ESG sebagai Keputusan Operasional yang Rasional
Perubahan menuju kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) mulai terlihat sebagai bagian dari strategi operasional di sektor logistik. Diskusi tentang ESG sering dianggap abstrak, padahal dampaknya langsung terasa pada keputusan teknis sehari-hari, terutama pada jenis armada yang digunakan.
ESG sendiri merujuk pada tiga aspek utama dalam menilai keberlanjutan perusahaan, yaitu Environmental (dampak lingkungan), Social (dampak sosial terhadap manusia), dan Governance (tata kelola perusahaan yang transparan dan bertanggung jawab).
Tekanan terhadap pengurangan emisi semakin nyata. Pemerintah Indonesia telah memasukkan target net zero emission dalam agenda pembangunan nasional, sehingga sektor transportasi menjadi salah satu fokus utama dalam transisi energi.
Indonesia menargetkan Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat, sebagaimana disampaikan dalam dokumen perencanaan nasional dan strategi jangka panjang pembangunan rendah karbon.
Net zero emission berarti kondisi di mana jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan seimbang dengan jumlah emisi yang dikurangi atau diserap kembali, sehingga total dampak terhadap iklim mendekati nol.
Aktivitas logistik memiliki kontribusi signifikan terhadap penggunaan energi karena melibatkan distribusi barang secara terus menerus dengan armada dalam jumlah besar.
Menurut International Energy Agency (IEA), sektor transportasi menyumbang sekitar 24% emisi CO₂ dari pembakaran energi secara global, dan kendaraan berat logistik menjadi salah satu kontributor utama dalam kategori tersebut.
Setiap perubahan pada kendaraan operasional memberikan dampak langsung terhadap jejak karbon perusahaan.
Kendaraan listrik menghadirkan pendekatan yang lebih sederhana dalam memahami efisiensi energi. Motor listrik mampu mengubah sebagian besar energi menjadi gerakan kendaraan.
Efisiensi motor listrik dapat mencapai sekitar 85–90%, sementara mesin pembakaran internal umumnya berada pada kisaran 20–30% karena sebagian besar energi hilang sebagai panas.
Hal ini membuat penggunaan energi menjadi lebih efisien dibanding sistem pembakaran konvensional yang menghasilkan banyak energi panas. Dalam konteks logistik, efisiensi ini memengaruhi biaya operasional serta intensitas emisi per kilometer perjalanan.
Selain efisiensi energi, dampak lokal juga menjadi faktor penting. Armada distribusi sering melewati kawasan padat penduduk, termasuk jalur perkotaan dan area permukiman. Kendaraan listrik beroperasi dengan tingkat kebisingan lebih rendah dan tanpa emisi knalpot langsung.
Polusi udara dari transportasi jalan raya diketahui berkontribusi terhadap emisi NOx dan partikulat yang memengaruhi kualitas udara perkotaan, sehingga elektrifikasi armada menjadi salah satu strategi mitigasi yang didorong banyak pemerintah.
Dari perspektif ESG, pilar environmental berarti fokus pada bagaimana aktivitas perusahaan mempengaruhi lingkungan, termasuk penggunaan energi, emisi karbon, dan pengelolaan sumber daya.
Pemerintah Indonesia juga mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik melalui kebijakan pengembangan ekosistem industri dan infrastruktur pengisian daya. Pemerintah menargetkan jutaan unit kendaraan listrik beroperasi pada tahun 2030 sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi dan penguatan industri kendaraan listrik nasional.
Model bisnis terkait baterai juga berkembang seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik. Pendekatan seperti battery-as-a-service memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan aset, sekaligus membuka peluang pemanfaatan baterai pada tahap kedua seperti penyimpanan energi statis.
Konsep ini memungkinkan perusahaan menggunakan baterai tanpa harus memilikinya secara penuh, sementara penyedia layanan bertanggung jawab atas perawatan, penggantian, dan siklus daur ulang. Hal ini mendukung konsep ekonomi sirkular yang semakin relevan dalam standar ESG.
Selain aspek lingkungan, perubahan menuju BEV juga memengaruhi hubungan perusahaan dengan publik. Konsumen semakin memperhatikan proses distribusi yang digunakan oleh layanan logistik. Armada listrik memberikan sinyal yang mudah terlihat bahwa perusahaan melakukan transformasi nyata dalam operasionalnya.
Transisi menuju kendaraan listrik menunjukkan bahwa ESG semakin dekat dengan realitas operasional. Perusahaan logistik yang memahami perubahan ini dapat mengintegrasikan efisiensi energi, tanggung jawab lingkungan, dan strategi bisnis dalam satu keputusan teknis.
Sumber Referensi Resmi
https://www.esdm.go.d/id/media-center/arsip-berita/strategi-percepatan-pemanfaatan-kendaraan-listrik-di-indonesia-
https://esdm.go.id/en/media-center/news-archives/ini-target-pemerintah-untuk-populasi-kendaraan-listrik-di-tahun-2030
https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pengembangan-ekosistem-kblbb-dorong-masuknya-investasi-kendaraan-listrik
https://www.bappenas.go.id/berita/bappenas-pertamina-dukung-komitmen-net-zero-emission-sejalan-dengan-visi-indonesia-emas-2045-OFEtp
Oleh: Periklindo