Sekilas, Ramadan dan kendaraan listrik terasa seperti dua dunia yang tidak punya hubungan. Satu berbicara tentang iman, refleksi, dan pengendalian diri. Yang lain tentang teknologi, baterai, dan efisiensi energi.
Tapi kalau ditarik lebih dalam, keduanya justru bertemu di titik yang sama, yaitu kesadaran terhadap energi, bagaimana kita menggunakannya, dan bagaimana kita belajar menahan diri di tengah dunia yang selalu mendorong kita untuk lebih cepat, lebih keras, dan lebih konsumtif.
Ramadan membawa perubahan ritme yang terasa nyata di Indonesia. Suasana menjadi sedikit lebih tenang, emosi lebih dijaga, dan orang-orang mencoba menurunkan tempo hidupnya. Ada latihan kolektif untuk tidak reaktif. Tidak semua dorongan harus diikuti. Tidak semua keinginan harus dipenuhi sekarang juga.
Di situ puasa selain ritual fisik, ibadah ini mengajarkan proses pembentukan karakter. Dan menariknya, filosofi ini punya kemiripan dengan karakter kendaraan listrik yang tenang, efisien, dan tidak bergantung pada kebisingan untuk menunjukkan kekuatan.
Dalam perspektif agama Abrahamik, kita melihat ada nuansa yang sangat familiar dalam praktik puasa ini. Tradisi puasa dalam setiap agama tidak selalu seragam dan sering kali bergantung pada bagaimana seseorang menjalani iman secara pribadi. Ada yang ketat, ada yang santai, ada yang lebih reflektif.
Namun esensinya tetap sama. Melatih pengendalian diri, merapikan hati, dan belajar menggunakan energi hidup secara bijak. Dari perspektif ini, Ramadan menjadi inspirasi lintas iman tentang bagaimana manusia membangun karakter melalui disiplin yang hening.
Kendaraan listrik, dalam cara yang unik, merepresentasikan filosofi yang serupa. Ia tidak meraung-raung seperti mesin konvensional, tidak menuntut perhatian lewat suara keras, tetapi bekerja dengan efisiensi yang diam-diam kuat. Mengemudi EV terasa lebih mindful. Akselerasi bersih, pergerakan halus, dan energi digunakan dengan perhitungan. Bahkan konsep regenerative braking seolah menjadi metafora kehidupan. Metafora ketika kita melambat, energi tidak hilang begitu saja, melainkan dikumpulkan kembali untuk perjalanan berikutnya. Dalam dunia yang terbiasa memuja agresivitas, EV menawarkan cara baru yang lebih tenang namun tetap efektif.
Ramadan mengajak manusia menahan diri dari konsumsi berlebihan. EV juga lahir dari kesadaran bahwa energi planet tidak bisa terus dipakai tanpa refleksi. Ada kesamaan spirit di sana. Puasa menjadi eco-mode bagi jiwa manusia. Kendaraan listrik menjadi eco-mode bagi mobilitas modern. Keduanya mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu identik dengan kebisingan atau kecepatan tanpa arah. Kadang justru ketenangan, konsistensi, dan kesadaran yang membuat perjalanan menjadi lebih bermakna.
Di Indonesia, di mana keberagaman iman hidup berdampingan setiap hari, momen Ramadan bisa menjadi pengingat bahwa spiritualitas dan kemajuan teknologi tidak harus berjalan terpisah. Justru keduanya bisa saling memperkaya cara kita memahami dunia. Melihat saudara-saudara Muslim menjalani ibadah puasa, ada inspirasi yang kuat tentang disiplin dan kedamaian.
Dan ketika filosofi itu disandingkan dengan karakter kendaraan listrik yang tenang dan efisien, muncul gambaran menarik tentang masa depan. Manusia yang bergerak maju, tetapi dengan hati yang lebih hening dan energi yang digunakan dengan lebih bijak.
Periklindo mengucapkan selamat memasuki bulan Ramadan bagi saudara-saudara Muslim di Indonesia. Semoga perjalanan menahan diri ini membawa kedamaian, kejernihan hati, dan kekuatan baru hingga tiba hari kemenangan di Idul Fitri.
Oleh: Periklindo