<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>News &amp; Update - Periklindo</title>
	<atom:link href="https://periklindo.com/category/news-update/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://periklindo.com</link>
	<description>Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Jul 2026 08:22:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://sgp1.digitaloceanspaces.com/periklindo/2021/11/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>News &amp; Update - Periklindo</title>
	<link>https://periklindo.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>IMPIAN MODERNISME ABAD LALU, SUDAH TERLIHAT SAAT INI</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/07/02/impian-modernisme-abad-lalu-sudah-terlihat-saat-ini/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/07/02/impian-modernisme-abad-lalu-sudah-terlihat-saat-ini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2026 08:22:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11865</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu, jauh sebelum manusia sibuk membahas charging station, artificial intelligence, atau kendaraan tanpa awak, dunia pernah dipenuhi orang-orang yang gemar membayangkan masa depan. Salah satunya datang dari ilustrator Prancis, Jean-Marc Côté.  Pada awal tahun 1900-an, saat sebagian besar manusia masih hidup dengan teknologi sederhana, ia sudah menggambar kota futuristik dengan kendaraan melayang, transportasi udara antar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/07/02/impian-modernisme-abad-lalu-sudah-terlihat-saat-ini/">IMPIAN MODERNISME ABAD LALU, SUDAH TERLIHAT SAAT INI</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Dulu, jauh sebelum manusia sibuk membahas charging station, artificial intelligence, atau kendaraan tanpa awak, dunia pernah dipenuhi orang-orang yang gemar membayangkan masa depan. Salah satunya datang dari ilustrator Prancis, Jean-Marc Côté. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada awal tahun 1900-an, saat sebagian besar manusia masih hidup dengan teknologi sederhana, ia sudah menggambar kota futuristik dengan kendaraan melayang, transportasi udara antar gedung, sampai mesin-mesin otomatis yang terasa seperti khayalan. Gambarnya terlihat liar pada zamannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terlalu maju untuk dipercaya. Tapi dari sanalah manusia mulai belajar satu hal penting: masa depan selalu lahir dari imajinasi orang-orang yang berani bermimpi terlalu jauh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu waktu berjalan pelan. Generasi berikutnya tumbuh bersama Doraemon. Anak-anak melihat pintu ke mana saja, bambu terbang, alat futuristik dari kantong ajaib, lalu tertawa sambil membayangkan dunia modern suatu hari nanti. Tanpa sadar, komik dan cerita seperti itu menanamkan sesuatu yang besar ke kepala manusia: keyakinan bahwa teknologi akan terus membawa peradaban menuju bentuk baru.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hari ini, sebagian mimpi itu mulai terasa dekat. Manusia mulai melihat taksi terbang tanpa awak diuji coba di berbagai negara. Kendaraan autonomous bergerak semakin cerdas. Mobilitas ruang udara mulai dibahas serius, termasuk soal keamanan, jalur penerbangan kota, sampai regulasi langit masa depan. Dunia perlahan bergerak menuju era yang dulu hanya hidup di halaman komik dan film-film futuristik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lucunya, ketika kendaraan listrik mulai masuk ke kehidupan sehari-hari, respons sebagian manusia justru penuh drama. Padahal kendaraan listrik mungkin menjadi salah satu penanda terbesar bahwa dunia sedang bergeser menuju fase baru peradaban modern. Memang belum sampai tahap mobil beterbangan di atas gedung Jakarta. Tapi fondasinya mulai dipasang sekarang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena inti perubahan besar ini sebenarnya berada di energi. </span><span style="font-weight: 400;">Dunia mulai sadar bahwa pola lama makin sulit menopang kebutuhan zaman. Harga energi global gampang terguncang konflik geopolitik. Kota besar semakin sesak. Polusi semakin berat. Mobilitas manusia terus melonjak dari tahun ke tahun. Semua perlahan mendorong dunia menuju arah yang sama: elektrifikasi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan menariknya, perubahan besar selalu lahir lewat bentuk yang awalnya terlihat sederhana. Charging station mulai muncul di banyak sudut kota. Industri baterai berkembang cepat. Kendaraan listrik mulai terasa biasa di jalan raya. Anak-anak kecil mulai melihat mobil tanpa suara sebagai sesuatu yang normal. Sejarah teknologi memang sering bergerak seperti itu. Awalnya ditertawakan. Setelah beberapa tahun, berubah jadi bagian hidup sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Internet pernah dianggap aneh. Smartphone pernah dianggap cuma gaya hidup mahal. Bahkan media sosial dulu sering dituduh sekadar tren sementara. Hari ini kendaraan listrik sedang berjalan di jalur yang sama. Ada yang masih sinis, ada yang kesal, ada yang bingung melihat perubahan datang terlalu cepat. Padahal zaman terus bergerak tanpa menunggu siapa pun siap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah perubahan besar itu, Periklindo ikut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang menuju masa depan. Sebab masa depan modern tidak tercipta dari satu produk viral atau satu teknologi keren semata. Perlu industri yang tumbuh serius. Perlu infrastruktur yang terus dibangun. Perlu edukasi publik. Perlu ruang yang mempertemukan teknologi dengan masyarakat luas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mungkin beberapa tahun lagi manusia benar-benar hidup di era kendaraan udara massal. Langit kota dipenuhi mobilitas tanpa awak. Jalan raya berubah fungsi. Cara manusia berpindah tempat ikut berubah total.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi sebelum semua itu terjadi, dunia sedang melewati fase yang jauh lebih penting. Fase ketika manusia mulai mengganti fondasi peradabannya pelan-pelan. </span><span style="font-weight: 400;">Dan menariknya, semua itu mulai terasa dari jalanan.</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/07/02/impian-modernisme-abad-lalu-sudah-terlihat-saat-ini/">IMPIAN MODERNISME ABAD LALU, SUDAH TERLIHAT SAAT INI</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/07/02/impian-modernisme-abad-lalu-sudah-terlihat-saat-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>5 MITOS KENDARAAN LISTRIK YANG BERGENTAYANGAN</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/07/02/5-mitos-kendaraan-listrik-yang-bergentayangan/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/07/02/5-mitos-kendaraan-listrik-yang-bergentayangan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2026 08:20:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11862</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia sejak awal 2021 sampai saat ini, menunjukkan pertumbuhan sangat signifikan. Penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) nasional yang pada 2021 masih berada di kisaran 687 unit, meningkat menjadi 10.327 unit pada 2022, lalu kembali naik menjadi 17.051 unit pada 2023. Lonjakan jauh lebih besar terjadi pada 2024 dengan penjualan mencapai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/07/02/5-mitos-kendaraan-listrik-yang-bergentayangan/">5 MITOS KENDARAAN LISTRIK YANG BERGENTAYANGAN</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia sejak awal 2021 sampai saat ini, menunjukkan pertumbuhan sangat signifikan. Penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) nasional yang pada 2021 masih berada di kisaran 687 unit, meningkat menjadi 10.327 unit pada 2022, lalu kembali naik menjadi 17.051 unit pada 2023.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lonjakan jauh lebih besar terjadi pada 2024 dengan penjualan mencapai sekitar 43.189 unit, sebelum akhirnya menembus lebih dari 103 ribu unit pada 2025. Dalam waktu sekitar 4 tahun, pasar kendaraan listrik Indonesia bertumbuh lebih dari 150 kali lipat dan mulai menjadi salah satu sektor dengan perkembangan paling agresif di industri otomotif nasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah perkembangan tersebut, makin banyak juga asumsi yang beredar seperti bola liar. Sebagian muncul dari kekhawatiran masyarakat yang tentunya bisa dipahami. Namun, sebagian lainnya lahir dari informasi yang terpotong-potong tanpa penjelasan teknis yang utuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena itu, penting untuk melihat kendaraan listrik secara lebih objektif, yakni memahami keterbatasannya, sekaligus mengenali perkembangan teknologinya.</span></p>
<p><b>*Mitos #1: “Kendaraan Listrik Cepat Rusak”*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Baterai menjadi bagian yang paling sering diperdebatkan dalam kendaraan listrik. Banyak yang menganggap baterai akan cepat mengalami penurunan performa hanya dalam beberapa tahun penggunaan. Battery health dianggap jadi momok menakutkan dan silent torture dalam keuangan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Faktanya, teknologi baterai modern sudah dilengkapi sistem pengelolaan suhu, pengaturan arus pengisian, dan perlindungan perangkat lunak yang dirancang untuk menjaga stabilitas performa dalam penggunaan jangka panjang. Industri otomotif global juga terus mengembangkan durability dan efisiensi baterai secara berkelanjutan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seperti komponen kendaraan lainnya, pola penggunaan tetap memengaruhi umur pakai. Namun asumsi bahwa baterai kendaraan listrik “cepat habis” tidak lagi relevan jika melihat perkembangan teknologi dan skema bisnis yang saat ini sudah berkembang.</span></p>
<p><b>*Mitos #2: “Kendaraan Listrik Berbahaya Saat Hujan atau Banjir”*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kekhawatiran mengenai sistem kelistrikan memang sering muncul ketika membahas kendaraan listrik. Banyak masyarakat membayangkan risiko korsleting atau sengatan listrik saat kendaraan terkena air.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal kendaraan listrik modern telah melewati berbagai pengujian keselamatan dan memiliki perlindungan berlapis pada sistem tegangan tingginya. Komponen utama dirancang dengan standar keamanan tertentu agar tetap terlindungi dalam kondisi operasional normal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tetap perlu dipahami bahwa seluruh kendaraan memiliki batas kemampuan menghadapi genangan ekstrem. Kesadaran pengemudi dalam membaca situasi jalan tetap menjadi faktor paling penting.</span></p>
<p><b>*Mitos #3: “Pengisian Baterai Repot dan Makan Waktu!”*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perdebatan mengenai durasi charging sering dibandingkan langsung dengan proses pengisian BBM konvensional. Padahal pola penggunaan kendaraan listrik memiliki pendekatan yang berbeda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak pengguna melakukan pengisian daya saat kendaraan sedang tidak digunakan, misalnya pada malam hari di rumah. Selain malam hari, waktu pengecasan juga sering di paralel untuk melakukan aktivitas lain seperti bekerja, makan, atau beristirahat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perubahan ini perlahan membentuk pola mobilitas baru yang lebih terintegrasi dengan aktivitas harian pengguna.</span></p>
<p><b>*Mitos #4: “Listrik Rumah Tidak Kuat untuk Charging EV”*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anggapan bahwa kendaraan listrik otomatis membuat listrik rumah “jeblok” masih cukup sering terdengar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Faktanya, kapasitas instalasi rumah bisa dinaikkan. Bahkan penyedia jasa, yakni PLN sering mengadakan promo dan diskon untuk menaikkan daya rumah, atau instalasi khusus meteran baru bagi pemasangan home charger.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak pengguna melakukan charging secara bertahap dengan pengaturan daya tertentu, sama seperti penggunaan perangkat elektronik lainnya dalam kehidupan sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemahaman mengenai manajemen daya menjadi penting agar masyarakat dapat melihat penggunaan kendaraan listrik secara lebih realistis dan terukur.</span></p>
<p><b>*Mitos #5: “Kendaraan Listrik Hanya untuk Kalangan Tertentu”*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada fase awal kemunculannya di Indonesia, kendaraan listrik memang identik dengan teknologi premium. Namun kondisi pasar terus berubah. Harga semakin beragam, ada yang bahkan lebih murah dari kendaraan mesin konvensional. Pilihan kendaraan listrik semakin beragam, fitur semakin kompetitif, dan ekosistem pendukung berkembang lebih luas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perkembangan ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik perlahan bergerak dari simbol teknologi masa depan menjadi bagian dari kebutuhan mobilitas modern masyarakat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Transisi teknologi memang selalu menghadirkan perdebatan. Hal yang sama pernah terjadi pada teknologi kendaraan ICE, internet, smartphone, hingga transaksi digital. Seiring waktu, pemahaman masyarakat berkembang mengikuti adaptasi teknologi itu sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik saat ini sedang berada dalam fase adaptasi menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia.</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/07/02/5-mitos-kendaraan-listrik-yang-bergentayangan/">5 MITOS KENDARAAN LISTRIK YANG BERGENTAYANGAN</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/07/02/5-mitos-kendaraan-listrik-yang-bergentayangan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PANDUAN AMAN MENGGUNAKAN KENDARAAN LISTRIK</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/05/05/panduan-aman-menggunakan-kendaraan-listrik/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/05/05/panduan-aman-menggunakan-kendaraan-listrik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2026 04:21:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11703</guid>

					<description><![CDATA[<p>Teknologi berubah, kendaraan berubah. Agak sayang jika cara berkendara para pengemudi masih belum berubah, masih terpaku dengan cara menyetir kendaraan konvensional. Masuk ke kendaraan listrik itu tidak sekadar pindah mesin, tapi pindah cara berkendara. Ini yang sering luput, yakni adaptasi kognitif. Apa itu adaptasi kognitif? Adaptasi kognitif menuntut pengendara harus belajar ulang/relearn tentang kendaraan, pengambilan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/05/05/panduan-aman-menggunakan-kendaraan-listrik/">PANDUAN AMAN MENGGUNAKAN KENDARAAN LISTRIK</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Teknologi berubah, kendaraan berubah. Agak sayang jika cara berkendara para pengemudi masih belum berubah, masih terpaku dengan cara menyetir kendaraan konvensional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masuk ke kendaraan listrik itu tidak sekadar pindah mesin, tapi pindah cara berkendara. Ini yang sering luput, yakni adaptasi kognitif. Apa itu adaptasi kognitif?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adaptasi kognitif menuntut pengendara harus belajar ulang/relearn tentang kendaraan, pengambilan keputusan, dan risiko berkendara yang berbeda antara listrik dengan kendaraan konvensional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanpa adaptasi ini, pengemudi akan selalu tertinggal. Dan di EV, setengah detik itu penting sekali. Label “pengendara EV agresif” yang muncul belakangan ini sebenarnya berangkat dari 2 fakta.  </span><span style="font-weight: 400;">Fakta pertama adalah bias observasi seolah-olah sebagian kecil yang terjadi, mewakili seluruh hal yang ada. Namun fakta kedua yang dirasa lebih penting dari sekadar pembelaan diri dari bias observasi, adalah fakta masih banyak pengemudi EV yang tidak beradaptasi. Technological illiterate.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita harus mengakui kekurangan tersebut terlebih dahulu, agar bisa melakukan perbaikan dan maju ke depan mengikuti arah perkembangan teknologi yang ada. </span><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik sudah mulai dominan di jalanan Indonesia, sehingga setiap kejadian mudah terekam, lalu berulang di media sosial. Dari situ terbentuk persepsi yang terasa menyeluruh. Padahal yang terjadi lebih kompleks. Integrasi antara teknologi baru dan manusia yang masih belajar mengimbanginya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tidak perlu membela diri. Hal yang diperlukan adalah pemahaman teknis dan kondisi fisik pengendara yang akan menjadi inti dari pembahasan di dalam artikel ini.</span></p>
<p><b>*Pemahaman Teknis*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik itu sangat responsif. Bahkan terlalu responsif kalau diperlakukan seperti mobil biasa. Maka pemahaman teknis menjadi krusial di sini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Torsi instan. Pedal diinjak, tenaga langsung keluar. Tidak ada fase tunggu. Ini keunggulan, sekaligus potensi bahaya kalau tidak dikendalikan dengan halus. Akselerasi yang tiba-tiba bisa membuat mobil melonjak lebih cepat dari perkiraan pengemudi sendiri. Dalam kondisi padat, ini bisa langsung mempersempit jarak aman tanpa disadari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengemudi perlu meningkatkan sensitivitas kaki. Istilah kata, “feeling kaki”. Jadi alih-alih hanya menekan pedal, pengendara harus bisa mengontrol tekanan secara bertahap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Regenerative braking. Kendaraan EV otomatis melambat saat pedal dilepas. Ini mengubah kebiasaan dasar berkendara, karena perlambatan tidak selalu diikuti sinyal yang cukup jelas bagi pengendara belakang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam banyak kasus, mobil di belakang baru menyadari perlambatan saat jarak sudah terlalu dekat. Ini dapat memicu rem mendadak atau bahkan tabrakan beruntun. Solusinya, pengemudi harus memahami mode-mode berkendara (Eco, Sport, Normal), karena setiap mode, mengubah level regenerative braking di kendaraannya. Sehingga jika dirasa perlu, pengemudi bisa memberi sinyal rem agar lebih aman bagi mobil di belakangnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Metode 3 detik. Lupakan hitungan meter yang sulit diterapkan di kemacetan. Otak manusia lebih mudah membaca waktu dibanding jarak dalam kondisi dinamis. Dengan metode ini, pengemudi cukup melihat objek di depan dan memastikan ada jeda minimal 3detik sebelum mobil melewati titik yang sama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cara ini jauh lebih adaptif terhadap kecepatan yang berubah-ubah, sehingga jarak aman tetap terjaga tanpa harus menghitung secara kasar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Situational awareness. EV menuntut pengemudi membaca situasi lebih cepat karena respons kendaraan juga lebih cepat. Keterlambatan membaca kondisi bisa langsung berujung pada manuver yang tidak terkendali.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengemudi harus aktif memindai kondisi depan, samping, dan spion secara konsisten. Ini bukan kebiasaan tambahan, tapi bagian dari sistem pengambilan keputusan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap detik adalah kalkulasi. Pengemudi harus tahu kapan menahan, kapan maju, kapan berpindah. Ketepatan membaca situasi akan menentukan kualitas berkendara secara keseluruhan.</span></p>
<p><b>*Kondisi Fisik*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Teknologi sudah naik level. Pengemudi harus ikut naik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Fokus penuh. Respons kendaraan yang cepat membuat ruang kesalahan semakin kecil. Gangguan kecil seperti melihat ponsel atau kehilangan fokus sesaat bisa langsung berdampak besar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbeda dengan kendaraan konvensional yang masih memberi jeda respons, EV mengeksekusi perintah hampir seketika. </span><span style="font-weight: 400;">Artinya, perhatian pengemudi harus konsisten dari awal hingga akhir perjalanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211; Kontrol emosi. Jalan raya adalah ruang interaksi dengan banyak karakter. Tanpa kontrol emosi, keputusan berkendara akan dipengaruhi impuls, bukan pertimbangan. Pada kendaraan dengan akselerasi instan, emosi yang tidak terkendali bisa langsung diterjemahkan menjadi gerakan agresif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengemudi perlu menjaga ritme dan kesabaran, karena stabilitas emosi berbanding lurus dengan keselamatan di jalan. </span><span style="font-weight: 400;">Ini berlaku untuk semua kendaraan. Bedanya, di EV efeknya lebih cepat, lebih tajam, dan lebih terlihat.</span></p>
<p><b>*Komitmen Periklindo*</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Periklindo mendorong kendaraan listrik terus berkembang. Tapi arahannya jelas, yakni perkembangan teknologi harus diikuti peningkatan kualitas pengemudi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Edukasi tidak berhenti di cara pakai. Harus masuk ke mindset. Adaptasi kognitif, pemahaman karakter kendaraan, dan disiplin berkendara harus jadi satu paket.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Operator transportasi perlu memastikan pelatihan berjalan serius dan konsisten. Program pelatihan harus membentuk kebiasaan, bukan sekadar formalitas administratif. Pengguna pribadi juga memegang peran besar. Mengendarai EV berarti siap belajar ulang, memperbaiki kebiasaan lama, dan membangun standar baru dalam berkendara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik cepat, responsif, dan efisien. Mesin sudah berubah, tapi cara berpikir sering masih lama. Kalau adaptasi ini selesai, kendaraan listrik terasa presisi. Kalau tidak, potensi masalah akan terus berulang.</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/05/05/panduan-aman-menggunakan-kendaraan-listrik/">PANDUAN AMAN MENGGUNAKAN KENDARAAN LISTRIK</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/05/05/panduan-aman-menggunakan-kendaraan-listrik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>EV DI INDONESIA, DARI FLEXING KE KEBUTUHAN</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/05/05/ev-di-indonesia-dari-flexing-ke-kebutuhan/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/05/05/ev-di-indonesia-dari-flexing-ke-kebutuhan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2026 03:50:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11700</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu kendaraan listrik sering dianggap sekadar eksperimen. Dipakai oleh segelintir orang yang penasaran, dilihat sebagai sesuatu yang “menarik”, tapi belum jadi pilihan utama. Bahkan beberapa membeli kendaraan listrik hanya untuk hook alias bait calon nasabah untuk masuk ke bisnis mereka. Namun hari ini ceritanya sudah berbeda. Di jalanan kota besar, kendaraan listrik mulai terlihat sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/05/05/ev-di-indonesia-dari-flexing-ke-kebutuhan/">EV DI INDONESIA, DARI FLEXING KE KEBUTUHAN</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Dulu kendaraan listrik sering dianggap sekadar eksperimen. Dipakai oleh segelintir orang yang penasaran, dilihat sebagai sesuatu yang “menarik”, tapi belum jadi pilihan utama. Bahkan beberapa membeli kendaraan listrik hanya untuk hook alias bait calon nasabah untuk masuk ke bisnis mereka. Namun hari ini ceritanya sudah berbeda. Di jalanan kota besar, kendaraan listrik mulai terlihat sebagai bagian dari keseharian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian orang tidak menunggu sampai semuanya sempurna. Mereka mulai lebih dulu. Mereka yang merasakan duluan bagaimana rasanya berkendara tanpa suara mesin, tanpa getaran berlebih, dengan respons yang langsung terasa sejak pedal ditekan. Perubahan itu sudah jadi bagian dari pengalaman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penggunaan EV baik di mobil maupun motor juga tidak berhenti di kendaraan pribadi. Masuk ke transportasi umum, layanan komersial, sampai kebutuhan operasional bisnis. Artinya, perubahan ini tidak terjadi di satu sisi saja. Ini sudah mulai menyentuh banyak lapisan kehidupan sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di balik itu, ada proses besar yang sedang berjalan. Infrastruktur terus dibangun, akses charging station makin berkembang, dan ekosistem mulai terbentuk. Memang belum sempurna, tapi justru di fase ini arah perubahan mulai terlihat jelas. Orang yang masuk lebih awal tidak sekadar mengikuti, mereka beradaptasi lebih cepat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sisi konsumen, manfaatnya mulai terasa nyata. Biaya operasional jauh lebih ringan, perawatan lebih sederhana, dan fleksibilitas penggunaan yang semakin relevan dengan kebutuhan harian. Bagi banyak orang, ini soal efisiensi dan kenyamanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Indonesia juga punya karakter unik dalam perkembangan ini. Dengan jumlah pengguna yang besar dan aktivitas yang terus bergerak, adopsi kendaraan listrik berkembang karena kebutuhan yang nyata di lapangan. Dari mobilitas harian sampai kebutuhan usaha, semuanya mulai terkoneksi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Akan tetapi preferensi pengguna yang masih berkembang, pilihan kendaraan semakin beragam, cara orang melihat mobil juga mulai berubah dari sekadar alat transportasi, menjadi bagian dari gaya hidup dan keputusan praktis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kondisi seperti ini, sering muncul keraguan. Apakah ini sudah waktu yang tepat? Apakah infrastrukturnya cukup? Pertanyaan itu wajar. Tapi di setiap perubahan besar, selalu ada fase awal di mana belum semua jawaban tersedia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Justru di fase ini, terlihat siapa yang memilih untuk mulai lebih dulu. Mereka yang mencoba, belajar, dan menyesuaikan diri lebih awal biasanya punya pemahaman yang lebih kuat ketika perubahan itu menjadi arus utama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Periklindo melihat bahwa perubahan ini tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan koneksi antar pelaku, sinkronisasi arah, dan dukungan ekosistem yang terintegrasi. Tujuannya sederhana, memastikan bahwa perkembangan kendaraan listrik di Indonesia tidak berjalan parsial, tapi bergerak sebagai satu kesatuan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada akhirnya, selain industri dan teknologi, perubahan ini adalah tentang bagaimana masyarakat mulai bergerak ke arah baru. Dan seperti banyak perubahan sebelumnya, yang bergerak lebih dulu biasanya yang paling siap ketika semuanya menjadi standar.</span></p>
<p><b>Oleh: Periklindo</b></p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/05/05/ev-di-indonesia-dari-flexing-ke-kebutuhan/">EV DI INDONESIA, DARI FLEXING KE KEBUTUHAN</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/05/05/ev-di-indonesia-dari-flexing-ke-kebutuhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KENDARAAN LISTRIK UBAH LIFESTYLE DAN WATAK KOTA</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/04/30/kendaraan-listrik-ubah-lifestyle-dan-watak-kota/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/04/30/kendaraan-listrik-ubah-lifestyle-dan-watak-kota/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 08:19:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11691</guid>

					<description><![CDATA[<p>Coba bayangkan satu momen sederhana. Di lampu merah persimpangan kota megapolitan, kendaraan berhenti berderet, tetapi suasananya tidak lagi riuh seperti dulu. Tidak ada deru mesin yang saling bertabrakan. Pengendara iseng yang bosan sambil menginjak pedal gas yang membuat asap knalpot ngebul. . Yang terdengar justru lebih tipis, ban bergesekan pelan dengan jalanan, percakapan samar dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/04/30/kendaraan-listrik-ubah-lifestyle-dan-watak-kota/">KENDARAAN LISTRIK UBAH LIFESTYLE DAN WATAK KOTA</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Coba bayangkan satu momen sederhana. Di lampu merah persimpangan kota megapolitan, kendaraan berhenti berderet, tetapi suasananya tidak lagi riuh seperti dulu. Tidak ada deru mesin yang saling bertabrakan. Pengendara iseng yang bosan sambil menginjak pedal gas yang membuat asap knalpot ngebul.<br />
.<br />
Yang terdengar justru lebih tipis, ban bergesekan pelan dengan jalanan, percakapan samar dari trotoar, dan kota yang tetap hidup dengan cara yang berbeda. Karena ketika mode P, mau diinjak sekeras apapun pedal gas kendaraan listrik, tidak akan ada respons apapun.</p>
<p>Kendaraan listrik menghadirkan pengalaman yang terasa langsung sejak awal digunakan. Tanpa raungan mesin dan knalpot, perjalanan menjadi lebih halus. Pada kecepatan rendah, kehadirannya bahkan hampir tidak terasa. Ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan perubahan rasa saat berada di jalan.</p>
<p>Dampaknya bisa melebar ke hal yang selama ini jarang diperhatikan, yakni polusi suara. Kota-kota besar terbiasa dengan kebisingan sebagai latar belakang kehidupan. Padahal, tingkat kebisingan yang tinggi berhubungan erat dengan tingkat stres, kesehatan mental, kualitas istirahat dan berbagai dampak medis lainnya.</p>
<p>Ketika kendaraan listrik mulai mengisi jalan, kota perlahan mendapatkan kembali lapisan ketenangan yang lama hilang.</p>
<p>Ketenangan ini datang dengan penyesuaian baru. Berkendara dengan EV mendorong perencanaan yang lebih rapi. Mulai dari memikirkan jarak tempuh, antrean titik pengisian daya, hingga kebiasaan mengisi baterai menjadi bagian dari rutinitas.</p>
<p>Perjalanan harus lebih terukur. Ada disiplin yang terbentuk tanpa perlu dipaksakan. Ini adalah pembiasaan yang perlu dikerjakan.</p>
<p>Menariknya, perubahan ini berdampak ke cara berpikir juga gaya hidup alias lifestyle. Setiap perjalanan membawa pertimbangan, setiap keputusan memiliki hitungan. Lifestyle yang terbentuk menjadi lebih terorganisir. Dalam hal ini, kendaraan listrik telah melampaui fungsinya sebagai alat transportasi.</p>
<p>Di sisi lain, sistem pendukung masih terus berproses. Infrastruktur pengisian daya berkembang. Beberapa tempat belum merata. Di beberapa lokasi, akses terasa mudah. Di lokasi lain masih sulit. Teknologi bergerak cepat, sistem menyusul dengan ritme yang berbeda.</p>
<p>Kota yang lebih senyap menghadirkan wajah baru dari kemajuan. Modernitas selama ini identik dengan kebisingan dan intensitas tinggi. Seolah makin berisik, makin produktif. Padahal yang terjadi, malah menyebabkan banyak gejala medis lain.</p>
<p>Kendaraan listrik menawarkan versi lain. Perubahan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya akan terasa dalam jangka panjang.</p>
<p>Dari sini, peranan Periklindo (Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia) menjadi relevan. Transisi menuju kendaraan listrik memerlukan lebih dari sekadar produk yang siap pakai.</p>
<p>Dibutuhkan arah, pengawalan, serta dorongan agar ekosistem tumbuh seimbang. Dari industri, infrastruktur, kenyamanan pengguna dan segala detail yang akan muncul dalam dinamika adaptasi ini.</p>
<p>Ketika semua elemen bergerak dalam satu irama, kota yang lebih senyap tadi tidak sekadar menjadi gambaran, tetapi perlahan menjadi kenyataan yang bisa dirasakan bersama.</p>
<p>Macet tetaplah macet. Hanya saja, yang berisik bukan lagi mesin dan asap, melainkan klakson dan mindset pengendara… Untuk ini, bukan tugas Periklindo untuk selesaikan akhlak.</p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/04/30/kendaraan-listrik-ubah-lifestyle-dan-watak-kota/">KENDARAAN LISTRIK UBAH LIFESTYLE DAN WATAK KOTA</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/04/30/kendaraan-listrik-ubah-lifestyle-dan-watak-kota/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>RAMADAN DAN KENDARAAN LISTRIK, KETIKA SPIRITUALITAS BERTEMU EFISIENSI</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 04:42:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11551</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sekilas, Ramadan dan kendaraan listrik terasa seperti dua dunia yang tidak punya hubungan. Satu berbicara tentang iman, refleksi, dan pengendalian diri. Yang lain tentang teknologi, baterai, dan efisiensi energi.  Tapi kalau ditarik lebih dalam, keduanya justru bertemu di titik yang sama, yaitu kesadaran terhadap energi, bagaimana kita menggunakannya, dan bagaimana kita belajar menahan diri di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/">RAMADAN DAN KENDARAAN LISTRIK, KETIKA SPIRITUALITAS BERTEMU EFISIENSI</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Sekilas, Ramadan dan kendaraan listrik terasa seperti dua dunia yang tidak punya hubungan. Satu berbicara tentang iman, refleksi, dan pengendalian diri. Yang lain tentang teknologi, baterai, dan efisiensi energi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi kalau ditarik lebih dalam, keduanya justru bertemu di titik yang sama, yaitu kesadaran terhadap energi, bagaimana kita menggunakannya, dan bagaimana kita belajar menahan diri di tengah dunia yang selalu mendorong kita untuk lebih cepat, lebih keras, dan lebih konsumtif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ramadan membawa perubahan ritme yang terasa nyata di Indonesia. Suasana menjadi sedikit lebih tenang, emosi lebih dijaga, dan orang-orang mencoba menurunkan tempo hidupnya. Ada latihan kolektif untuk tidak reaktif. Tidak semua dorongan harus diikuti. Tidak semua keinginan harus dipenuhi sekarang juga. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di situ puasa selain ritual fisik, ibadah ini mengajarkan proses pembentukan karakter. Dan menariknya, filosofi ini punya kemiripan dengan karakter kendaraan listrik yang tenang, efisien, dan tidak bergantung pada kebisingan untuk menunjukkan kekuatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam perspektif agama Abrahamik, kita melihat ada nuansa yang sangat familiar dalam praktik puasa ini. Tradisi puasa dalam setiap agama tidak selalu seragam dan sering kali bergantung pada bagaimana seseorang menjalani iman secara pribadi. Ada yang ketat, ada yang santai, ada yang lebih reflektif. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun esensinya tetap sama. Melatih pengendalian diri, merapikan hati, dan belajar menggunakan energi hidup secara bijak. Dari perspektif ini, Ramadan menjadi inspirasi lintas iman tentang bagaimana manusia membangun karakter melalui disiplin yang hening.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik, dalam cara yang unik, merepresentasikan filosofi yang serupa. Ia tidak meraung-raung seperti mesin konvensional, tidak menuntut perhatian lewat suara keras, tetapi bekerja dengan efisiensi yang diam-diam kuat. Mengemudi EV terasa lebih mindful. Akselerasi bersih, pergerakan halus, dan energi digunakan dengan perhitungan. Bahkan konsep regenerative braking seolah menjadi metafora kehidupan. Metafora ketika kita melambat, energi tidak hilang begitu saja, melainkan dikumpulkan kembali untuk perjalanan berikutnya. Dalam dunia yang terbiasa memuja agresivitas, EV menawarkan cara baru yang lebih tenang namun tetap efektif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ramadan mengajak manusia menahan diri dari konsumsi berlebihan. EV juga lahir dari kesadaran bahwa energi planet tidak bisa terus dipakai tanpa refleksi. Ada kesamaan spirit di sana. Puasa menjadi eco-mode bagi jiwa manusia. Kendaraan listrik menjadi eco-mode bagi mobilitas modern. Keduanya mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu identik dengan kebisingan atau kecepatan tanpa arah. Kadang justru ketenangan, konsistensi, dan kesadaran yang membuat perjalanan menjadi lebih bermakna.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Indonesia, di mana keberagaman iman hidup berdampingan setiap hari, momen Ramadan bisa menjadi pengingat bahwa spiritualitas dan kemajuan teknologi tidak harus berjalan terpisah. Justru keduanya bisa saling memperkaya cara kita memahami dunia. Melihat saudara-saudara Muslim menjalani ibadah puasa, ada inspirasi yang kuat tentang disiplin dan kedamaian. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan ketika filosofi itu disandingkan dengan karakter kendaraan listrik yang tenang dan efisien, muncul gambaran menarik tentang masa depan. Manusia yang bergerak maju, tetapi dengan hati yang lebih hening dan energi yang digunakan dengan lebih bijak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Periklindo mengucapkan selamat memasuki bulan Ramadan bagi saudara-saudara Muslim di Indonesia. Semoga perjalanan menahan diri ini membawa kedamaian, kejernihan hati, dan kekuatan baru hingga tiba hari kemenangan di Idul Fitri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/">RAMADAN DAN KENDARAAN LISTRIK, KETIKA SPIRITUALITAS BERTEMU EFISIENSI</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/25/ramadan-dan-kendaraan-listrik-ketika-spiritualitas-bertemu-efisiensi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BEV sebagai Strategi Governance</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 04:36:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11548</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengelola Risiko Logistik di Era Transisi Energi Diskusi mengenai kendaraan listrik sering berfokus pada teknologi atau isu lingkungan. Dalam praktik tata kelola perusahaan, terutama pada sektor logistik, perubahan menuju BEV memiliki makna yang lebih luas. Migrasi armada menjadi bagian dari strategi governance yang berkaitan dengan pengelolaan risiko operasional dan kesiapan menghadapi perubahan regulasi. Istilah governance [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/">BEV sebagai Strategi Governance</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><i>Mengelola Risiko Logistik di Era Transisi Energi</i></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diskusi mengenai <strong>kendaraan</strong> listrik sering berfokus pada <strong>teknologi</strong> atau isu lingkungan. Dalam praktik tata kelola perusahaan, terutama pada sektor logistik, perubahan menuju BEV memiliki makna yang lebih luas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Migrasi armada menjadi bagian dari strategi governance yang berkaitan dengan pengelolaan risiko operasional dan kesiapan menghadapi perubahan regulasi. Istilah governance dalam konteks ESG merujuk pada bagaimana perusahaan mengambil keputusan secara transparan, terukur, dan mampu menjaga keberlanjutan bisnis melalui manajemen risiko yang baik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Indonesia, integrasi aspek ESG dalam tata kelola juga semakin didorong oleh regulator, termasuk melalui Peraturan OJK terkait penerapan keuangan berkelanjutan yang mendorong perusahaan menyusun laporan keberlanjutan dan transparansi risiko lingkungan serta sosial.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kebijakan energi global bergerak menuju pengurangan emisi secara bertahap. Indonesia juga mendorong transisi energi melalui berbagai program kendaraan listrik serta pengembangan infrastruktur pendukung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% secara mandiri pada tahun 2030 sesuai Enhanced NDC (Nationally Determined Contribution), dengan sektor energi dan transportasi menjadi kontributor utama dalam upaya tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Transisi energi berarti pergeseran dari penggunaan energi berbasis bahan bakar fosil menuju sumber energi yang lebih efisien dan rendah emisi, termasuk elektrifikasi transportasi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perusahaan logistik yang mulai beradaptasi lebih awal memiliki ruang lebih luas untuk merencanakan investasi jangka panjang dan menghindari tekanan biaya akibat perubahan kebijakan di masa depan. Kementerian Keuangan telah mulai menerapkan mekanisme harga karbon di Indonesia, termasuk pajak karbon yang dirancang sebagai instrumen ekonomi untuk mendorong pengurangan emisi secara bertahap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Struktur biaya kendaraan listrik memberikan karakteristik berbeda dibanding kendaraan berbahan bakar fosil. Komponen mekanis lebih sederhana sehingga kebutuhan perawatan cenderung lebih rendah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai gambaran, kendaraan listrik tidak memiliki banyak komponen seperti sistem pembakaran, transmisi kompleks, atau sistem pembuangan, sehingga potensi perawatan rutin menjadi lebih ringan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Analisis International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa biaya perawatan kendaraan listrik dapat lebih rendah hingga sekitar 20–40% dibanding kendaraan mesin pembakaran internal karena jumlah komponen bergerak yang lebih sedikit. Hal ini membantu perusahaan membangun proyeksi biaya operasional yang lebih stabil.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Stabilitas ini menjadi faktor penting dalam tata kelola karena memudahkan perencanaan anggaran dan manajemen risiko finansial.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Digitalisasi juga memainkan peran besar dalam integrasi ESG. Kendaraan listrik memungkinkan pencatatan data penggunaan energi secara real-time melalui sistem telematika.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Telematika adalah sistem digital yang menggabungkan sensor kendaraan, konektivitas internet, dan software monitoring untuk mencatat performa kendaraan, konsumsi energi, serta pola operasional secara otomatis. Kemampuan monitoring digital ini mendukung kebutuhan pelaporan ESG berbasis data, yang semakin menjadi standar global bagi investor institusional dan lembaga pembiayaan internasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Data tersebut dapat langsung diintegrasikan ke dalam laporan keberlanjutan yang semakin dibutuhkan oleh investor dan regulator. Transparansi berbasis data menjadi indikator penting dalam penilaian governance modern.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain faktor internal, tekanan juga datang dari rantai pasok global. Banyak perusahaan internasional mulai memilih mitra logistik yang mampu menunjukkan standar keberlanjutan yang jelas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">World Bank dan IEA mencatat bahwa standar ESG semakin menjadi bagian dari persyaratan rantai pasok global, termasuk pelaporan emisi dan efisiensi energi sebagai indikator keberlanjutan operasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Standar ini biasanya terkait dengan laporan emisi, efisiensi energi, serta komitmen terhadap target ESG yang menjadi bagian dari persyaratan kerja sama internasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Armada listrik menjadi indikator kesiapan dalam mengikuti perubahan tersebut. Perusahaan yang mampu beradaptasi menunjukkan kemampuan manajemen dalam membaca arah industri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam konteks governance, migrasi menuju BEV dapat dilihat sebagai langkah preventif. Transformasi armada membantu perusahaan menjaga fleksibilitas operasional ketika regulasi berubah, sekaligus memperkuat reputasi di mata publik dan investor.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perubahan ini menunjukkan bahwa governance bukan sekadar kepatuhan administratif melainkan berkaitan dengan kemampuan perusahaan melihat tren energi dan menyesuaikan operasional sebelum tekanan eksternal menjadi bantuan yang terlambat.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Sumber Referensi Resmi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.ojk.go.id/id/regulasi/Pages/POJK-51-POJK.03-2017.aspx</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://unfccc.int/sites/default/files/NDC/2022-09/Indonesia%20Enhanced%20NDC.pdf</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://fiskal.kemenkeu.go.id/kajian/2021/10/28/172203196121811-kebijakan-harga-karbon-di-indonesia</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.iea.org/reports/global-ev-outlook</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.worldbank.org/en/topic/climatechange</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/">BEV sebagai Strategi Governance</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-sebagai-strategi-governance/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BEV dalam Transformasi Logistik</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 04:27:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11545</guid>

					<description><![CDATA[<p>ESG sebagai Keputusan Operasional yang Rasional Perubahan menuju kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) mulai terlihat sebagai bagian dari strategi operasional di sektor logistik. Diskusi tentang ESG sering dianggap abstrak, padahal dampaknya langsung terasa pada keputusan teknis sehari-hari, terutama pada jenis armada yang digunakan.  ESG sendiri merujuk pada tiga aspek utama dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/">BEV dalam Transformasi Logistik</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b><i>ESG sebagai Keputusan Operasional yang Rasional</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perubahan menuju kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) mulai terlihat sebagai bagian dari strategi operasional di sektor logistik. Diskusi tentang ESG sering dianggap abstrak, padahal dampaknya langsung terasa pada keputusan teknis sehari-hari, terutama pada jenis armada yang digunakan.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">ESG sendiri merujuk pada tiga aspek utama dalam menilai keberlanjutan perusahaan, yaitu Environmental (dampak lingkungan), Social (dampak sosial terhadap manusia), dan Governance (tata kelola perusahaan yang transparan dan bertanggung jawab).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tekanan terhadap pengurangan emisi semakin nyata. Pemerintah Indonesia telah memasukkan target </span><i><span style="font-weight: 400;">net zero emission </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam agenda pembangunan nasional, sehingga sektor transportasi menjadi salah satu fokus utama dalam transisi energi. </span></p>
<p><b>Indonesia menargetkan Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat, sebagaimana disampaikan dalam dokumen perencanaan nasional dan strategi jangka panjang pembangunan rendah karbon.</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Net zero emission</span></i><span style="font-weight: 400;"> berarti kondisi di mana jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan seimbang dengan jumlah emisi yang dikurangi atau diserap kembali, sehingga total dampak terhadap iklim mendekati nol.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aktivitas logistik memiliki kontribusi signifikan terhadap penggunaan energi karena melibatkan distribusi barang secara terus menerus dengan armada dalam jumlah besar. </span></p>
<p><b>Menurut International Energy Agency (IEA), sektor transportasi menyumbang sekitar 24% emisi CO₂ dari pembakaran energi secara global, dan kendaraan berat logistik menjadi salah satu kontributor utama dalam kategori tersebut.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap perubahan pada kendaraan operasional memberikan dampak langsung terhadap jejak karbon perusahaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendaraan listrik menghadirkan pendekatan yang lebih sederhana dalam memahami efisiensi energi. Motor listrik mampu mengubah sebagian besar energi menjadi gerakan kendaraan. </span></p>
<p><b>Efisiensi motor listrik dapat mencapai sekitar 85–90%, sementara mesin pembakaran internal umumnya berada pada kisaran 20–30% karena sebagian besar energi hilang sebagai panas.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini membuat penggunaan energi menjadi lebih efisien dibanding sistem pembakaran konvensional yang menghasilkan banyak energi panas. Dalam konteks logistik, efisiensi ini memengaruhi biaya operasional serta intensitas emisi per kilometer perjalanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain efisiensi energi, dampak lokal juga menjadi faktor penting. Armada distribusi sering melewati kawasan padat penduduk, termasuk jalur perkotaan dan area permukiman. Kendaraan listrik beroperasi dengan tingkat kebisingan lebih rendah dan tanpa emisi knalpot langsung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Polusi udara dari transportasi jalan raya diketahui berkontribusi terhadap emisi NOx dan partikulat yang memengaruhi kualitas udara perkotaan, sehingga elektrifikasi armada menjadi salah satu strategi mitigasi yang didorong banyak pemerintah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari perspektif ESG, pilar environmental berarti fokus pada bagaimana aktivitas perusahaan mempengaruhi lingkungan, termasuk penggunaan energi, emisi karbon, dan pengelolaan sumber daya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintah Indonesia juga mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik melalui kebijakan pengembangan ekosistem industri dan infrastruktur pengisian daya. </span><b>Pemerintah menargetkan jutaan unit kendaraan listrik beroperasi pada tahun 2030 sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi dan penguatan industri kendaraan listrik nasional.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Model bisnis terkait baterai juga berkembang seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik. Pendekatan seperti </span><i><span style="font-weight: 400;">battery-as-a-service</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan aset, sekaligus membuka peluang pemanfaatan baterai pada tahap kedua seperti penyimpanan energi statis. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konsep ini memungkinkan perusahaan menggunakan baterai tanpa harus memilikinya secara penuh, sementara penyedia layanan bertanggung jawab atas perawatan, penggantian, dan siklus daur ulang. Hal ini mendukung konsep ekonomi sirkular yang semakin relevan dalam standar ESG.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain aspek lingkungan, perubahan menuju BEV juga memengaruhi hubungan perusahaan dengan publik. Konsumen semakin memperhatikan proses distribusi yang digunakan oleh layanan logistik. Armada listrik memberikan sinyal yang mudah terlihat bahwa perusahaan melakukan transformasi nyata dalam operasionalnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Transisi menuju kendaraan listrik menunjukkan bahwa ESG semakin dekat dengan realitas operasional. Perusahaan logistik yang memahami perubahan ini dapat mengintegrasikan efisiensi energi, tanggung jawab lingkungan, dan strategi bisnis dalam satu keputusan teknis.</span></p>
<p><b>Sumber Referensi Resmi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.esdm.go.d/id/media-center/arsip-berita/strategi-percepatan-pemanfaatan-kendaraan-listrik-di-indonesia-</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://esdm.go.id/en/media-center/news-archives/ini-target-pemerintah-untuk-populasi-kendaraan-listrik-di-tahun-2030</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pengembangan-ekosistem-kblbb-dorong-masuknya-investasi-kendaraan-listrik</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://www.bappenas.go.id/berita/bappenas-pertamina-dukung-komitmen-net-zero-emission-sejalan-dengan-visi-indonesia-emas-2045-OFEtp</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/">BEV dalam Transformasi Logistik</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/25/bev-dalam-transformasi-logistik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Paradigm Shift Kendaraan Listrik dan Pola Pikir Revolusi Industri</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2026 04:33:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11518</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap kali EV dibahas, percakapan hampir selalu kusut di perdebatan yang sama. Charging lama, colokan terbatas, jarak tempuh terasa kurang alias range anxiety. Diskusi berputar pada aspek teknis, seolah inti persoalan berada pada mesin dan baterai.  Padahal perubahan terbesar yang sedang terjadi justru berada pada cara manusia memahami energi dan mobilitas. EV ini berkembang sangat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/">Paradigm Shift Kendaraan Listrik dan Pola Pikir Revolusi Industri</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Setiap kali EV dibahas, percakapan hampir selalu kusut di perdebatan yang sama. Charging lama, colokan terbatas, jarak tempuh terasa kurang alias range anxiety. Diskusi berputar pada aspek teknis, seolah inti persoalan berada pada mesin dan baterai. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal perubahan terbesar yang sedang terjadi justru berada pada cara manusia memahami energi dan mobilitas. EV ini berkembang sangat pesat baru di abad 20, meski secara fun fact, sudah sempat diperkenalkan di tahun 1830-an loh di Eropa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terlepas dari itu, fakta sejarah menunjukkan bahwa kendaraan mesin berbahan bakar minyak, memang merajai pasar sampai akhir tahun 2020, mulai bergeser ke EV. Saat ini, banyak orang masih membawa pola pikir lama yang terbentuk dari pengalaman panjang dengan kendaraan berbahan bakar minyak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">paradigm shift</span></i><span style="font-weight: 400;"> berasal dari pemikiran Thomas Kuhn, seorang filsuf sains asal Amerika yang memperkenalkan gagasan ini melalui bukunya The Structure of Scientific Revolutions. Kuhn mengatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak berjalan linear sesuai kaidah sebab-akibat. Pengetahuan seseorang berubah melalui fase perubahan besar ketika cara lama memahami dunia tidak lagi mampu menjawab realitas baru. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Paradigma lama biasanya bertahan lama karena terasa stabil dan familiar, hingga suatu titik ketika anomali semakin banyak muncul dan memaksa perubahan kerangka berpikir. Pergeseran ini sering menimbulkan penolakan, baik secara halus maupun secara kasar, karena manusia cenderung mempertahankan status quo dari pemikiran dan kebiasaan budaya mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konsep tersebut terasa relevan ketika melihat bagaimana kendaraan listrik diterima hari ini. Selama puluhan tahun, kendaraan identik dengan refill fuel. Energi dituang saat hampir habis, prosesnya cepat, lalu perjalanan dilanjutkan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Fully fueled.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kebiasaan ini membentuk ekspektasi yang kuat tentang bagaimana kendaraan seharusnya bekerja. Ketika kendaraan listrik datang dengan konsep recharge, muncul benturan yang sebenarnya bersifat psikologis. </span><i><span style="font-weight: 400;">Charging </span></i><span style="font-weight: 400;">terasa lambat karena dibandingkan dengan pengalaman yang bekerja dengan logika berbeda sejak awal. </span><i><span style="font-weight: 400;">Fully recharged.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Paradigma baru melihat energi sebagai sesuatu yang dikelola secara berkelanjutan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Charging </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak lagi menjadi aktivitas darurat yang dilakukan ketika indikator menyala merah. Ia menjadi bagian dari ritme harian yang menyatu dengan aktivitas lain. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">EV mengajak pengguna mengubah kebiasaan, dari menunggu energi habis menuju menjaga energi tetap stabil sepanjang waktu. Pergeseran ini terlihat sederhana, namun mengubah cara merasakan perjalanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak pengguna baru mencoba mencari pengalaman yang identik dengan pom bensin. Mereka datang ke </span><i><span style="font-weight: 400;">charging station</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan harapan datang, isi, lalu pergi secepat mungkin. Ketika prosesnya membutuhkan waktu lebih lama seperti pengisian minimal 1 jam, antrean dan lain sebagainya, kesan pertama yang muncul adalah bahwa teknologi ini merepotkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">EV punya paradigma yang berbeda. </span><i><span style="font-weight: 400;">Slow charging </span></i><span style="font-weight: 400;">di rumah atau saat parkir lama menjadi pembentuk pengalaman, sementara </span><i><span style="font-weight: 400;">fast charging </span></i><span style="font-weight: 400;">berperan sebagai pelengkap perjalanan. </span><span style="font-weight: 400;">Perubahan paradigma juga menyentuh cara memahami produktivitas. Selama ini, efisiensi sering diasosiasikan dengan kecepatan. Ada jeda yang muncul secara alami, dan jeda ini membuka kesempatan untuk aktivitas lain tanpa mengganggu perjalanan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak pengguna mulai melihat waktu dengan cara berbeda, lebih terencana dan yang penting, lebih sadar terhadap energi yang digunakan. Karena dengan mengisi minyak, sering kali kita </span><i><span style="font-weight: 400;">take it for granted</span></i><span style="font-weight: 400;"> terhadap energi yang diperoleh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Narasi tentang listrik nasional juga sering terjebak dalam paradigma lama. Kekhawatiran bahwa EV akan menguras pasokan listrik muncul berulang kali, seolah setiap kendaraan tambahan menjadi ancaman bagi sistem energi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Realitasnya lebih kompleks. Indonesia memiliki kapasitas produksi listrik yang besar dengan kondisi surplus di banyak periode. Tantangan utama berada pada manajemen penggunaan dan distribusi, bukan pada asumsi bahwa energi akan segera habis. Pergeseran paradigma diperlukan agar listrik dipahami sebagai sistem dinamis yang dapat dioptimalkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal menarik lain dari EV adalah meningkatnya kesadaran terhadap energi. Pengguna mulai memperhatikan konsumsi kWh, gaya berkendara (eco, normal, sport), serta efisiensi perjalanan secara lebih detail. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Energi yang sebelumnya terasa abstrak kini menjadi sesuatu yang nyata dan terukur dalam kehidupan sehari-hari. Mobilitas berubah dari sekadar menggerakkan kendaraan menjadi pengalaman memahami bagaimana energi bekerja.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Paradigm shift</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak terjadi dalam satu malam. Jalannya tidak gegabah, bahkan sering kali tanpa disadari. EV saat ini berada pada fase di mana teknologi sudah melangkah maju, sementara cara berpikir publik masih berusaha mengejar. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diskusi yang terus berputar pada kekurangan teknis sering kali hanya menjadi refleksi dari paradigma lama yang belum sepenuhnya bergeser. Ketika cara berpikir berubah, pengalaman terhadap kendaraan listrik ikut berubah, dan mobilitas memasuki fase baru yang lebih sadar energi dan lebih terencana.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Periklindo hadir untuk mendampingi dan mengedukasi masyarakat agar bisa memahami perkembangan kendaraan listrik di Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh: Periklindo</span></p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/">Paradigm Shift Kendaraan Listrik dan Pola Pikir Revolusi Industri</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/11/paradigm-shift-kendaraan-listrik-dan-pola-pikir-revolusi-industri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masa Depan EV Dimulai dari Home Charging</title>
		<link>https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/</link>
					<comments>https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Periklindo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 05:20:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News & Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://periklindo.com/?p=11511</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jalanan Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya mulai ramai dengan deretan mobil listrik yang dulu hanya mimpi. Dari sedan mewah sampai city car yang harganya kini semakin bersahabat dengan kantong kelas menengah. Tapi di balik euforia ini, ada satu masalah klasik yang selalu menghantui industri baru: infrastruktur yang tertinggal jauh dari penjualan. Bayangkan saja, hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/">Masa Depan EV Dimulai dari Home Charging</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Jalanan Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya mulai ramai dengan deretan mobil listrik yang dulu hanya mimpi. Dari sedan mewah sampai city car yang harganya kini semakin bersahabat dengan kantong kelas menengah. Tapi di balik euforia ini, ada satu masalah klasik yang selalu menghantui industri baru: infrastruktur yang tertinggal jauh dari penjualan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bayangkan saja, hingga Agustus 2025, mobil listrik murni (BEV) sudah terjual sekitar 51.000 unit secara wholesales. Pangsa pasarnya bahkan sudah menembus 10 persen dari total penjualan mobil nasional. Angka ini adalah angka yang beberapa tahun lalu terdengar mustahil. Namun realitanya, ketika Anda butuh mengisi daya, pilihan masih sangat terbatas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di seluruh Indonesia, SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) baru tersedia sekitar 4.186 unit di 2.789 lokasi. Bandingkan dengan target PLN yang menetapkan rasio 1:17 antara SPKLU dan kendaraan listrik, dengan kebutuhan 6.278 unit SPKLU di tahun 2025. Artinya, kita masih kekurangan lebih dari 2.000 unit lagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini baru membandingkan dengan rasio PLN, yang menurut kebanyakan orang masih kurang ideal. Sedangkan ideal menurut konsumen, ada di angka 1:5.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemilik EV pasti familiar dengan drama ini: sampai di SPKLU sudah penuh, harus antre sampai berjam-jam karena pengecasan butuh waktu. Fast charging pun butuh 1-2 jam. Atau ketika butuh cas darurat, ternyata SPKLU terdekat jaraknya jauh. Belum lagi distribusinya yang timpang. Mayoritas terkonsentrasi di Jawa, sementara daerah lain masih gelap gulita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memang ada sekitar 1.902 unit fasilitas penukaran baterai (</span><i><span style="font-weight: 400;">swap battery</span></i><span style="font-weight: 400;">), tapi layanan ini belum universal. Motor listrik tertentu bisa, tapi mobil? Belum ada yang mendukung secara massal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah keterbatasan ini, </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> muncul sebagai penyelamat. Bayangkan bisa mengisi daya mobil di garasi sendiri setiap malam, bangun pagi langsung siap pakai tanpa drama antre atau jalan jauh ke SPKLU. Rasanya seperti punya “pom bensin” pribadi di rumah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Investasinya memang tidak main-main. Banyak rumah kelas menengah masih pakai daya 2.200–4.400 VA, padahal untuk cas EV yang stabil butuh minimal 7.700 VA. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untungnya, PLN sudah menyediakan program khusus untuk pemilik mobil listrik yang ingin menaikkan daya dengan biaya ringan bahkan diskon besar di periode tertentu. Program ini memungkinkan konsumen melakukan instalasi </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> sesuai standar keamanan tanpa terbebani biaya besar. </span><i><span style="font-weight: 400;">Stay tuned!</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena kalau dihitung jangka panjang, </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> jauh lebih masuk akal. Tidak perlu buang waktu antre, tidak perlu khawatir kehabisan daya di tengah jalan, dan yang paling penting: kenyamanan yang tidak ternilai harganya. Biaya pun relatif lebih murah dibandingkan SPKLU.</span></p>
<p><b>Peran Periklindo sebagai Jembatan Solusi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Langkah menghadirkan ekosistem </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging </span></i><span style="font-weight: 400;">sebenarnya sudah dimulai. Hyundai sejak 2022 telah menyediakan paket pembelian mobil listrik lengkap dengan instalasi </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk konsumennya. Namun, alangkah lebih baik jika program ini bisa diikuti oleh seluruh APM kendaraan listrik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sinilah Periklindo sebagai asosiasi punya peran strategis. Periklindo bisa menjadi penghubung antara PLN, produsen mobil listrik, dan pemerintah untuk memastikan program seperti ini tidak hanya inisiatif satu-dua merek, melainkan menjadi standar pelayanan purna jualnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bayangkan kalau beli mobil listrik langsung dapat paket instalasi </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan harga </span><i><span style="font-weight: 400;">bundling</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dimana PLN sudah memberikan tarif listrik khusus untuk pemilik EV yang cas di malam hari, </span><i><span style="font-weight: 400;">win-win solution</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena beban puncak listrik bisa terdistribusi di waktu-waktu luar beban puncak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang tidak kalah penting adalah standarisasi instalasi. Jangan sampai semangat pasang </span><i><span style="font-weight: 400;">home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> malah berujung korsleting atau kebakaran karena instalasi asal-asalan. Periklindo bisa memastikan ada sertifikasi teknisi dan standar pemasangan yang aman. Kerjasama dengan PLN bisa menjadi kunci. Jadi tidak membiarkan konsumen mencari sendiri dan akhirnya yang terpasang adalah instalasi yang tidak standar.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Home charging </span></i><span style="font-weight: 400;">bukan sekadar solusi teknis, tapi simbol kesiapan Indonesia memasuki era transportasi listrik. Tanpa kenyamanan bagi pemilik, adopsi EV bisa mandek jadi tren sesaat seperti gadget yang cepat dilupakan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan regulasi yang tepat, insentif yang menarik, dan Periklindo sebagai jembatan komunikasi, Indonesia punya kesempatan memastikan transisi ke transportasi listrik berlangsung mulus. Bukan hanya untuk yang tinggal di Jakarta atau Surabaya, tapi untuk seluruh Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintah dalam hal ini ESDM atau PLN bisa juga memanfaatkan home charging yang sudah terpasang di rumah pelanggan PLN untuk dapat berfungsi sebagai SPKLU.  Dengan demikian, jumlah keberadaan SPKLU bisa meningkat dengan pesat. Namun ada catatan penting yang perlu kita perhatikan atau antisipasi bahwa ini harus atas dasar persetujuan pihak pemilik rumah agar privasi tetap terjaga. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Indonesia menuju era listrik, dan</span><i><span style="font-weight: 400;"> home charging</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah pintu gerbangnya.</span></p>
<p>Oleh : Periklindo</p><p>The post <a href="https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/">Masa Depan EV Dimulai dari Home Charging</a> first appeared on <a href="https://periklindo.com">Periklindo</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://periklindo.com/2026/02/06/masa-depan-ev-dimulai-dari-home-charging/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
