JAKARTA – JPNN untuk pertama kali mendapatkan tantangan dari PT. Sokonindo Automobile (DFSK) menjajal efisiensi minivan listrik DFSK Gelora E dari Jakarta sampai Bandung.

Dari sejumlah agen pemegang merek mobil listrik di tanah air, DFSK menjadi yang pertama memberi tantangan tersebut. Meski tak bisa dipungkiri mobil listrik berbasis baterai murni jauh lebih hemat dibandingkan mobil berbasis mesin pembakaran internal (ICE), tetapi tantangan DFSK itu tetap menarik.

Apalagi jika konsumsi listriknya dikonversikan ke Rupiah. Penasaran? Rasa itu pun mengantarkan JPNN pada Rabu (15/3) pagi, tiba di Stroom Coffee, PLN UID Jakarta Raya, Gambir, Jakarta Pusat.

Dimulai dengan segelas kopi panas (Hot Cappucino), deretan Gelora E yang sudah diisi penuh daya listriknya siap digeber sejauh 157 km. Sekali pengecasan penuh, DFSK Gelora E diklaim bisa menempuh jarak hingga 300 kilometer.

Pengisian daya baterai menggunakan sistem fast charging hanya membutuhkan waktu kurang lebih 80 menit.

Selama perjalanan, setiap minivan listrik yang diproduksi di pabrik DFSK, Cikande, Banten itu dimuati beban tambahan yaitu semen dengan total berat 500 kg. “Mobil listrik itu banyak yang khawatir dengan baterainya. Hari ini kami coba bawa Gelora E ke Bandung bersama teman-teman, apakah cukup atau tidak baterainya dengan membawa muatan,” buka Chief Operating Officer PT. Sokonindo Automobile Franz Wang, saat pelepasan Media Challenge DFSK Gelora E Jakarta – Bandung, Rabu (15/3). Karakter mobil listrik dengan torsi yang melimpah sejak pedal gas diinjak, membuat kami tidak khawatir memanfaatkan mode E (eco) sepanjang perjalanan. Terlebih kegiatan tersebut dilombakan, sehingga pilihan mode E sangat tepat. Impresi selama berkendara juga cukup menyenangkan dengan tenaga yang dihasilkan instan. Kenyamanan melibas jalan tidak rata juga terbilang cukup untuk kelas mobil niaga. Tidak ada kendala yang berarti, meskipun awal-awal sempat kagok dengan bunyi mendengung saat mobil berjalan di bawah 30 kpj.

Ternyata hal itu bagian dari fitur DFSK Gelora E yang berfungsi sebagai peringatan bagi pejalan kaki, bahwa ada mobil di sekitar mereka. Guna mendapatkan hasil terbaik, JPNN hanya mematok kecepatan mobil di 60 kpj – 70 kpj. Hasilnya, dari 100 persen baterai setelah menempuh perjalanan sejauh 157 km, yang tersisa di layar multi information display (MID) sebesar 37 persen.

Artinya, perjalanan tersebut menghabiskan baterai 63 persen. Adapun kapasitas baterai dari Gelora E ialah 42 kWh. Jika dikalkulasikan, total pemakaian baterai selama perjalanan sebanyak 26,46 kWh, hasil dari 42 kWh dikalikan 63 persen. Dengan total jarak tempuh Jakarta – Bandung yang sejauh 157 km maka 1 kWh dapat menempuh jarak 5,93 km.

Jika dirupiahkan, untuk menempuh jarak 157 km, biaya yang dibutuhkan hanya Rp 44.955. Angka tersebut diperoleh dari 26,46 kWh dikalikan Rp 1.699. Angka Rp 1.699 merupakan tarif listrik per kWh pada daya 3.500 VA (listrik rumah tangga). DFSK Gelora E sendiri bisa diisi daya menggunakan listrik rumah tangga dengan daya minimal 3.500 VA. Artinya, cukup biaya setara segelas kopi pagi, Gelora E bisa membawa Anda bertamasya dari Jakarta sampai Kota Bandung. Menarik bukan?

Sumber dari:

https://www.jpnn.com/news/media-challange-dfsk-gelora-e-segelas-kopi-untuk-jakarta-bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *