Setiap kali EV dibahas, percakapan hampir selalu kusut di perdebatan yang sama. Charging lama, colokan terbatas, jarak tempuh terasa kurang alias range anxiety. Diskusi berputar pada aspek teknis, seolah inti persoalan berada pada mesin dan baterai.
Padahal perubahan terbesar yang sedang terjadi justru berada pada cara manusia memahami energi dan mobilitas. EV ini berkembang sangat pesat baru di abad 20, meski secara fun fact, sudah sempat diperkenalkan di tahun 1830-an loh di Eropa.
Terlepas dari itu, fakta sejarah menunjukkan bahwa kendaraan mesin berbahan bakar minyak, memang merajai pasar sampai akhir tahun 2020, mulai bergeser ke EV. Saat ini, banyak orang masih membawa pola pikir lama yang terbentuk dari pengalaman panjang dengan kendaraan berbahan bakar minyak.
Istilah paradigm shift berasal dari pemikiran Thomas Kuhn, seorang filsuf sains asal Amerika yang memperkenalkan gagasan ini melalui bukunya The Structure of Scientific Revolutions. Kuhn mengatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak berjalan linear sesuai kaidah sebab-akibat. Pengetahuan seseorang berubah melalui fase perubahan besar ketika cara lama memahami dunia tidak lagi mampu menjawab realitas baru.
Paradigma lama biasanya bertahan lama karena terasa stabil dan familiar, hingga suatu titik ketika anomali semakin banyak muncul dan memaksa perubahan kerangka berpikir. Pergeseran ini sering menimbulkan penolakan, baik secara halus maupun secara kasar, karena manusia cenderung mempertahankan status quo dari pemikiran dan kebiasaan budaya mereka.
Konsep tersebut terasa relevan ketika melihat bagaimana kendaraan listrik diterima hari ini. Selama puluhan tahun, kendaraan identik dengan refill fuel. Energi dituang saat hampir habis, prosesnya cepat, lalu perjalanan dilanjutkan. Fully fueled.
Kebiasaan ini membentuk ekspektasi yang kuat tentang bagaimana kendaraan seharusnya bekerja. Ketika kendaraan listrik datang dengan konsep recharge, muncul benturan yang sebenarnya bersifat psikologis. Charging terasa lambat karena dibandingkan dengan pengalaman yang bekerja dengan logika berbeda sejak awal. Fully recharged.
Paradigma baru melihat energi sebagai sesuatu yang dikelola secara berkelanjutan. Charging tidak lagi menjadi aktivitas darurat yang dilakukan ketika indikator menyala merah. Ia menjadi bagian dari ritme harian yang menyatu dengan aktivitas lain.
EV mengajak pengguna mengubah kebiasaan, dari menunggu energi habis menuju menjaga energi tetap stabil sepanjang waktu. Pergeseran ini terlihat sederhana, namun mengubah cara merasakan perjalanan.
Banyak pengguna baru mencoba mencari pengalaman yang identik dengan pom bensin. Mereka datang ke charging station dengan harapan datang, isi, lalu pergi secepat mungkin. Ketika prosesnya membutuhkan waktu lebih lama seperti pengisian minimal 1 jam, antrean dan lain sebagainya, kesan pertama yang muncul adalah bahwa teknologi ini merepotkan.
EV punya paradigma yang berbeda. Slow charging di rumah atau saat parkir lama menjadi pembentuk pengalaman, sementara fast charging berperan sebagai pelengkap perjalanan. Perubahan paradigma juga menyentuh cara memahami produktivitas. Selama ini, efisiensi sering diasosiasikan dengan kecepatan. Ada jeda yang muncul secara alami, dan jeda ini membuka kesempatan untuk aktivitas lain tanpa mengganggu perjalanan.
Banyak pengguna mulai melihat waktu dengan cara berbeda, lebih terencana dan yang penting, lebih sadar terhadap energi yang digunakan. Karena dengan mengisi minyak, sering kali kita take it for granted terhadap energi yang diperoleh.
Narasi tentang listrik nasional juga sering terjebak dalam paradigma lama. Kekhawatiran bahwa EV akan menguras pasokan listrik muncul berulang kali, seolah setiap kendaraan tambahan menjadi ancaman bagi sistem energi.
Realitasnya lebih kompleks. Indonesia memiliki kapasitas produksi listrik yang besar dengan kondisi surplus di banyak periode. Tantangan utama berada pada manajemen penggunaan dan distribusi, bukan pada asumsi bahwa energi akan segera habis. Pergeseran paradigma diperlukan agar listrik dipahami sebagai sistem dinamis yang dapat dioptimalkan.
Hal menarik lain dari EV adalah meningkatnya kesadaran terhadap energi. Pengguna mulai memperhatikan konsumsi kWh, gaya berkendara (eco, normal, sport), serta efisiensi perjalanan secara lebih detail.
Energi yang sebelumnya terasa abstrak kini menjadi sesuatu yang nyata dan terukur dalam kehidupan sehari-hari. Mobilitas berubah dari sekadar menggerakkan kendaraan menjadi pengalaman memahami bagaimana energi bekerja.
Paradigm shift tidak terjadi dalam satu malam. Jalannya tidak gegabah, bahkan sering kali tanpa disadari. EV saat ini berada pada fase di mana teknologi sudah melangkah maju, sementara cara berpikir publik masih berusaha mengejar.
Diskusi yang terus berputar pada kekurangan teknis sering kali hanya menjadi refleksi dari paradigma lama yang belum sepenuhnya bergeser. Ketika cara berpikir berubah, pengalaman terhadap kendaraan listrik ikut berubah, dan mobilitas memasuki fase baru yang lebih sadar energi dan lebih terencana.
Periklindo hadir untuk mendampingi dan mengedukasi masyarakat agar bisa memahami perkembangan kendaraan listrik di Indonesia.
Oleh: Periklindo