Teknologi berubah, kendaraan berubah. Agak sayang jika cara berkendara para pengemudi masih belum berubah, masih terpaku dengan cara menyetir kendaraan konvensional.

Masuk ke kendaraan listrik itu tidak sekadar pindah mesin, tapi pindah cara berkendara. Ini yang sering luput, yakni adaptasi kognitif. Apa itu adaptasi kognitif?

Adaptasi kognitif menuntut pengendara harus belajar ulang/relearn tentang kendaraan, pengambilan keputusan, dan risiko berkendara yang berbeda antara listrik dengan kendaraan konvensional.

Tanpa adaptasi ini, pengemudi akan selalu tertinggal. Dan di EV, setengah detik itu penting sekali. Label “pengendara EV agresif” yang muncul belakangan ini sebenarnya berangkat dari 2 fakta.  Fakta pertama adalah bias observasi seolah-olah sebagian kecil yang terjadi, mewakili seluruh hal yang ada. Namun fakta kedua yang dirasa lebih penting dari sekadar pembelaan diri dari bias observasi, adalah fakta masih banyak pengemudi EV yang tidak beradaptasi. Technological illiterate.

Kita harus mengakui kekurangan tersebut terlebih dahulu, agar bisa melakukan perbaikan dan maju ke depan mengikuti arah perkembangan teknologi yang ada. Kendaraan listrik sudah mulai dominan di jalanan Indonesia, sehingga setiap kejadian mudah terekam, lalu berulang di media sosial. Dari situ terbentuk persepsi yang terasa menyeluruh. Padahal yang terjadi lebih kompleks. Integrasi antara teknologi baru dan manusia yang masih belajar mengimbanginya.

Kita tidak perlu membela diri. Hal yang diperlukan adalah pemahaman teknis dan kondisi fisik pengendara yang akan menjadi inti dari pembahasan di dalam artikel ini.

*Pemahaman Teknis*

Kendaraan listrik itu sangat responsif. Bahkan terlalu responsif kalau diperlakukan seperti mobil biasa. Maka pemahaman teknis menjadi krusial di sini.

– Torsi instan. Pedal diinjak, tenaga langsung keluar. Tidak ada fase tunggu. Ini keunggulan, sekaligus potensi bahaya kalau tidak dikendalikan dengan halus. Akselerasi yang tiba-tiba bisa membuat mobil melonjak lebih cepat dari perkiraan pengemudi sendiri. Dalam kondisi padat, ini bisa langsung mempersempit jarak aman tanpa disadari.

Pengemudi perlu meningkatkan sensitivitas kaki. Istilah kata, “feeling kaki”. Jadi alih-alih hanya menekan pedal, pengendara harus bisa mengontrol tekanan secara bertahap.

– Regenerative braking. Kendaraan EV otomatis melambat saat pedal dilepas. Ini mengubah kebiasaan dasar berkendara, karena perlambatan tidak selalu diikuti sinyal yang cukup jelas bagi pengendara belakang.

Dalam banyak kasus, mobil di belakang baru menyadari perlambatan saat jarak sudah terlalu dekat. Ini dapat memicu rem mendadak atau bahkan tabrakan beruntun. Solusinya, pengemudi harus memahami mode-mode berkendara (Eco, Sport, Normal), karena setiap mode, mengubah level regenerative braking di kendaraannya. Sehingga jika dirasa perlu, pengemudi bisa memberi sinyal rem agar lebih aman bagi mobil di belakangnya.

– Metode 3 detik. Lupakan hitungan meter yang sulit diterapkan di kemacetan. Otak manusia lebih mudah membaca waktu dibanding jarak dalam kondisi dinamis. Dengan metode ini, pengemudi cukup melihat objek di depan dan memastikan ada jeda minimal 3detik sebelum mobil melewati titik yang sama.

Cara ini jauh lebih adaptif terhadap kecepatan yang berubah-ubah, sehingga jarak aman tetap terjaga tanpa harus menghitung secara kasar.

– Situational awareness. EV menuntut pengemudi membaca situasi lebih cepat karena respons kendaraan juga lebih cepat. Keterlambatan membaca kondisi bisa langsung berujung pada manuver yang tidak terkendali.

Pengemudi harus aktif memindai kondisi depan, samping, dan spion secara konsisten. Ini bukan kebiasaan tambahan, tapi bagian dari sistem pengambilan keputusan.

Setiap detik adalah kalkulasi. Pengemudi harus tahu kapan menahan, kapan maju, kapan berpindah. Ketepatan membaca situasi akan menentukan kualitas berkendara secara keseluruhan.

*Kondisi Fisik*

Teknologi sudah naik level. Pengemudi harus ikut naik.

– Fokus penuh. Respons kendaraan yang cepat membuat ruang kesalahan semakin kecil. Gangguan kecil seperti melihat ponsel atau kehilangan fokus sesaat bisa langsung berdampak besar.

Berbeda dengan kendaraan konvensional yang masih memberi jeda respons, EV mengeksekusi perintah hampir seketika. Artinya, perhatian pengemudi harus konsisten dari awal hingga akhir perjalanan.

– Kontrol emosi. Jalan raya adalah ruang interaksi dengan banyak karakter. Tanpa kontrol emosi, keputusan berkendara akan dipengaruhi impuls, bukan pertimbangan. Pada kendaraan dengan akselerasi instan, emosi yang tidak terkendali bisa langsung diterjemahkan menjadi gerakan agresif.

Pengemudi perlu menjaga ritme dan kesabaran, karena stabilitas emosi berbanding lurus dengan keselamatan di jalan. Ini berlaku untuk semua kendaraan. Bedanya, di EV efeknya lebih cepat, lebih tajam, dan lebih terlihat.

*Komitmen Periklindo*

Periklindo mendorong kendaraan listrik terus berkembang. Tapi arahannya jelas, yakni perkembangan teknologi harus diikuti peningkatan kualitas pengemudi.

Edukasi tidak berhenti di cara pakai. Harus masuk ke mindset. Adaptasi kognitif, pemahaman karakter kendaraan, dan disiplin berkendara harus jadi satu paket.

Operator transportasi perlu memastikan pelatihan berjalan serius dan konsisten. Program pelatihan harus membentuk kebiasaan, bukan sekadar formalitas administratif. Pengguna pribadi juga memegang peran besar. Mengendarai EV berarti siap belajar ulang, memperbaiki kebiasaan lama, dan membangun standar baru dalam berkendara.

Kendaraan listrik cepat, responsif, dan efisien. Mesin sudah berubah, tapi cara berpikir sering masih lama. Kalau adaptasi ini selesai, kendaraan listrik terasa presisi. Kalau tidak, potensi masalah akan terus berulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *