Dulu, jauh sebelum manusia sibuk membahas charging station, artificial intelligence, atau kendaraan tanpa awak, dunia pernah dipenuhi orang-orang yang gemar membayangkan masa depan. Salah satunya datang dari ilustrator Prancis, Jean-Marc Côté.
Pada awal tahun 1900-an, saat sebagian besar manusia masih hidup dengan teknologi sederhana, ia sudah menggambar kota futuristik dengan kendaraan melayang, transportasi udara antar gedung, sampai mesin-mesin otomatis yang terasa seperti khayalan. Gambarnya terlihat liar pada zamannya.
Terlalu maju untuk dipercaya. Tapi dari sanalah manusia mulai belajar satu hal penting: masa depan selalu lahir dari imajinasi orang-orang yang berani bermimpi terlalu jauh.
Lalu waktu berjalan pelan. Generasi berikutnya tumbuh bersama Doraemon. Anak-anak melihat pintu ke mana saja, bambu terbang, alat futuristik dari kantong ajaib, lalu tertawa sambil membayangkan dunia modern suatu hari nanti. Tanpa sadar, komik dan cerita seperti itu menanamkan sesuatu yang besar ke kepala manusia: keyakinan bahwa teknologi akan terus membawa peradaban menuju bentuk baru.
Hari ini, sebagian mimpi itu mulai terasa dekat. Manusia mulai melihat taksi terbang tanpa awak diuji coba di berbagai negara. Kendaraan autonomous bergerak semakin cerdas. Mobilitas ruang udara mulai dibahas serius, termasuk soal keamanan, jalur penerbangan kota, sampai regulasi langit masa depan. Dunia perlahan bergerak menuju era yang dulu hanya hidup di halaman komik dan film-film futuristik.
Lucunya, ketika kendaraan listrik mulai masuk ke kehidupan sehari-hari, respons sebagian manusia justru penuh drama. Padahal kendaraan listrik mungkin menjadi salah satu penanda terbesar bahwa dunia sedang bergeser menuju fase baru peradaban modern. Memang belum sampai tahap mobil beterbangan di atas gedung Jakarta. Tapi fondasinya mulai dipasang sekarang.
Karena inti perubahan besar ini sebenarnya berada di energi. Dunia mulai sadar bahwa pola lama makin sulit menopang kebutuhan zaman. Harga energi global gampang terguncang konflik geopolitik. Kota besar semakin sesak. Polusi semakin berat. Mobilitas manusia terus melonjak dari tahun ke tahun. Semua perlahan mendorong dunia menuju arah yang sama: elektrifikasi.
Dan menariknya, perubahan besar selalu lahir lewat bentuk yang awalnya terlihat sederhana. Charging station mulai muncul di banyak sudut kota. Industri baterai berkembang cepat. Kendaraan listrik mulai terasa biasa di jalan raya. Anak-anak kecil mulai melihat mobil tanpa suara sebagai sesuatu yang normal. Sejarah teknologi memang sering bergerak seperti itu. Awalnya ditertawakan. Setelah beberapa tahun, berubah jadi bagian hidup sehari-hari.
Internet pernah dianggap aneh. Smartphone pernah dianggap cuma gaya hidup mahal. Bahkan media sosial dulu sering dituduh sekadar tren sementara. Hari ini kendaraan listrik sedang berjalan di jalur yang sama. Ada yang masih sinis, ada yang kesal, ada yang bingung melihat perubahan datang terlalu cepat. Padahal zaman terus bergerak tanpa menunggu siapa pun siap.
Di tengah perubahan besar itu, Periklindo ikut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang menuju masa depan. Sebab masa depan modern tidak tercipta dari satu produk viral atau satu teknologi keren semata. Perlu industri yang tumbuh serius. Perlu infrastruktur yang terus dibangun. Perlu edukasi publik. Perlu ruang yang mempertemukan teknologi dengan masyarakat luas.
Mungkin beberapa tahun lagi manusia benar-benar hidup di era kendaraan udara massal. Langit kota dipenuhi mobilitas tanpa awak. Jalan raya berubah fungsi. Cara manusia berpindah tempat ikut berubah total.
Tapi sebelum semua itu terjadi, dunia sedang melewati fase yang jauh lebih penting. Fase ketika manusia mulai mengganti fondasi peradabannya pelan-pelan. Dan menariknya, semua itu mulai terasa dari jalanan.