat suaminya bengong, langsung dicap pemalas. Padahal menunggu bahkan dalam kasus tertentu, bengong, ya itu adalah kondisi ketika manusia hadir penuh tanpa tuntutan reaksi cepat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat gerak berkurang, kesadaran meningkat. Pikiran bekerja lebih tenang dan tidak sekadar bereaksi terhadap rangsangan luar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengalaman di SPKLU menunjukkan hal tersebut. Kendaraan diam, suara hening, dan perhatian tidak terpecah ke banyak hal. Banyak orang mulai menulis, menyusun ide kerja, atau menata ulang rencana. Gagasan muncul perlahan karena kepala tidak lagi dipacu oleh kecepatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengalaman personal bahkan menunjukkan perubahan cara mengelola waktu secara nyata. Pada masa menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak, rutinitas mingguan hampir selalu sama, mampir ke SPBU sebelum berangkat kerja. Dari mulai berbelok masuk area SPBU, antre, mengisi, hingga kembali keluar ke jalan raya, rata-rata memakan sekitar 15 menit. Setelah beralih ke kendaraan listrik, pola ini berubah total. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengisian energi dilakukan di rumah saat malam hari, biasanya ketika pemilik kendaraan bersiap tidur. Artinya tidak ada lagi kewajiban berhenti khusus setiap minggu. Jika dalam satu tahun terdapat 52 minggu, maka waktu yang sebelumnya habis untuk kunjungan rutin ke SPBU mencapai 52 dikali 15 menit, setara 780 menit atau sekitar 13 jam. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Angka ini memperlihatkan bahwa pengalaman EV tidak hanya soal menunggu di SPKLU, tetapi juga tentang menghilangkan banyak jeda kecil yang sebelumnya dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara filosofis, ketenangan selalu menjadi prasyarat lahirnya pemahaman. Pikiran yang terus dikejar waktu cenderung dangkal dan reaktif. Pikiran yang diberi jeda menjadi reflektif dan terarah. Menunggu saat pengisian daya menghadirkan kondisi ini secara alami. Bahkan sejarah mencatat seorang ilmuwan bernama Erwin Schrodinger, menemukan sifat gelombang dalam atom, ketika ia sedang bercinta.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Produktif dalam pengertian yang lebih kompleks, tidak diukur dari seberapa cepat seseorang bergerak. Produktif diukur dari apa yang dihasilkan selama waktu berjalan. Menunggu sambil berpikir, menulis, dan merapikan gagasan memberi hasil yang nyata. Waktu tetap bekerja, hanya arahnya berbeda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hidup modern jarang memberi kesempatan untuk beristirahat dengan sadar. Hari dipenuhi notifikasi, suara, dan tuntutan respons cepat. Pengisian daya kendaraan listrik, bisa dilihat sebagai salah satu bentuk memutus pola tersebut untuk sementara. Waktu tidak mendesak dan perhatian dapat kembali terpusat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam filsafat waktu, jeda bukan kekosongan. Jeda adalah tahap persiapan sebelum gerak berikutnya. Pengisian daya EV berjalan dengan logika yang sama. Energi dikumpulkan perlahan agar perjalanan selanjutnya stabil dan terukur.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">EV dan SPKLU, dalam sisi ini, menawarkan cara baru memandang produktivitas. Bergerak terus tidak selalu menghasilkan kejelasan. Berhenti sejenak sering membantu arah menjadi lebih jelas. Saat pengisian selesai, kendaraan siap melaju dan pikiran telah lebih tertata.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menunggu di SPKLU akhirnya menjadi pelajaran sederhana. Produktif tidak selalu berarti cepat selesai. Produktif berarti sadar menggunakan waktu. Dalam ketenangan itu, daya kendaraan terisi dan ide manusia menemukan bentuknya sebelum perjalanan dilanjutkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/ev-spklu-dan-filosofi-menunggu/">EV, SPKLU, DAN FILOSOFI MENUNGGU</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/06/ev-spklu-dan-filosofi-menunggu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
