“Ngapain buang-buang waktu ngecas kendaraan listrik? Mana harus nunggu lagi? Isi minyak 3 sampai 5 menit selesai. Itu baru produktif.”
Kalimat seperti ini sering muncul saat kendaraan listrik dibicarakan, dibahas dan digoreng. Entah apa yang dimaksud dengan produktif, namun kelihatannya definisi “produktif” dipersempit menjadi cepat, selesai, lalu jalan lagi. Waktu yang menunggu langsung diberi label pemborosan. Dalam dunia modern, hal ini memang kerap kali menjadi standar.
Cara berpikir ini lahir dari kebiasaan lama yang menilai nilai waktu hanya dari kecepatan. Semakin singkat berhenti, semakin dianggap efisien. Kendaraan listrik menghadirkan pengalaman berbeda karena pengisian daya memang mengajak berhenti lebih lama. Di titik ini, pemahaman tentang produktivitas mesti diuji ulang.
Dalam keseharian, menunggu sering dianggap pasif, buang-buang waktu. Bahkan banyak istri yang ketika melihat suaminya bengong, langsung dicap pemalas. Padahal menunggu bahkan dalam kasus tertentu, bengong, ya itu adalah kondisi ketika manusia hadir penuh tanpa tuntutan reaksi cepat.
Saat gerak berkurang, kesadaran meningkat. Pikiran bekerja lebih tenang dan tidak sekadar bereaksi terhadap rangsangan luar.
Pengalaman di SPKLU menunjukkan hal tersebut. Kendaraan diam, suara hening, dan perhatian tidak terpecah ke banyak hal. Banyak orang mulai menulis, menyusun ide kerja, atau menata ulang rencana. Gagasan muncul perlahan karena kepala tidak lagi dipacu oleh kecepatan.
Pengalaman personal bahkan menunjukkan perubahan cara mengelola waktu secara nyata. Pada masa menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak, rutinitas mingguan hampir selalu sama, mampir ke SPBU sebelum berangkat kerja. Dari mulai berbelok masuk area SPBU, antre, mengisi, hingga kembali keluar ke jalan raya, rata-rata memakan sekitar 15 menit. Setelah beralih ke kendaraan listrik, pola ini berubah total.
Pengisian energi dilakukan di rumah saat malam hari, biasanya ketika pemilik kendaraan bersiap tidur. Artinya tidak ada lagi kewajiban berhenti khusus setiap minggu. Jika dalam satu tahun terdapat 52 minggu, maka waktu yang sebelumnya habis untuk kunjungan rutin ke SPBU mencapai 52 dikali 15 menit, setara 780 menit atau sekitar 13 jam.
Angka ini memperlihatkan bahwa pengalaman EV tidak hanya soal menunggu di SPKLU, tetapi juga tentang menghilangkan banyak jeda kecil yang sebelumnya dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari.
Secara filosofis, ketenangan selalu menjadi prasyarat lahirnya pemahaman. Pikiran yang terus dikejar waktu cenderung dangkal dan reaktif. Pikiran yang diberi jeda menjadi reflektif dan terarah. Menunggu saat pengisian daya menghadirkan kondisi ini secara alami. Bahkan sejarah mencatat seorang ilmuwan bernama Erwin Schrodinger, menemukan sifat gelombang dalam atom, ketika ia sedang bercinta.
Produktif dalam pengertian yang lebih kompleks, tidak diukur dari seberapa cepat seseorang bergerak. Produktif diukur dari apa yang dihasilkan selama waktu berjalan. Menunggu sambil berpikir, menulis, dan merapikan gagasan memberi hasil yang nyata. Waktu tetap bekerja, hanya arahnya berbeda.
Hidup modern jarang memberi kesempatan untuk beristirahat dengan sadar. Hari dipenuhi notifikasi, suara, dan tuntutan respons cepat. Pengisian daya kendaraan listrik, bisa dilihat sebagai salah satu bentuk memutus pola tersebut untuk sementara. Waktu tidak mendesak dan perhatian dapat kembali terpusat.
Dalam filsafat waktu, jeda bukan kekosongan. Jeda adalah tahap persiapan sebelum gerak berikutnya. Pengisian daya EV berjalan dengan logika yang sama. Energi dikumpulkan perlahan agar perjalanan selanjutnya stabil dan terukur.
EV dan SPKLU, dalam sisi ini, menawarkan cara baru memandang produktivitas. Bergerak terus tidak selalu menghasilkan kejelasan. Berhenti sejenak sering membantu arah menjadi lebih jelas. Saat pengisian selesai, kendaraan siap melaju dan pikiran telah lebih tertata.
Menunggu di SPKLU akhirnya menjadi pelajaran sederhana. Produktif tidak selalu berarti cepat selesai. Produktif berarti sadar menggunakan waktu. Dalam ketenangan itu, daya kendaraan terisi dan ide manusia menemukan bentuknya sebelum perjalanan dilanjutkan.
Oleh: Periklindo