_Dari Dampak Kolektif ke Arsitektur Sistem Energi Nasional_

Sebagai sambungan dari artikel sebelumnya, pembacaan kendaraan listrik tidak lagi berhenti pada perbedaan teknologi mesin atau jenis bahan bakar. Diskusi ini harus ditarik ke skala sistemik, ke level kolektif, di mana perubahan kecil di level kendaraan membentuk dampak besar di level nasional. 

Di titik ini, EV tidak lagi bisa dibaca sebagai produk, tetapi sebagai bagian dari restrukturisasi sistem energi, sistem emisi, dan sistem konsumsi nasional.

Di sinilah transisi energi mulai berbicara dalam bahasa data, struktur, dan dampak kolektif, bukan sekadar narasi simbolik atau klaim moral. Karena perubahan sistem tidak pernah bekerja di level individu saja, tetapi selalu bekerja melalui akumulasi.

*Ekstensi Sistemik Skala Nasional (Dampak Kolektif EV Indonesia)*

Populasi kendaraan listrik roda empat Indonesia (akhir 2025): ± 174.497 unit (akumulatif 2022–2025)

Asumsi jarak tempuh konservatif: 12.000 km per kendaraan per tahun

Total jarak tempuh nasional: ± 2,09 miliar km per tahun

Menurut data yang disadur dari berbagai sumber rilis resmi, didapatkan selisih emisi rata-rata: ± 0,125 – 0,13 kg CO₂ per km antara ICE dan EV. Dalam skala nasional, reduksi emisi tahunan mencapai: ± 272.215 ton CO₂ per tahun (posisi akhir 2025)

*Konsep “Hutan Virtual”*

Serapan rata-rata satu pohon dewasa: ± 22 kg CO₂ per tahun. Perhitungan ekuivalensi biologis: 272.215.000 kg CO₂ ÷ 22 kg/pohon = ± 12.373.409 pohon per tahun.

Inilah yang disebut sebagai hutan virtual. Representasi dampak kolektif kendaraan listrik terhadap pengurangan karbon, setara dengan kerja biologis jutaan pohon hidup setiap tahun. Bukan pohon beneran. Ya kali pohon beneran…

Dari konsep ini, EV yang beroperasi di Indonesia saat ini menciptakan efek lingkungan setara dengan lebih dari 12,3 juta pohon aktif menyerap karbon setiap tahun.

 

*Dampak Kumulatif Nasional 2022–2025*

Akumulasi pencegahan emisi: ± 441.116 ton CO₂

Ekuivalensi biologis: ± 20.050.727 pohon dalam kapasitas serapan karbon kolektif

*Dimensi Energi dan Ekonomi*

* BBM yang dihindari secara nasional: ± 209,4 juta liter per tahun (posisi akhir 2025)

* Akumulatif 2022–2025: ± 339,3 juta liter

* Nilai ekonomi energi: Harga BBM RON 92 rata-rata: ± Rp13.000 per liter

* Nilai belanja energi yang dialihkan: ± Rp4,4 triliun (nilai konsumsi energi di tingkat pengguna)

*Estimasi konsumsi energi listrik nasional EV:*

* Total jarak tempuh nasional: ± 2,09 miliar km per tahun

* Asumsi konsumsi rata-rata EV: ± 0,15 kWh per km

* Total konsumsi listrik EV nasional: ± 313,5 juta kWh per tahun

* Tarif SPKLU nasional: ± Rp2.466 – Rp2.475 per kWh (belum termasuk PPN)

* Nilai belanja listrik EV nasional: ± Rp773 miliar – Rp776 miliar per tahun

* PPN 11% dari konsumsi listrik EV: ± Rp85 miliar per tahun

* Total belanja energi EV (listrik + PPN): ± Rp858 miliar – Rp861 miliar per tahun

Selisih belanja energi pengguna: ± Rp4,4 triliun – ± Rp0,86 triliun = ± Rp3,54 triliun per tahun.

Angka ini membentuk “ruang ekonomi baru” bagi konsumen EV, berupa dana yang tidak lagi habis untuk energi fosil, tetapi dapat dialihkan untuk tabungan, konsumsi produktif, pendidikan, investasi, dan sektor ekonomi lainnya.

Ini merepresentasikan pergeseran konsumsi energi dari bensin impor menuju listrik domestik, sekaligus potensi pengurangan ketergantungan struktural terhadap impor energi berbasis minyak.

Makna Arsitektur Energi

Skema fisika energi:

Jalur EV: Energi fosil (pembangkit listrik) → energi listrik → energi gerak

Jalur ICE: Energi fosil (kilang minyak dan pengolahan) → bensin → pembakaran → energi gerak

*Efisiensi energi*

Efisiensi ICE ke roda:

* Efisiensi termal mesin: ± 20–30% (mobil bensin rata-rata)

* Rugi transmisi dan drivetrain: ± 10–15%

* Efisiensi total BBM → roda: ± 20–25%

Artinya, dari 100% energi BBM, hanya sekitar 20–25% yang benar-benar menjadi gerak roda.

Efisiensi sistem EV 

* Charging dan battery efficiency: 90–95%

* Inverter dan motor listrik: 90–95%

* Drivetrain EV: 95–98%

* Efisiensi total listrik → roda: ± 80–90%

Artinya, dari 100% energi listrik, sekitar 80–90% menjadi gerak roda.

Di sinilah perbedaan strukturalnya: Emisi yang tersebar sulit dikelola. Emisi yang terpusat bisa direkayasa.

Teknologi penangkapan karbon hanya masuk akal di sumber emisi besar dan terpusat seperti pembangkit listrik dan industri. Carbon capture tidak mungkin diterapkan pada jutaan kendaraan individual. Maka elektrifikasi membangun sistem yang bisa dikendalikan, sementara sistem pembakaran membangun emisi yang tersebar.

Secara angka, mobil listrik menghasilkan emisi lebih rendah dibanding mobil bensin, meskipun grid Indonesia masih dominan fosil. Secara sistem, mobil listrik membangun struktur energi yang adaptif, karena emisi berada di hulu, bukan di mobil yang adalah end-product nya. Sedangkan mobil ICE, emisinya tersebar di hulu sampai ke end-product.

Hutan virtual berbicara soal arsitektur ekologis baru yang tumbuh dari restrukturisasi sistem energi, teknologi, dan perubahan perilaku konsumsi.

Hutan virtual tidak menggantikan hutan fisik, apalagi dijadikan solusi tunggal krisis iklim yang terjadi saat ini. Hutan virtual membangun struktur dekarbonisasi yang bisa dikendalikan, diukur, dan diperbaiki secara kolektif.

Dan di titik ini, transisi energi bicara soal arsitektur sistem, energi dan emisi. Karena masa depan dekarbonisasi akan menjadi blueprint arsitektur energi.

Referensi:

https://oto.detik.com/mobil-listrik/d-8305042/laris-manis-penjualan-mobil-listrik-di-indonesia-tahun-2025-meroket\

https://web.pln.co.id/media/siaran-pers/2023/02/kendaraan-listrik-jadi-upaya-penurunan-emisi-karbon-begini-perhitungan-emisinya-menurut-pln

https://www.kehutanan.go.id/news/article-43

Oleh: Periklindo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *