Mengelola Risiko Logistik di Era Transisi Energi
Diskusi mengenai kendaraan listrik sering berfokus pada teknologi atau isu lingkungan. Dalam praktik tata kelola perusahaan, terutama pada sektor logistik, perubahan menuju BEV memiliki makna yang lebih luas.
Migrasi armada menjadi bagian dari strategi governance yang berkaitan dengan pengelolaan risiko operasional dan kesiapan menghadapi perubahan regulasi. Istilah governance dalam konteks ESG merujuk pada bagaimana perusahaan mengambil keputusan secara transparan, terukur, dan mampu menjaga keberlanjutan bisnis melalui manajemen risiko yang baik.
Di Indonesia, integrasi aspek ESG dalam tata kelola juga semakin didorong oleh regulator, termasuk melalui Peraturan OJK terkait penerapan keuangan berkelanjutan yang mendorong perusahaan menyusun laporan keberlanjutan dan transparansi risiko lingkungan serta sosial.
Kebijakan energi global bergerak menuju pengurangan emisi secara bertahap. Indonesia juga mendorong transisi energi melalui berbagai program kendaraan listrik serta pengembangan infrastruktur pendukung.
Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% secara mandiri pada tahun 2030 sesuai Enhanced NDC (Nationally Determined Contribution), dengan sektor energi dan transportasi menjadi kontributor utama dalam upaya tersebut.
Transisi energi berarti pergeseran dari penggunaan energi berbasis bahan bakar fosil menuju sumber energi yang lebih efisien dan rendah emisi, termasuk elektrifikasi transportasi.
Perusahaan logistik yang mulai beradaptasi lebih awal memiliki ruang lebih luas untuk merencanakan investasi jangka panjang dan menghindari tekanan biaya akibat perubahan kebijakan di masa depan. Kementerian Keuangan telah mulai menerapkan mekanisme harga karbon di Indonesia, termasuk pajak karbon yang dirancang sebagai instrumen ekonomi untuk mendorong pengurangan emisi secara bertahap.
Struktur biaya kendaraan listrik memberikan karakteristik berbeda dibanding kendaraan berbahan bakar fosil. Komponen mekanis lebih sederhana sehingga kebutuhan perawatan cenderung lebih rendah.
Sebagai gambaran, kendaraan listrik tidak memiliki banyak komponen seperti sistem pembakaran, transmisi kompleks, atau sistem pembuangan, sehingga potensi perawatan rutin menjadi lebih ringan.
Analisis International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa biaya perawatan kendaraan listrik dapat lebih rendah hingga sekitar 20–40% dibanding kendaraan mesin pembakaran internal karena jumlah komponen bergerak yang lebih sedikit. Hal ini membantu perusahaan membangun proyeksi biaya operasional yang lebih stabil.
Stabilitas ini menjadi faktor penting dalam tata kelola karena memudahkan perencanaan anggaran dan manajemen risiko finansial.
Digitalisasi juga memainkan peran besar dalam integrasi ESG. Kendaraan listrik memungkinkan pencatatan data penggunaan energi secara real-time melalui sistem telematika.
Telematika adalah sistem digital yang menggabungkan sensor kendaraan, konektivitas internet, dan software monitoring untuk mencatat performa kendaraan, konsumsi energi, serta pola operasional secara otomatis. Kemampuan monitoring digital ini mendukung kebutuhan pelaporan ESG berbasis data, yang semakin menjadi standar global bagi investor institusional dan lembaga pembiayaan internasional.
Data tersebut dapat langsung diintegrasikan ke dalam laporan keberlanjutan yang semakin dibutuhkan oleh investor dan regulator. Transparansi berbasis data menjadi indikator penting dalam penilaian governance modern.
Selain faktor internal, tekanan juga datang dari rantai pasok global. Banyak perusahaan internasional mulai memilih mitra logistik yang mampu menunjukkan standar keberlanjutan yang jelas.
World Bank dan IEA mencatat bahwa standar ESG semakin menjadi bagian dari persyaratan rantai pasok global, termasuk pelaporan emisi dan efisiensi energi sebagai indikator keberlanjutan operasional.
Standar ini biasanya terkait dengan laporan emisi, efisiensi energi, serta komitmen terhadap target ESG yang menjadi bagian dari persyaratan kerja sama internasional.
Armada listrik menjadi indikator kesiapan dalam mengikuti perubahan tersebut. Perusahaan yang mampu beradaptasi menunjukkan kemampuan manajemen dalam membaca arah industri.
Dalam konteks governance, migrasi menuju BEV dapat dilihat sebagai langkah preventif. Transformasi armada membantu perusahaan menjaga fleksibilitas operasional ketika regulasi berubah, sekaligus memperkuat reputasi di mata publik dan investor.
Perubahan ini menunjukkan bahwa governance bukan sekadar kepatuhan administratif melainkan berkaitan dengan kemampuan perusahaan melihat tren energi dan menyesuaikan operasional sebelum tekanan eksternal menjadi bantuan yang terlambat.
Sumber Referensi Resmi
https://www.ojk.go.id/id/regulasi/Pages/POJK-51-POJK.03-2017.aspx
https://unfccc.int/sites/default/files/NDC/2022-09/Indonesia%20Enhanced%20NDC.pdf
https://fiskal.kemenkeu.go.id/kajian/2021/10/28/172203196121811-kebijakan-harga-karbon-di-indonesia
https://www.iea.org/reports/global-ev-outlook
https://www.worldbank.org/en/topic/climatechange
Oleh: Periklindo