Mobil listrik tidak lagi sekadar jargon masa depan. Masa depan itu sudah tiba dan sedang dinikmati. Jalanan di kota-kota di Indonesia kini mulai dipenuhi model-model kendaraan listrik baru yang hadir dengan harga semakin bersaing.
Dari harga, konsumen jelas diuntungkan karena mereka bisa memilih kendaraan yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Tetapi di balik euforia itu, produsen dan jaringan penjualan harus menghadapi kenyataan dimana persaingan makin keras, margin keuntungan makin menipis, biaya impor tinggi, dan regulasi yang menuntut kepastian kualitas.
Karena kalau bicara soal ekosistem, kita harus bicara seluruh elemennya. Baik dari produsen, konsumen, infrastruktur, green energy dan keseluruhan sistem yang kesemuanya harus terpenuhi dengan baik.
Persaingan harga memang menggoda, tetapi tanpa kendali dan ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan, hal ini bisa menjadi pisau bermata dua.
Dari Persaingan Harga ke Industri Berkelanjutan
Harga mobil listrik di Indonesia, dengan spesifikasi yang sama, masih lebih tinggi dibandingkan di Tiongkok. Mini EV di Tiongkok bisa didapat dengan enam puluh juta rupiah, di Indonesia harus melonjak tiga kali lipat.
Tentu kita harus memahami bahwa ada ongkos kirim, pajak impor, dan distribusi yang membuat perbedaan itu muncul. Namun hal yang tidak boleh dilupakan adalah segi kualitas maupun keamanan. Sebagai orang yang berlatar belakang teknik industri, kita tentu perlu memahami salah satu aspek dalam pengendalian kualitas, yakni six sigma. Six Sigma bukan sekadar teori, namun ini adalah implementasi menuju tingkat error yang sangat rendah dalam sektor industri baik jasa maupun pengadaan barang.
Kendaraan listrik boleh murah, tetapi harus aman, tahan lama, dan dilengkapi layanan service after sales yang jelas. Pemerintah memegang peran vital di sini, memastikan standar baterai, sistem pendingin, hingga mekanisme daur ulang limbah benar-benar dipatuhi secara protokoler.
Percepatan pembangunan pabrik dalam negeri adalah jawabannya. Saat ini, beberapa perusahaan produsen kendaraan listrik sudah mulai bergerak dan ekspansi ke Indonesia.
BYD sedang menyiapkan pabrik di Subang dengan investasi sekitar satu miliar dolar Amerika. Kapasitas awalnya 150.000 unit per tahun, dengan potensi berkembang dua kali lipat. Proyek ini diperkirakan menyerap lebih dari tiga belas ribu tenaga kerja dan menghidupkan local supply chain, dari komponen hingga logistik.
VinFast asal Vietnam pun tak mau ketinggalan. Mereka menggelontorkan investasi sekitar 3T rupiah untuk pabrik di Jawa Barat dengan kapasitas 50.000 unit per tahun, serta menargetkan 100.000 infrastruktur pengisian baterai di seluruh Indonesia. Dampaknya bukan hanya kendaraan yang lebih murah, tetapi juga belasan ribu lapangan kerja baru di sektor energi dan manufaktur.
Wuling lebih dulu memberi contoh konkret. Pabrik mereka di Cikarang melahirkan Air EV, Binguo EV, hingga Cloud EV. Penjualan 2024 menembus tiga belas ribu unit, dengan Cloud EV yang baru setahun diluncurkan langsung mencatat ribuan pemesanan. Pabrik ini mempekerjakan ribuan pekerja lokal dan melibatkan puluhan pemasok dalam negeri. Bukti nyata bahwa produksi lokal bukan hanya retorika, melainkan cara paling efektif menekan harga sekaligus menjaga kualitas.
Angka penjualan pun menunjukkan momentum yang kuat. Sepanjang 2024, mobil listrik jenis BEV terjual lebih dari 43.000 unit. Hanya dalam 7 bulan pertama 2025, penjualan sudah menembus 42.000 unit. BYD mendominasi dengan hampir 19.000 unit atau sepertiga dari pasar. Wuling menguasai sekitar 14%, Denza 13%, Chery 11%, dan Aion 8%. Model seperti BYD Sealion 7, BYD M6, dan Wuling Air EV selalu berada di puncak daftar penjualan bulanan.
Momentum ini jelas tidak boleh disia-siakan. Indonesia tidak boleh hanya puas menjadi pasar yang ramai, melainkan harus bergerak menjadi pusat produksi dan inovasi. Regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) harus ditegakkan, insentif fiskal perlu konsisten, dan infrastruktur pengisian harus diperluas.
Di sinilah Periklindo memiliki peran strategis untuk mendampingi masyarakat, memberi edukasi, dan menjadi mitra pemerintah agar transisi ini bukan sekadar tren sesaat seperti ombak yang datang dengan deburan kencang, namun hilang bersama buihnya.
Mobil listrik adalah fondasi baru bagi transportasi nasional. Ia lebih dari sekadar kendaraan hemat dan bersih, tetapi simbol arah baru ekonomi dan teknologi Indonesia. Jika semua pihak berjalan seirama, Indonesia akan masuk ke peta dunia bukan hanya sebagai konsumen, tetapi sebagai produsen utama kendaraan listrik. Masa depan itu tidak lagi jauh di depan, ia sudah ada hari ini.
Oleh : Periklindo