Berdasarkan data market 2025, share mobil listrik mengalami perkembangan yang menggembirakan. Jenis Batere Electric Vehicle (BEV) menguasai pasar mobil listrik sebesar 58,9% disusul Hybrid Electric Vehicle (HEV) sebesar 38,2?n Plug in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) sebesar 3%. Namun Dr. Hendra Noor Saleh, doctor Universitas Tarumanegara Jakarta dan Phillippine Womens University dengan kelulusan kekhususan Electric Vehicle justru menyoroti soal subsidi.
“Subsidi, dalam kajian akademik, disebut sebagai policy driven. Dan masa policy driven, menurut saya sudah lewat. Marketshare EV sudah tembus angka 12,8%. Saatnya industri EV berdiri di atas kaki sendiri, istilah akademisnya; market driven,” paparnya.
Menurutnya, Agen Pemegang Merek (APM) mobil listrik tidak usah lagi cengeng menunggu subsidi. Tapi industri butuh kepastian, jangan seperti kondisi saat ini. Diliputi ketidakpastian, sehingga terkesan pemerintah (cq departemen perindustrian) tidak punya visi soal roadmap membangun industri EV. “Kesannya setengah hati. Bahkan lebih parah; ingin membuat negara ini tergantung dari impor minyak yang tentunya membuat devisa mengalir deras ke negara lain setiap tahun. Belum lagi jika bicara polusi, lingkungan dan kesehatan generasi mendatang,” kilahnya tentang dampak subsidi itu.
Bicara segmen mobil listrik yang berkembang, kita mulai dari segmen BEV. Menurut Dr. Hendra Noor Saleh, segmen BEV sangat berpotensi. Menurutnya, situasi saat ini, brand yang mengeluarkan produk BEV dipaksa bersaing, menghasilkan BEV yang kompetitif secara harga, aman dan fitur tercanggih. Contoh Denza N8N yang saat ini masih diproduksi di China. Sudah dilengkapi drone, harga jauh lebih murah dibanding Alphard dengan teknologi safety yang sudah melampui rata-rata mobil Eropa dan Jepang.
Dengan kondisi persaingan pasar seperti ini, yang diuntungkan tentu konsumen. Mereka punya pilihan rasional. Bertahan dengan paradigma lama, atau berani mencoba BEV. Makin lama, segmen ini (early majority) akan makin besar berpotensi beralih ke BEV.
Tentang segmen PHEV yang daya serapnya masih relative kecil pada tahun 2025,Kohen, panggilan akrab Dr. Hendra Noor Saleh punya pendapat berbeda. Menurutnya, PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) mengusung dua mesin : mesin konvensional (ICE), dan satunya mesin EV. “Artinya dalam satu mobil, punya 2 sumber tenaga. Tapi sekaligus punya dua sumber potensi masalah,” terangnya.
Konsumen tentu mikir, kenapa saya harus keluar biaya (dan risiko) 2 kali dari PHEV atau jenis hybrid lainnya. Inilah saatnya konsumen tidak ragu lagi beralih penuh ke BEV. Saat ini charging station sudah makin menjamur, dengan harga makin murah, aman dan sebaran makin merata.
Ditanya soal pentingnya program pemerintah dalam hal subsidi, Kohen balik bertanya : Tergantung visi besar pemerintah. “Kalau mau terus menerus tergantung dengan impor minyak, dan membuat udara kita tetap kotor seperti sekarang, ya buru-buru aja hentikan subsidi. Sekali lagi, industri itu butuh kepastian. Bukan belas kasihan,” tegas Kohen yang pernah memimpin majalah AutoBild Indonesia menutup wawancaranya dengan redaksi AndreaAutoPage.com. (End)
Sumber dari : https://andreaautopage.com/home/read/wA2JJ7P3300RmkD/Industri_itu_Butuh_Kepastian,_Bukan_Belas_Kasihan