Jalanan Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya mulai ramai dengan deretan mobil listrik yang dulu hanya mimpi. Dari sedan mewah sampai city car yang harganya kini semakin bersahabat dengan kantong kelas menengah. Tapi di balik euforia ini, ada satu masalah klasik yang selalu menghantui industri baru: infrastruktur yang tertinggal jauh dari penjualan.

Bayangkan saja, hingga Agustus 2025, mobil listrik murni (BEV) sudah terjual sekitar 51.000 unit secara wholesales. Pangsa pasarnya bahkan sudah menembus 10 persen dari total penjualan mobil nasional. Angka ini adalah angka yang beberapa tahun lalu terdengar mustahil. Namun realitanya, ketika Anda butuh mengisi daya, pilihan masih sangat terbatas.

Di seluruh Indonesia, SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) baru tersedia sekitar 4.186 unit di 2.789 lokasi. Bandingkan dengan target PLN yang menetapkan rasio 1:17 antara SPKLU dan kendaraan listrik, dengan kebutuhan 6.278 unit SPKLU di tahun 2025. Artinya, kita masih kekurangan lebih dari 2.000 unit lagi.

Ini baru membandingkan dengan rasio PLN, yang menurut kebanyakan orang masih kurang ideal. Sedangkan ideal menurut konsumen, ada di angka 1:5.

Pemilik EV pasti familiar dengan drama ini: sampai di SPKLU sudah penuh, harus antre sampai berjam-jam karena pengecasan butuh waktu. Fast charging pun butuh 1-2 jam. Atau ketika butuh cas darurat, ternyata SPKLU terdekat jaraknya jauh. Belum lagi distribusinya yang timpang. Mayoritas terkonsentrasi di Jawa, sementara daerah lain masih gelap gulita.

Memang ada sekitar 1.902 unit fasilitas penukaran baterai (swap battery), tapi layanan ini belum universal. Motor listrik tertentu bisa, tapi mobil? Belum ada yang mendukung secara massal.

Di tengah keterbatasan ini, home charging muncul sebagai penyelamat. Bayangkan bisa mengisi daya mobil di garasi sendiri setiap malam, bangun pagi langsung siap pakai tanpa drama antre atau jalan jauh ke SPKLU. Rasanya seperti punya “pom bensin” pribadi di rumah.

Investasinya memang tidak main-main. Banyak rumah kelas menengah masih pakai daya 2.200–4.400 VA, padahal untuk cas EV yang stabil butuh minimal 7.700 VA. 

Untungnya, PLN sudah menyediakan program khusus untuk pemilik mobil listrik yang ingin menaikkan daya dengan biaya ringan bahkan diskon besar di periode tertentu. Program ini memungkinkan konsumen melakukan instalasi home charging sesuai standar keamanan tanpa terbebani biaya besar. Stay tuned!

Karena kalau dihitung jangka panjang, home charging jauh lebih masuk akal. Tidak perlu buang waktu antre, tidak perlu khawatir kehabisan daya di tengah jalan, dan yang paling penting: kenyamanan yang tidak ternilai harganya. Biaya pun relatif lebih murah dibandingkan SPKLU.

Peran Periklindo sebagai Jembatan Solusi

Langkah menghadirkan ekosistem home charging sebenarnya sudah dimulai. Hyundai sejak 2022 telah menyediakan paket pembelian mobil listrik lengkap dengan instalasi home charging untuk konsumennya. Namun, alangkah lebih baik jika program ini bisa diikuti oleh seluruh APM kendaraan listrik.

Di sinilah Periklindo sebagai asosiasi punya peran strategis. Periklindo bisa menjadi penghubung antara PLN, produsen mobil listrik, dan pemerintah untuk memastikan program seperti ini tidak hanya inisiatif satu-dua merek, melainkan menjadi standar pelayanan purna jualnya.

Bayangkan kalau beli mobil listrik langsung dapat paket instalasi home charging dengan harga bundling. Dimana PLN sudah memberikan tarif listrik khusus untuk pemilik EV yang cas di malam hari, win-win solution karena beban puncak listrik bisa terdistribusi di waktu-waktu luar beban puncak.

Yang tidak kalah penting adalah standarisasi instalasi. Jangan sampai semangat pasang home charging malah berujung korsleting atau kebakaran karena instalasi asal-asalan. Periklindo bisa memastikan ada sertifikasi teknisi dan standar pemasangan yang aman. Kerjasama dengan PLN bisa menjadi kunci. Jadi tidak membiarkan konsumen mencari sendiri dan akhirnya yang terpasang adalah instalasi yang tidak standar.

Home charging bukan sekadar solusi teknis, tapi simbol kesiapan Indonesia memasuki era transportasi listrik. Tanpa kenyamanan bagi pemilik, adopsi EV bisa mandek jadi tren sesaat seperti gadget yang cepat dilupakan.

Dengan regulasi yang tepat, insentif yang menarik, dan Periklindo sebagai jembatan komunikasi, Indonesia punya kesempatan memastikan transisi ke transportasi listrik berlangsung mulus. Bukan hanya untuk yang tinggal di Jakarta atau Surabaya, tapi untuk seluruh Indonesia.

Pemerintah dalam hal ini ESDM atau PLN bisa juga memanfaatkan home charging yang sudah terpasang di rumah pelanggan PLN untuk dapat berfungsi sebagai SPKLU.  Dengan demikian, jumlah keberadaan SPKLU bisa meningkat dengan pesat. Namun ada catatan penting yang perlu kita perhatikan atau antisipasi bahwa ini harus atas dasar persetujuan pihak pemilik rumah agar privasi tetap terjaga. 

Indonesia menuju era listrik, dan home charging adalah pintu gerbangnya.

Oleh : Periklindo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *