Catatan kecil penulis tentang pindah arah hidup
Oleh: Kontributor Periklindo
Sejak saya berkuliah di tahun 2007, motor adalah kendaraan yang menemani saya untuk datang ke kampus, mengerjakan tugas panggilan sebagai anak yang mesti berbakti kepada orang tua. Orang tua saya bukan orang yang berada saat itu. Biasa-biasa saja. Ada usaha, kembang kempis.
Namun dalam pandangan keluarga kami, mau susah atau gampang, mau kaya atau miskin, sarjana adalah hal yang patut diperjuangkan. Orang tua saya waktu itu membelikan saya motor untuk mempermudah.
Biaya kuliah juga ditanggung saudara. Sambil menanggung beban ekspektasi saudara, orang tua saya meminta saya untuk kuliah yang benar. Baik-baik kuliah, agar bisa buka peluang pekerjaan.
Motor jadi saksi hidup saya selama belasan tahun. Joknya menjadi saksi hidup atas segala perjuangan yang dikerjakan baik secara santai, kadang bolos, kadang gak sempat pulang karena mengerjakan skripsi.
Helm menjadi telinga yang tidak bisa merespons setiap suka maupun duka yang saya rasakan. Mesinnya teman setia yang berisik. Panas, hujan, dan macet menyatu di perjalanan harian. Banyak ide-ide bagus yang justru lahir saat lampu merah menyala.
Saya menjalani hari dengan motor bensin. Pagi, siang, malam, roda terus berputar. Isi bensin secara konsisten, menggerus juga ya kalau dipikir-pikir. Kepala panas, napas pendek, ritme hidup terasa datar. Dari kuliah tahun 2007 sampai 2025. 18 tahun, bermotor. Meski motornya berbeda, rasanya sama.
Lalu datang satu momen yang sebenarnya sudah menumpuk. Saya pengidap asma sejak kecil. Terakhir asma, seingat saya adalah waktu di akhir kuliah ketika kelelahan menyelesaikan skripsi S1.
Yang kali ini juga mulai mirip. Asap yang bukan asap kendaraan, tetap asap yang mengepul di kepala. Pikiran berputar tanpa arah. Di situ muncul satu kalimat sederhana yang membisik pelan.
“Kamu terlalu lelah. Sudah… Sudah waktunya istirahat…”
Ritme inilah yang menjadi eskalasi saya sehingga mengidap asma lagi setelah belasan tahun asma itu hilang. Kini ia datang lagi. Inilah yang memberikan dampak buruk bagi kesehatan saya. Napas jadi separuh-separuh, sulit konsentrasi.
Tidak seperti dulu, asma bukan lagi penyakit yang harus saya tanggung sendiri. Sekarang sudah ada 2 anak dan 1 istri. Dulu asmaku ya asmaku. Namun sekarang, dampak asmaku dirasakan sesak oleh mereka. Sesak dalam melihat ayah dan suami yang sakit-sakitan, sesak pendapatan, sesak dalam keuangan karena berobat dan sesak dalam waktu untuk tetap produktif.
Wah, saya baru ngeh saat itu. 2025 akhir. Saya dipaksa untuk menggeser pola hidup. Arah perlu ditata ulang. Ada dorongan untuk melangkah maju. Dan dorongan itu terasa mendesak.
Saya mulai melirik motor listrik. Ragu hadir. Di usia yang sudah mau menginjak kepala orang ini… Mungkin motor listrik bisa dibilang lebih irit dari motor bensin, namun tidak menyelesaikan masalah tubuh yang sudah berumur ini, yang tidak boleh terlalu lama terkena angin dan hujan. Apalagi vonis dokter sudah berkata demikian…
Saya akhirnya mencoba membeli mobil listrik dengan banyak sekali pertimbangan yang muncul. Apakah reliable? Sustainable? Ah, sudah lah… Kubuang semua pemikiran overthinking itu.
Karena asma tidak bisa menunggu terlalu lama. Bagaimana nasib keluargaku kelak jika harus mengurus suami yang sakit-sakitan?
Awal-awal menggunakan mobil listrik, rasanya canggung. Canggung karena tidak ada biaya bensin, adanya biaya listrik yang jauh lebih murah. Hitungnya bukan kilometer per liter, namun kWh per 100 km, atau km per kwh. Tidak ada ritual lama. Malam terasa lebih produktif karena mengecas di rumah. Saya kaget, hidup mendadak terasa sederhana.
Sejak hari itu ritme saya berubah. Pagi terasa siap, malam terasa cukup. Biaya harian menipis tanpa drama. Ruang di kepala melebar pelan-pelan. Asap yang mengepul, mendadak jadi sambaran-sambaran elektron di otak yang membuat lebih produktif.
Pertanyaan tentang lingkungan sering datang. Bagi saya itu hadiah yang menyenangkan. Intinya ada pada kendali. Waktu, energi, dan arah kini lebih dekat di genggaman.
Dari mobil listrik, langkah berlanjut ke masa depan. Perpindahan terasa wajar karena fondasi sudah kokoh. Saya melihat EV sebagai sistem hidup yang tertata. Setiap hari berjalan lebih terencana.
Perdebatan teori dan angka terus bergulir. Saya memilih berdiri di pengalaman. Dari panas menuju senyap, dari riuh menuju fokus. Wah, saya baru ngeh, teknologi ini menyentuh batin dan kesehatan mental saya dan keluarga saya.
Kini setiap kali charger menempel pada kendaraan, saya melihat simbol perjalanan yang naik kelas. Bukan saya saja yang naik kelas, tapi lingkunganku jadi naik kelas. Sebuah tanda bahwa hidup bergerak maju. Dari pergeseran teknologi kendaraan, saya belajar bagaimana hidup itu lebih terarah.
Oleh: Kontributor Periklindo