_Membaca Perbedaan Emisi CO₂ sebagai Sistem Energi
Ada satu narasi yang terus diulang oleh – entah barisan sakit hati atau mereka yang tidak rela dengan perkembangan teknologi elektrifikasi – setiap kali mobil listrik mendapatkan panggung baik di media sosial maupun bisnis nasional. Mereka berkata seperti ini:
EV itu ilusi! Opiate of society, meninabobokan dengan ilusi green energy namun hakekatnya juga kotor! Ekstraksi bahan baku baterainya merusak lingkungan, listriknya dari batubara, polusinya cuma dipindahkan. Ngapain ganti EV? Cuman memperkaya perusahaan mobil listrik saja!
Kalimatnya terdengar keren dan make sense. Namun percaya atau tidak, dalam dunia psikologi, hal-hal macam ini yang sering dipakai sebagai tameng untuk mempertahankan status quo, entah apa yang menjadi motif di belakangnya.
Kritiknya terlihat sempit, tanpa mau melihat ke mana sebenarnya karbon itu dihasilkan, berpindah, dan di sistem mana ia bisa dikendalikan. Padahal, perdebatan EV dan ICE mestinya di soal emisi ya. Apa itu emisi? Emisi adalah zat buang, karbon dioksida (CO₂) dan gas-gas rumah kaca lainnya.
Gas rumah kaca, salah satunya CO₂, muncul karena ada energi yang dihasilkan dari pembakaran. Setiap bentuk energi ada rantai panjang. Rantai itu bersumber dari pengambilan energi dari awal, proses konversi, distribusi, hingga konsumsi. Mobil EV atau ICE, mereka hanya di ujung rantai itu.
Dengan begitu, membandingkan mobil ICE dan EV ya semestinya harus dilihat dari keseluruhan struktur energi yang menopangnya. Supaya perdebatannya sehat, konstruktif dan tidak ofensif. Kepala dingin, berbasis data dan sistematis, itu penting.
Supaya sederhana, bayangkan CO₂ itu punya “rumah”, yaitu tempat ia lahir dan dilepas ke udara, terlepas di atmosfer, dan ditangkap oleh pohon.
Pada mobil ICE, rumah CO₂ berada di mesin. Mesin ini bergerak ke mana-mana. CO₂ lahir di ruang bakar, keluar lewat knalpot, lalu menyebar di setiap tempat yang dilewati kendaraan. Karena rumah CO₂ bergerak, emisi tersebar di banyak titik kecil, tanpa sistem pengelolaan terpusat, dan sulit dikendalikan secara kolektif.
Pada mobil listrik, rumah CO₂ berpindah. Mobil tidak membakar bahan bakar, sehingga CO₂ tidak lahir di kendaraan. Rumah CO₂ berada di sistem energi, terutama di pembangkit listrik. Artinya, emisi tidak mengikuti pergerakan mobil, tetapi terkonsentrasi di sistem energi yang bersifat tetap dan terpusat.
Perbedaannya ada di mana emisi itu terlepas. Emisi yang tersebar sulit direkayasa oleh kebijakan dan teknologi. Pemerintah sudah melakukan banyak kebijakan terkait emisi, mulai dari kebijakan uji emisi, sampai kebijakan pengendalian lalu lintas dan polusi udara perkotaan.
Namun mari kita lihat jika emisi itu terpusat. Emisi yang terpusat bisa dikelola sebagai sistem, melalui perubahan bauran energi, peningkatan efisiensi pembangkit, regulasi emisi, hingga teknologi seperti carbon capture.
Inilah makna struktural transisi energi. Tidak menghilangkan karbon secara instan seperti sulap, tetapi memindahkan karbon ke sistem yang bisa dikendalikan secara kolektif oleh kebijakan, teknologi, dan rekayasa energi.
*Asumsi perhitungan emisi tahunan per 1 kendaraan*
Jarak tempuh (Komuter super agresif) = 100 km per hari ≈ 36.500 km per tahun
*Mobil ICE (Bensin/Solar)*
* Konsumsi: 12 km per liter
* BBM per tahun: 36.500 ÷ 12 = 3.040 liter
* Faktor emisi bensin: ± 2,3 kg CO₂/liter
* Emisi knalpot: 3.040 × 2,3 = ± 7,0 ton CO₂/tahun
* Emisi rantai energi (ekstraksi minyak, kilang, transport, distribusi) → total menjadi ± 8,5 – 9 ton CO₂/tahun
*Mobil listrik (EV)*
* Konsumsi: 0,20 kWh per km
* Listrik per tahun: 36.500 × 0,20 = 7.300 kWh
* Faktor emisi grid Indonesia: ± 0,77 – 0,87 kg CO₂/kWh
* Emisi EV: 5,64 ton – 6.35 ton CO₂/tahun
*Ringkasan penggunaan tahunan 1 kendaraan:*
* ICE: ± 8,5 – 9 ton CO₂/tahun
* EV: ± 5,6 – 6,4 ton CO₂/tahun
Angka-angka ini menunjukkan bahwa bahkan dengan sumber pembangkit listrik nasional yang masih dominan fosil dengan grid kotor, mobil listrik menghasilkan emisi lebih rendah dibanding mobil bensin.
Grid adalah sistem jaringan listrik nasional yang menghubungkan pembangkit, jaringan transmisi, dan pengguna listrik. Mobil listrik mengambil energinya dari sistem ini, sehingga kualitas emisi EV sepenuhnya mengikuti kualitas grid.
Mobil ICE memiliki struktur emisi yang tetap karena karbon selalu dibakar di mesin. Mobil listrik memiliki struktur emisi yang adaptif karena karbon berada di sistem energi. Ketika sistem energi berubah, emisi EV ikut berubah tanpa perlu mengganti struktur mesinnya.
_(Bersambung ke Bagian 2)_
Referensi:
https://oto.detik.com/mobil-listrik/d-8305042/laris-manis-penjualan-mobil-listrik-di-indonesia-tahun-2025-meroket\
https://web.pln.co.id/media/siaran-pers/2023/02/kendaraan-listrik-jadi-upaya-penurunan-emisi-karbon-begini-perhitungan-emisinya-menurut-pln
https://www.kehutanan.go.id/news/article-43
Oleh: Periklindo